Istri bekerja, suami di rumah. Wajarkah?

Bagaimana jika kita membalik posisi suami dan istri dalam pandangan masyarakat? Seorang suami Menjadi Bapak Rumah Tangga. Apa pendapat Anda?

1,547 views   |   7 shares
  • Lazimnya, kewajiban sebagai pencari nafkah keluarga ada di tangan seorang suami. Pandangan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Baik dalam pandangan konstruksi sosial maupun agama. Ayah bekerja, ibu mengurus rumah tangga dan anak.

  • Namun seiring berjalannya waktu, pandangan tersebut sudah mulai berubah. Emansipasi wanita muncul di mana banyak wanita pun tidak ingin tinggal diam berkontribusi untuk masyarakat dan lingkungannya lewat dunia kerja. Banyak wanita yang membuktikan mampu menjadi pemimpin, banhkan di dunia kerja yang didominasi oleh pria. Namun tidak jarang juga wanita yang terpaksa bekerja untuk memenuhi ekonomi keluarga.

  • Namun bagaimana jika peran diubah, para istri yang bekerja mengejar karir dan memenuhi ekonomi rumah tangga, sedangkan pria berada di rumah mengurus dan merawat anak? Tentu tidak sejalan dengan pandangan agama dan masih banyak pro kontra dalam masyarakat.

  • Namun, selalu ada alasan di balik kondisi ini. Apa saja itu? Bisa jadi karena suami jauh lebih cekatan mengurus rumah dan istri yang lebih tangguh mengejar karir, atau karena bidang pekerjaan suami yang dapat membuat mereka fleksibel berada di rumah dan bekerja dari rumah, atau perusahaan tempat dulunya suami bekerja tutup, lalu belum dapat pekerjaan baru hingga akhirnya kondisi menjadi lebih nyaman.

  • Bagaimanapun alasannya, tentu keputusan tersebut semau dilakukan atas kesepakatan bersama dan tujuannya untuk kebahagiaan keluarga bukan? Salah satu pasangan berada di rumah memastikan kondisi rumah berjalan dengan semestinya, adalah hal yang baik ketimbang kurangnya kontrol terhadap rumah akibat suami istri yang sibuk mengejar karir.

  • Jangan karena sibuk mencari nafkah, anak menjadi terbengkalai dan pengasuhan anak terpaksa diserahkan kepada orang lain. Jika memang penghasilan istri lebih tinggi dan dapat menutupi kebutuhan seluruh keluarga, kenapa tidak bertukar peran sebagai pencari nafkah?

  • Dalam bertukar peran, suami istri harus benar-benar patuh pada konsekuensinya. Suami harus berkomitmen mengasuh anak, mengurus segala kebutuhan rumah, dan melakukan tugas dan perannya sebagai Bapak rumah tangga. Sebaliknya istri pun harus komitmen bekerja, tidak mengeluh dan menyalah-nyalahkan suami ketika merasa lelah untuk bekerja.

  • Jadi menurut saya, istri bekerja dan suami dirumah, wajar-wajar saja. Selama masing-masing bersedia berganti peran tanpa paksaan, dan menjalankannya tanpa keluhan. Dan perlu diingat pula, walau wanita adalah pencari nafkah dalam kaluarga, suami tetap harus dihormati sebagai kepala keluarga. Bagaimana menurut Anda?

  • Advertisement
Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Saya lulus dari Institut Kesenian Jakarta, dengan Jurusan Musikologi. Kebahagiaan saya adalah membangun rumah tangga harmonis bersama suami dan bersamanya membesarkan putra semata wayang kami. Menjadi guru musik dan dapat berbagi pengalaman hidup dengan menulis adalah kegemaran saya.

Istri bekerja, suami di rumah. Wajarkah?

Bagaimana jika kita membalik posisi suami dan istri dalam pandangan masyarakat? Seorang suami Menjadi Bapak Rumah Tangga. Apa pendapat Anda?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr