Dibutuhkan: Pengasuh Anjing Peliharaan

“Ibu, aku mohon, apakah kita boleh membawanya pulang, boleh ya ibu? Kami berjanji akan merawatnya!”

576 views   |   shares
  • “Ibu, aku mohon, apakah kita boleh membawanya pulang, boleh ya ibu? Kami berjanji akan merawatnya!”

  • Harus saya akui anak anjing itu sangat lucu dan menggemaskan. Dengan mukanya yang lucu bagaikan memakai topeng di matanya, serta bintik-bintik hitam dan warna belang diperutnya. Dia menjilat tangan saya. Dia menyukai saya. Tentu saja, saya berkata “ya.”

  • Anak-anak saya menepati janji mereka. Mereka memberinya makan, menyisir dan menyikatnya, membawa ke luar rumah untuk membuang kotorannya dan bermain bersamanya. Saya berpikir, hal ini terlihat lebih mudah dari yang saya bayangkan.

  • Lalu, setelah berjalan sekitar satu minggu, saya perhatikan ada semacam bau tertentu yang merebak dari halaman belakang rumah. Kotoran kecilnya berserakkan di mana-mana. Namun, tidak ada seorang pun yang bersedia untuk mengambil dan membuangnya. Saya harus melakukan sesuatu agar anak-anak bersedia dalam rutinitas mereka untuk melakukan tugas ini.

  • Pertama, saya menggunakan dengan ajakan yang tepat: membujuk mereka. Itu adalah cara yang jitu dari setiap orang tua. Saya pikir dengan memberi mereka Rp500 untuk setiap kotoran yang mereka bersihkan. Saya memulai untuk menghitung. Anak anjing ini membuang kotorannya sehari 3 kali. Dengan perhitungan 365 hari dalam setahun, saya menghitung sekitar Rp547.500! Tahukah Anda berapa banyak pasang sepatu yang bisa saya beli dengan uang sebanyak itu? berapa banyak acara kencan malam yang dapat dilakukan dengan suami saya? Berapa banyak kotak coklat yang bisa di beli? Oh tidak. Hal tersebut adalah terlalu banyak untuk dikorbankan. Saya harus menemukan cara yang lebih baik dari itu.

  • Kemudian, saya mempertimbangkan sebuah hukuman. Saya teringat kisah dari ibu mertua saya mengenai bagaimana dia mengajari anak-anaknya untuk membuang air sendiri.

  • “Jika mereka mengompol, maka saya akan menyuruh mereka untuk menciumnya.”

  • Saya memperhatikannya dengan penuh ketakutan.

  • “Oh, tunggu,”dia berkata. “Saya pikir itu kotoran anjing.”

  • Saya sempat tergoda untuk melakukan metodenya. Namun, saya mengasihi anak-anak saya, saya sangat mengasihi mereka. Saya tidak ingin melepaskan anak-anak saya kepada dinas sosial. Jadi, saya harus mempertimbangkan untuk menggunakan cara itu.

  • Akhirnya, saya mencoba metode rasa bersalah.

  • “Ini adalah satu-satunya cara yang adil,”saya mengatakan kepada anak lelaki saya.” Tahukah kamu sudah berapa banyak pempers dan popok kotoran yang telah saya bersihkan untuk kamu? Satu juta! Setidaknya. Mungkin dua juta.”

  • Advertisement
  • Saya mengarahkan mata saya dan menunjuk ke dadanya, tegas, dengan jari telunjuk saya.

  • “Kamu berhutang kepada ibu.”

  • Dia mengalihkan pandangan dan kembali pada permainan video gamenya. Rupanya, dia mendengar cerita “ketika saya melahirkannya saya harus menunggu 9 jam yang menyakitkan, dan para dokter menusukkan jarum yang sangat besar di tulang belakang saya agar saya dapat bertahan sampai anak saya ke luar dari rahim saya, lalu dia menangis selama 9 bulan sampai cerita saya merasa seperti mayat hidup yang berjalan” sering sekali, saya membandingkan dengan seberapa banyak menggantikan popok.

  • Lalu, suatu hari, anak anjing itu membuang kotoran di tanaman bunga saya.

  • Saya berpikir. Mungkin ini adalah hal yang baik. Maksud saya, saya membeli begitu banyak makanan anjing untuknya, makanan dari bahan-bahan bergizi, bukankah begitu? Saya bisa menghemat biaya pembelian pupuk. Saya hanya perlu menutupi kotoran kecil itu dengan tanah dan berharap dapat menjadi pupuk tanaman pada musim panen ketika saya memulai menanam tomat. Mungkin saya bisa melatihnya untuk buang air kecil di rumput saya juga.

  • Menjadi orang tua sama seperti memilih sebuah pertempuran. Saya mungkin kalah dalam pertempuran untuk membiasakan anak-anak saya membersihkan kotoran anjing peliharaan kami, namun akan ada banyak cara untuk memenangkan pertempuran yang lain. Mungkin saya dapat mengajarkan mereka untuk membersihkan kamar mandi. Saya bisa juga selalu mencoba metode atau cara dari ibu mertua saya.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Syane Nathalia dari artikel asli "Help wanted Puppy pooper scooper" karya Shelli Proffitt Howells.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Shelli Proffitt Howells is a BYU graduate, a creative writer, a happy wife and a mother of six.

Situs: http://shelliproffitthowells.comWebsite

Dibutuhkan: Pengasuh Anjing Peliharaan

“Ibu, aku mohon, apakah kita boleh membawanya pulang, boleh ya ibu? Kami berjanji akan merawatnya!”
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr