Mengasihi Tidak Selalu Berarti “Ya” Untuk Anak-Anak Kita

Tidak diragukan lagi bahwa adalah tanggung jawab orang tua di mana pun untuk mengasihi anak-anaknya, dan untuk berusaha memenuhi setiap kebutuhan mereka. Tetapi terkadang tanpa sadar, hal itu disalahartikan sebagai memanjakan.

1,781 views   |   3 shares
  • Tidak diragukan lagi adalah tanggung jawab orang tua dimanapun untuk mengasihi anak-anaknya, dan untuk berusaha memenuhi setiap kebutuhan mereka. Tetapi terkadang tanpa sadar, “mengasihi dan memenuhi kebutuhan anak-anak” disalah artikan sebagai “memenuhi setiap keinginan mereka”. Dan hal yang bermula dari rasa mengasihi justru bisa mengarah ke memanjakan, dan jika dibiarkan, tidak akan baik bagi pertumbuhan anak. Seorang anak yang dimanjakan dengan terlalu berlebihan, ketika tumbuh dewasa cenderung akan menjadi pribadi yang egois, manipulatif, mau menang sendiri, dan rentan oleh rasa marah, benci, iri, dengki dan yang lebih parah, serangan depresi ketika apa yang dia inginkan tidak bisa didapatkan.

  • Sayangnya, sekarang ini banyak orang tua yang salah persepsi tentang konsep menyayangi. Saya sering melihat dan mendengar para orang tua yang berprinsip bahwa dengan sebisa mungkin memberikan apa yang diinginkan oleh anak mereka adalah tolok ukur bagaimana mereka menyayangi anak-anak mereka. Dan itu biasanya dimulai sejak anak itu masih balita. Tak jarang saya melihat beberapa anak dari teman-teman saya, yang karena terbiasa mendapatkan apa yang mereka mau, akan merengek atau bahkan yang lebih parah meraung-raung ketika keinginan mereka tidak terpenuhi, tidak peduli jika mereka sedang berada di tempat umum sekalipun. Sering juga saya menemui kejadian serupa di pusat-pusat perbelajaan, taman bermain, bahkan juga angkutan umum, bagaimana seorang ibu atau ayah kebingungan ketika anaknya menangis meraung-raung untuk mendapat apa yang dia mau. Dan biasanya, si anaklah yang menang, alias pada akhirnya orang tuanya menyerah dan memenuhi keinginannya

  • Sebenarnya kita sebagai orang tua bisa menghindari hal tersebut atau, kalau saat ini hal tersebut sudah terlanjur terjadi, menghentikannya. Yang pertama harus diubah adalah cara pandang kita terhadap konsep menyayangi. Tanamkan dalam pikiran kita, bahwa menyayangi tidak selalu mengatakan “ya” untuk setiap keinginan anak kita. Bayangkan jika anak kita tumbuh dewasa, dan harus menghadapi dunia nyata dimana tidak semua orang, tidak semua hal dan tidak semua kesempatan akan mengatakan “ya” padanya. Memberi dan menyetujui setiap keinginan anak juga membuat si anak tidak mengenal pentingnya kerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Dan karena dia tidak tahu bagaimana bekerja keras untuk mendapatkan apa yang dia mau, si anak akan cenderung untuk kurang menghargai apa yang dia dapat. Selanjutnya, dia akan menjadi pribadi yang kurang bersyukur.

  • Advertisement
  • Langkah selanjutnya adalah mulai mengubah sikap kita. Mulailah bersikap tegas. Ingat, tegas tidaklah selalu identik dengan bentakan, suara keras atau hal-hal kasar lainnya. Kita bisa tetap bersikap lembut, penuh kasih sekaligus tegas. Ketika si anak meminta hal yang menurut kita tidak perlu, atau malah tidak baik, katakan tidak dengan tegas. Untuk anak-anak yang masih berusia dini, membiasakan hal itu tidak akan mudah. Tetapi kita harus tetap mulai melakukannya. Dan ketika anak kita mulai merengek atau menangis, atau bahkan mulai meraung-raung dan berguling-guling di lantai, jangan menyerah dengan memberikan apa yang dia mau. Jika orang tua menyerah setiap kali si anak mulai merengek atau menangis, maka selanjutnya si anak akan menggunakan hal tersebut sebagai senjata untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Itu akan membangun sifat manipulatif dalam diri si anak.

  • Hindari untuk memukul atau membentak si anak ketika dia mulai merengek atau menangis karena hal itu justru akan memicu rengekan dan tangisan yang lebih keras. Alih-alih, peluklah dia untuk menenangkan. Jika hal tersebut terjadi di depan banyak orang, bawalah anak Anda menjauh. Biasanya anak akan menjadi susah dikontrol ketika dia merasa diperhatikan oleh orang lain saat melakukan aksi merengeknya. Ajaklah dia bicara, dengan lembut tetapi tegas, alasan mengapa Anda tidak memberi apa yang dia mau. Hal yang perlu diingat ketika berbicara dengannya, janganlah melakukan barter. Beberapa orang tua, terkadang terjebak melakukan barter ketika membujuk anak mereka. Ketika si anak menangis karena tidak mendapatkan barang A, maka orang tua akan membujuknya dengan menjanjikan untuk membelikan barang B. Padahal bukan itu tujuannya. Jika seperti itu, anak tidak akan pernah belajar untuk menerima kata “tidak” . Dan setelah si anak tenang dan bisa menerima keputusan kita, jangan lupa untuk memberitahu dia bahwa kita mengasihinya.

  • Hal lain yang tidak kalah penting dalam proses ini adalah bagaimana orang tua, ayah dan ibu, bisa bekerja bersama menyamakan pendapat dan sikap. Dalam beberapa kasus, ada orang tua yang tidak seiring sejalan. Semisal si ibu mengatakan tidak, tetapi pada akhirnya si anak mendapatkan keinginannya dari si ayah, ataupun sebaliknya. selain si anak tidak akan pernah belajar, hal ini juga akan memicu si anak untuk mengadu kedua orang tuanya. Sebagai orang tua, kita diharapkan untuk saling berkomunikasi dan menjadi satu dalam sikap, tindakan, dan cara untuk mendidik dan menyayangi anak-anak kita.

  • Advertisement
  • Mengasihi anak-anak kita tidak diragukan lagi adalah hal utama yang harus dilakukan oleh orang tua. Tetapi perlu diingat, mengasihi juga terkadang berarti “tidak” untuk hal-hal yang kita tahu tidak lah begitu dibutuhkan, atau malah mungkin tidak baik bagi anak-anak kita. Marilah kita belajar untuk menjadi orang tua yang lebih bijaksana dan lebih baik.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

It is my sincere desire and hope that my writing will positively influence readers, and help them be better and happier.

Mengasihi Tidak Selalu Berarti “Ya” Untuk Anak-Anak Kita

Tidak diragukan lagi bahwa adalah tanggung jawab orang tua di mana pun untuk mengasihi anak-anaknya, dan untuk berusaha memenuhi setiap kebutuhan mereka. Tetapi terkadang tanpa sadar, hal itu disalahartikan sebagai memanjakan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr