Filosofi di balik tradisi 'sungkeman' dan sejarahnya

Sungkeman adalah ajakan kebaikan untuk menyadarkan, mendisiplinkan serta menghilangkan sikap ego di dalam diri.

3,641 views   |   7 shares
  • Mungkin sebagian dari kita menganggap salaman adalah hal yang biasa, lumrah karena setiap orang melakukannya dalam kegiatan sehari-hari. Namun, ada satu sisi dari tradisi salaman yang tergolong unik, yaitu sungkeman.

  • Seperti kita telah ketahui Indonesia adalah negara yang unik, tidak hanya kaya akan panorama alam memukau, budaya masyarakatnya pun sangat luhur. Kembali mengenai sungkeman, sungkem memiliki arti bersimpuh atau duduk berjongkok sambil mencium tangan orang yang lebih tua, biasanya adalah orangtua kita.

  • Di Indonesia sendiri tradisi sungkeman telah dilakukan secara turun-temurun sejak entah berapa tahun yang lalu. Khususnya di masyarakat suku Jawa, sungkeman tercatat telah dilakukan pada masa pemerintahan KGPAA, Sri Mangkunegara I, di mana pada waktu itu beliau bersama prajuritnya berkumpul bersama dan saling bermaafan saaat merayakan hari raya Idulfitri. Bahkan, pada tahun 1930, saat terjadi prosesi sungkeman di gedung Habipraya, Belanda nyaris saja menangkap Ir. Soekarno dan dr. Radjiman Widyodiningrat yang waktu itu menjabat sebagai dokter pribadi Sri Paku Bowono X, raja keraton Surakarta. (www.kompasiana.com)

  • Mengingat betapa luhurnya nilai-nilai sungkeman, mari kita cari tahu apa saja makna yang terkandung dari tradisi ini. Dikutip dari beberapa sumber, berikut rangkumannya.

  • Ritual penyadaran diri

  • Melalui sungkeman setiap orang diajak untuk menyadari bahwa dirinya bukanlah apa-apa tanpa hadirnya orangtua dalam kehidupannya. Sehingga orangtua wajib diperlakukan secara hormat oleh seluruh anak-anaknya.

  • Melatih kerendahan hati

  • Sungkeman adalah ajakan kebaikan untuk menyadarkan, mendisiplinkan serta menghilangkan sikap ego di dalam diri. Hal ini terlihat dari bagaimana cara seseorang merendahkan tubuhnya dan dengan tulus "menyembah" orang yang telah berjasa dalam hidupnya.

  • Wujud ucapan rasa terima kasih

  • Khususnya dalam pernikahan kedua mempelai biasanya akan menjalani ritual sungkeman kepada orangtua kedua belah pihak. Prosesi ini adalah wujud rasa terima kasih dari anak kepada orangtuanya yang telah berjasa melahirkan dan membesarkannya. Selain itu, sungkeman adalah awal bagi anak untuk meminta izin kepada orangtua sebelum memasuki kehidupan berumah tangga serta memohon doa dan restu dari mereka berdua. (Upacara Perkawainan Adat Sunda, Pustaka Sinar Harapan, 1990)

  • Wujud rasa sesal dan permohonan maaf

  • Advertisement
  • Setiap orang tidak luput dari perbuatan salah, bahkan dalam hubungan antara orangtua dan anak hal ini kerap terjadi. Di sinilah nilai luhur sungkeman terbukti ampuh untuk memulihkan kembali hubungan yang telah rusak, di mana rasa sakit hati terobati dan rasa percaya dipulihkan.

  • Jika digali lebih dalam masih ada banyak nilai-nilai luhur sungkeman yang bisa kita pelajari. Namun, yang terpenting saat ini adalah bagaimana budaya sungkeman mampu dilestarikan sebagai salah satu warisan leluhur yang layak kita banggakan sebagai orang Indonesia.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Saya seorang guide paruh waktu di Bali, anak kedua dari 5 bersaudara. Saya sangat menyukai alam dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara.

Filosofi di balik tradisi 'sungkeman' dan sejarahnya

Sungkeman adalah ajakan kebaikan untuk menyadarkan, mendisiplinkan serta menghilangkan sikap ego di dalam diri.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr