Apakah saya termasuk pelaku kekerasan pada anak? Mari evaluasi diri

Kekerasan pada anak tak hanya berbentuk kegiatan fisik seperti seksual maupun pemukulan, namun juga berbentuk psikis. Dan ini dampaknya tak kalah buruk dari penyiksaan fisik. Yuk kita evaluasi diri lagi

584 views   |   6 shares
  • Kekerasan seksual, pemukulan, kekerasan dalam rumah tangga, bullying di sekolah, belakangan semakin marak terdengar dalam berita. Menyedihkan dan mendebarkan ya, bagi kita, para orangtua. Sebuah artikel di CNN, menuliskan bahwa studi jangka panjang yang telah dilakukan selama 50 tahun oleh para ahli dari University of Texas di Austin dan University of Michigan, menemukan fakta soal 80 persen orangtua pernah memukul anaknya.

  • Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Family Psychology tersebut melibatkan lebih dari 160.000 anak-anak. Dampaknya; selain menentang orangtua, pukulan membuat anak rentan mengalami peningkatan perilaku anti-sosial, sikap agresif, masalah kesehatan mental hingga kesulitan kognitif.

  • "Kebanyakan orangtua, khususnya di Amerika, kini menganggap memukul anak bukanlah termasuk perilaku kasar," kata Elizabeth Gershoff, seorang profesor keluarga dan ilmu manusia di The University of Texas di Austin. "Padahal, kami menemukan bahwa memukul berkaitan dengan efek yang merugikan, yang tidak diinginkan, dan tidak berhubungan dengan tujuan mendisiplinkan anak-anak."

  • Ya, selain pukulan, kekerasan terhadap anak pun tidak hanya berwujud kekerasan seksual atau fisik. Sadarkah kita bahwa kita-mungkin-pernah menyakiti perasaan anak dengan kata-kata? Memang tidak ada orangtua yang ingin menyakiti anaknya. Tetapi ada perbuatan, sikap sehari-hari dan kata-kata yang justru mencederai emosi anak dan hal ini disebut kekerasan psikis.

  • Para pakar kejiwaan menyimpulkan bahwa ada 'pertarungan' emosi yang terbawa sejak kecil saat anak mengalami kekerasan. Mereka tidak hanya tertekan, tetapi ingin membalas dendam kendati mereka tak mampu. Alhasil, mereka pun membalas dendam kepada yang lemah saat mereka merasa mampu. Kekerasan atau pelecehan, dalam bentuk apa pun, tetap menggoreskan luka hati mendalam pada anak. Namun, kekerasan psikis justru menimbulkan kekecewaan mendalam.

  • Menurut Dr Laura Markham di laman AHA Parenting, jika Anda ingin tahu rasanya diteriaki, dicerca, bahkan dipukul oleh orangtua, bayangkan pasangan Anda kehilangan kesadaran dan memarahi Anda, namun ukurannya 3 kali lebih besar dari Anda. bayangkan, Anda sangat bergantung pada orang itu sepenuhnya untuk makanan, tempat tinggal, keamanan dan seluruh hidup. Ia adalah satu-satunya sumber cinta, kenyamanan, informasi dan Anda tak punya tempat lain untuk pergi. Lalu ingat-ingat lagi setiap perasaan yang Anda pernah alami, kumpulkan jadi satu dan kalikan seribu. Itulah yang terjadi dalam diri si kecil saat Anda marah besar.

  • Advertisement
  • Jangankan pada anak, beberapa kasus bunuh diri yang dilakukan oleh orang dewasa pun disebabkan karena tekanan psikis di lingkungan kerja dan keluarga. Bentuk kekerasan psikis tidak hanya berwujud pada kekerasan verbal seperti makian, melempar tuduhan, meremehkan atau bahkan mencela ungkapan hati si anak.

  • Beberapa orangtua-semoga Anda tidak termasuk di dalamnya-tidak menyadari bahwa imbas pelecehan psikis tersebut justru menjadi bom waktu yang entah kapan akan meledak dengan kekuatan maha dahsyat. Apa sajakah yang termasuk kekerasan psikis pada anak? berikut seperti dilansir asianparent:

  • Malas menunjukkan kasih sayang dan perhatian

  • Anda kerap marah saat si anak mengajak Anda untuk bermain sepulang kerja? Aduh. Padahal sentuhan adalah hal yang sangat berarti bagi si kecil. Tentu saja, dalam hal ini adalah sentuhan positif seperti memeluk, mencium dan bercanda.

  • Mengisolasi anak

  • Tidak sedikit orangtua mengunci anak dalam kamar mandi untuk 'merenungi' perbuatan 'nakal' nya. Padahal, terkunci dalam suatu ruangan, entah itu besar ataupun kecil, membuat emosi anak terpancing untuk memberontak. Jika hal ini dilakukan berulang-ulang, maka anak akan merasa dipisahkan dari dunianya yang menyenangkan di mana hal ini menjadi cikal bakal kepribadian ganda.

  • Terlepas dari kepribadian dan karakter asli si anak, kekerasan psikis akan berakibat: Minder, depresi, bingung akan berbuat apa, agresif, mudah marah, mudah menangis, sulit memertahankan hubungan stabil, dan anti sosial.

  • Kekerasan terhadap anak ternyata sangat berpengaruh pada perkembangan emosinya. Luka kekerasan psikis memang tidak dapat divisum, namun akan membekas seumur hidup, tanpa dapat diketahui dan dirasakan siapa pun, kecuali oleh korban.

  • Marah adalah perasaan wajar, semua orang pasti pernah mengalaminya. Namun justru itulah tantangannya; untuk memanggil kedewasaan diri dalam mengontrol ekspresi kemarahan, bukan?

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Apakah saya termasuk pelaku kekerasan pada anak? Mari evaluasi diri

Kekerasan pada anak tak hanya berbentuk kegiatan fisik seperti seksual maupun pemukulan, namun juga berbentuk psikis. Dan ini dampaknya tak kalah buruk dari penyiksaan fisik. Yuk kita evaluasi diri lagi
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr