Tingkatkan kepekaan kita terhadap tanda-tanda kekerasan seksual ini

Kekerasan seksual pada anak di bawah umur kini marak di berita. Betapa mengerikan membayangkan anak-anak harus mengalaminya. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengatakan dengan tegas kata TIDAK pada kekerasan seksual.

425 views   |   1 shares
  • Belakangan ada begitu banyak berita yang memaparkan makin maraknya kasus pelecehan seksual pada anak. Amat mengerikan menyaksikan kisah-kisah mengenai kekerasan seksual yang bisa dilakukan seseorang kepada mereka yang masih dibawah umur. Data yang dihimpun psikolog klinis dan psikolog forensik, Dra A. Kasandra Putranto, sejak 1995 hingga 2015, jumlah kasus kekerasan seksual pada anak cenderung terus meningkat.

  • Yang lebih mengerikan lagi, lanjut Kasandra, "Pelaku kekerasan seksual pada anak-anak ini tak terbatas pada masyarakat umum saja, tapi juga para intelektual, bahkan beberapa dari mereka dikenal sebagai pejabat publik dan guru atau ulama."

  • Kasandra melihat, di tahun 2013 jumlah kekerasan terhadap anak secara umum, angkanya menurun, "Namun jumlah kekerasan seksual justru meningkat jadi 60 persen. Sejak Januari - Juni 2014 tercatat dari 1,039 kasus kekerasan dengan korban anak-anak, meningkat sebanyak 60 persen jadi 1,896 kasus, yang mana semuanya adalah kasus kekerasan seksual."

  • Nah, kekerasan pada anak ini tentunya bisa menimbulkan trauma mendalam dan berdampak buruk bagi tumbuh kembangnya. Secara psikis bisa berdampak jangka panjang hingga anak dewasa. Sayangnya, kebanyakan anak-anak tidak berani menceritakan kekerasan yang dialaminya kepada orangtua. Hanya sedikit pula kasus kekerasan anak yang dilaporkan.

  • Untuk itu, sangat penting bagi orangtua untuk lebih peka dan mengenali tanda-tanda anak mengalami kekerasan. Berikut beberapa tanda yang bisa menunjukkan anak mengalami kekerasan seksual seperti dikutip dari Boldsky.

  • 1. Sering menangis tanpa alasan

  • Anak selalu menangis ketika dibawa ke tempat penitipan anak, rumah teman Anda, sekolah, atau suatu tempat lainnya. Ia pun bisa menjadi lebih rewel dibanding biasanya. Orangtua harus segera mengajak bicara anak dan menanyakan apa yang terjadi.

  • 2. Akrab dengan informasi seksual

  • Pada kasus pelecehan seksual, bisa membuat anak menjadi sangat akrab dengan informasi seksual untuk orang dewasa. Muncul rasa ingin tahu yang melampaui usia mereka.

  • 3. Tubuh memar

  • Jangan anggap sepele ketika Anda menemukan tubuh anak memar ketika pulang ke rumah. Memar merupakan tanda kekerasan yang mudah dikenali.

  • 4. Perilaku mendadak berubah

  • Anak yang tadinya ceria, lemah lembut, kemudian berubah menjadi pemarah, tidak peduli, agresif, perlu Anda curigai mengalami kekerasan.

  • 5. Anak menghindari orang tertentu

  • Orangtua perlu bertanya-tanya ketika anak bersikeras menghindar dari orang tertentu tanpa alasan yang jelas. Seperti, takut ke sekolah, tak lagi berteman di komplek, atau lainnya. Itu merupakan isyarat pertama yang ditunjukkan oleh anak.

  • Advertisement
  • 6. Menyendiri

  • Anda juga perlu curiga jika anak tiba-tiba ingin selalu sendirian dan terlihat menyembunyikan sesuatu. Kekerasan bisa membuat anak menjadi lebih takut bertemu orang lain.

  • 7. Nyeri saat berjalan

  • Jika anak mendapat pelecehan seksual, ia bisa mengalami pendarahan, alat kelamin terasa gatal dan memar. Ketika anak merasa nyeri saat duduk maupun berjalan dan sulit melakukan aktivitas fisik seperti biasa, itu bisa menjadi tanda anak mengalami kekerasan.

  • 8. Anak selalu waspada

  • Tanda lain yang diamati pada anak-anak yang mengalami pelecehan adalah mereka menjadi selalu lebih waspada. Mereka bisa terlihat ketakutan dan cemas tentang sesuatu hal buruk yang akan terjadi.

  • 9. Gejala aneh

  • Anak yang mengalami kekerasan juga bisa mengalami perubahan kebiasaan, seperti susah tidur, hilang napsu makan, hingga menjadi terlalu protektif terhadap anak-anak di sekitarnya. Atau kadang ia menjadi penakut dan bersikap kekanak-kanakan

  • Menurut Roslina Verauli, Psi., dampak psikologis akan sangat terasa berat dan sulit dihilangkan oleh korban. Bahkan, tidak hanya itu saja, akibat kekerasan seksual yang dialami korban, akan timbul juga trauma lingkungan. "Jadi, nggak hanya Si Anak yang mengalami trauma, tetapi juga ibu, bapak bahkan keluarga besar akan mengalami trauma. Sangat sulit untuk menghilangkan trauma tersebut. Butuh waktu yang panjang dan tentu saja proses psikoterapi," katanya.

  • Jadi, bukan hanya anak yang menjadi korban yang membutuhkan psikoterapi tetapi ibu dan anggota keluarga terdekat pun membutuhkan family counseling. "Harus ada dukungan yang kuat untuk anak dan ibu serta anggota keluarga," tandasnya.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Tingkatkan kepekaan kita terhadap tanda-tanda kekerasan seksual ini

Kekerasan seksual pada anak di bawah umur kini marak di berita. Betapa mengerikan membayangkan anak-anak harus mengalaminya. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengatakan dengan tegas kata TIDAK pada kekerasan seksual.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr