10 hal yang bisa Anda ajarkan pada anak tentang pernikahan

Pernikahan memang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa. Namun mengajarkan anak mengenai pernikahan tidak pernah terlalu cepat.

367 views   |   5 shares
  • Pernikahan seringkali dianggap sebagai fitrah semata. Bahwa setiap manusia pada akhirnya harus menemukan jodohnya, kemudian menikah dan membentuk keluarga. Demikian saja yang turun temurun ditanamkan. Orangtua biasanya terlalu fokus untuk mendisiplinkan anak, mengajarkan anak membentuk pola makan sehat, dan menguatkan pendidikan di sekolah. Sementara, topik soal menjalani hubungan dan pernikahan biasanya tersingkir dan baru diberikan sesaat sebelum anak menikah.

  • Menjadi ironis sebetulnya, sebab kebanyakan anak gadis membayangkan pernikahan hanya dari dongeng-dongeng, dan hanya mengenal bahwa menikah adalah akhir pencarian yang happily ever after. Begitu juga dengan anak laki-laki. Padahal, sebagai orangtua, kita bisa melakukan lebih banyak untuk membantu generasi selanjutnya agar mampu membangun keluarga dengan lebih baik, menanamkan cara-cara untuk menjalani hubungan sehat dan bahagia.

  • Maka, merupakan tanggung jawab orangtua untuk memberi pengetahuan penting soal pernikahan, perspektif yang benar dan menyingkirkan stigma pernikahan ala dongeng.

  • Pakar hubungan sekaligus penulis, Nancy Pina, menjelaskan pentingnya persiapan sebelum mengajarkan anak-anak Anda kelak apa yang harus mereka lakukan. Diskusikan dari awal masalah tersebut dengan pasangan sebelum memutuskan untuk menjalani pernikahan dan membentuk sebuah keluarga. Dengan membahas mengenai masalah ini dari awal, akan mengurangi risiko munculnya ketidakstabilan emosional yang dapat muncul pada anak Anda di kemudian hari.

  • Berikut adalah 10 hal yang bisa Anda ajarkan pada anak tentang pernikahan, seperti dilansir dari thedatingdivas.com dan patheos.com:

  • 1. Tuhan mendesain pernikahan untuk pasangan lelaki dan perempuan

  • Kita tidak bisa mengintimidasi takdir dan perintah Tuhan. Di semua ajaran agama telah jelas tertulis bahwa pernikahan dilakukan oleh lelaki dan perempuan, itu saja.

  • 2. Pernikahan adalah aku dan kami versus masalah, bukan aku melawan kamu

  • Menikah artinya berada didalam satu tim. Tidak ada persaingan antara suami dan istri, yang ada hanyalah kerja sama satu sama lain. Saling mendukung dan menempatkan "kita" sebelum "aku". Ini juga berlaku, meski dalam hubungan pernikahan banyak perbedaan antara suami dan istri. Sebab, menjadi tim, bukan berarti selalu seiya sekata. Berselisih pendapat harus diakhiri dengan solusi yang baik untuk melanjutkan kerja sama tim. Maka perbedaan sebetulnya amat baik.

  • 3. Menikah adalah memberi, bukan menerima!

  • Advertisement
  • Menikah bukan untuk Anda. Sebab menikah bukan dilakukan untuk membuat diri sendiri bahagia, namun justru membahagiakan pasangan. Sulit sekali diterima, sebab ini berarti membuang jauh-jauh rasa egois. Menikah adalah tentang memberi, membuat orang merasa dicintai dan dihargai.

  • 4. Menikah dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, bukan mengubah pasangan

  • Tugas Anda saat menikah adalah bertanggung jawab pada meningkatkan kemampuan diri sendiri, bukan menyalahkan pasangan dan menyuruhnya berubah. Karena semua harus berawal dari diri sendiri, dan orang tidak akan termotivasi untuk melakukan perubahan lewat kemarahan. Jadi tanamkan ke dalam diri anak bahwa dalam menjalani hubungan, akan lebih baik jika fokus pada hal-hal yang bisa dikontrol yakni perilaku, tindakan dan perasaan kita sendiri.

  • 5. Menikah adalah menyatukan dua orang

  • Tidak hanya menjadi satu rumah, satu kamar dan satu buku keuangan, namun juga menyatukan tradisi, kebiasaan, standar, tujuan akhir dan rencana. Untuk melakukannya butuh begitu banyak kerendahan hati, respek, rasa percaya dan komunikasi yang terbangun dengan baik. Maka, menjadi pendengar yang pengertian merupakan hal yang lebih baik ketimbang ngotot agar segala keinginan harus terpenuhi. Karena itu, bagian terbaik dari menikah adalah kita tak sendiri lagi menghadapi terjangan badai kehidupan.

  • 6. Menikah adalah tentang memaafkan, bukan hanya keadilan

  • Kita harus memberikan perspektif yang realistis dalam menjalani kpehidupan, kepada anak. Meski pernikahan itu menyenangkan, namun tak selalu indah setiap saat. Sebab setiap orang tak luput dari kesalahan, termasuk diri kita sendiri juga. Maka, pernikahan yang sehat terbangun dari dua orang yang pemaaf. Jika kita terlalu fokus dengan rasa ingin selalu benar, artinya kita lebih mendahulukan kepentingan pribadi ketimbang pernikahan.

  • 7. Menikah adalah perkara keintiman, bukan hanya seks

  • Kebanyakan orang kerap menganggap, hubungan seks adalah kunci untuk mempertahankan rasa cinta. Padahal sebaliknya, rasa cinta adalah kunci dari hubungan seks yang sehat antar pasangan. Maka, anak-anak harus paham bahwa perniikahan jauh lebih berharga ketimbang desiran hasrat seksual semata.

  • 8. Pernikahan adalah komitmen seumur hidup

  • Menikah, adalah pilihan. Maka, kita harus mengajarkan anak-anak bahwa kita tak sekadar jatuh cinta dan kemudian nantinya berlalu begitu saja. Cinta akan sirna saat kita berhenti memberikannya. Karena itu, jika kita tak ingin api cinta berhenti membara, maka kitalah yang harus terus menjaga kobarannya. Jika ada masalah, bukan berarti Anda menikahi orang yang salah. Ini justru berarti Anda mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama menghadapi masalah, kemudian membangun hubungan yang lebih kuat dan lebih terkoneksi lagi.

  • Advertisement
  • 9. Menikah bukan tujuan akhir, justru permulaan!

  • Ya, banyak orang merasa, menikah adalah gerbang akhir pencarian, dan the end; happily ever after. Padahal pernikahan justru langkah awal. Perspektif ini yang harus diubah. Sebab, jika kita merasa pernikahan merupakan awal, maka kita akan terus berusaha dan berjuang untuk menghadapi setiap tantangan yang datang seiring waktu berjalan. Kita juga tidak merasa pencarian berakhir dan berhenti berusaha mendapatkan cintanya, lalu menjalani pernikahan dengan membosankan. Padahal, layaknya biji yang baru ditanam, ia harus terus disirami dan diberi pupuk, dijaga dan disayang agar mampu tumbuh baik.

  • 10. Namun ingat, mengajarkan berarti memberikan contoh

  • Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Barangkali itulah kata-kata yang paling tepat mencerminkan mengapa pengaruh orangtua sangat besar dalam tumbuh kembang anak. Anak-anak mempelajari dan mencontoh perilaku orangtuanya dan kemudian mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bisa sampai ketika mereka menikah dan punya anak.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

10 hal yang bisa Anda ajarkan pada anak tentang pernikahan

Pernikahan memang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa. Namun mengajarkan anak mengenai pernikahan tidak pernah terlalu cepat.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr