Ini alasan mengapa menyusui anak merupakan sebuah anugerah

Selama perjalanan saya menjadi seorang ibu, salah satu lika-liku yang saya alami adalah menyusui anak saya. ASI merupakan anugrah bagi saya dan anak saya. Simak pelajaran berharga yang saya alami di masa menyusui si kecil berikut ini!

1,209 views   |   4 shares
  • Menjadi ibu, bagi saya adalah sebuah petualangan. Mendapatkan amanat untuk mengandung, melahirkan, dan membesarkan seorang bayi mungil, ternyata menghadirkan bab hidup yang penuh warna.

  • Selama perjalanan saya menjadi seorang ibu, salah satu lika-liku yang saya alami adalah menyusui anak saya, dengan tetesan cairan emas yang tak ternilai harganya. Air Susu Ibu (ASI), yang menghadirkan sederet manfaat sekaligus anugrah bagi saya dan anak saya.

  • Saya berhasil menyusui anak pertama saya selama 2 tahun dan anak kedua saya masih menyusui langsung di usianya menjelang 8 bulan. Sebuah kebanggaan untuk saya, dengan segala keterbatasan pengalaman saya sebagai seorang ibu.

  • Apa saja pelajaran berharga yang saya dapatkan dari perjalanan menyusui langsung kedua buah hati saya?

  • 1. Kebangkitan insting keibuan

  • Momen pertama kali anak saya berhasil menyusui begitu tak terlupakan. Saya dan dia sama-sama baru bertemu beberapa saat saja, meskipun bersatu di tubuh yang sama 9 bulan lamanya. Namun, gerakan perlahannya, menghisap tetesan berharga untuk kehidupannya, tak pernah gagal membuat saya meneteskan air mata haru. Seperti ada daya tarik yang begitu kuat menariknya ke posisi menyusui yang nyaman. Saya pun mengikuti naluri untuk membuatnya hangat, tenang, meskipun hati saya berdebar. Rasa yang terus ada hingga ia tumbuh dan tiba saatnya untuk disapih. Saya selalu percaya, seorang ibu akan bisa menemukan cara dan ritme menyusui yang paling sesuai untuk anaknya. Percayai naluri dan yakinlah pada insting keibuan Anda. Ia pun akan merasakannya dan larut dalam dekapan hangat Anda.

  • 2. Tantangan yang memberikan kekuatan ekstra

  • Semua ibu menyusui akan diuji dengan tantangan-tantangan dalam berbagai bentuk. Puting yang lecet, payudara bengkak, sumbatan saluran menyusui, growth spurtyang membuat jam tidur terpotong drastis karena frekuensi menyusui bertambah pesat, adalah sebagian drama yang saya lalui. Masih ada nursing strike, bingung puting akibat pemakaian botol dot, lip/tongue tie, turunnya hasil perah, yang membuat ibu menyusui galau tak berakhir. Di balik badai, ada pelangi yang indah. Tantangan-tantangan menyusui ini menyadarkan saya untuk tidak menyerah begitu saja. Tantangan-tantangan ini memacu saya untuk terus belajar. Belajar memahami kondisi diri, belajar memenuhi kebutuhan anak tercinta, belajar menerima dengan ikhlas. Bahwa apa pun kondisi saya dan anak saya, kami telah ditakdirkan untuk menyatu, dalam aliran air susu. Perjuangan dia, adalah medan tempur saya pula.

  • Advertisement
  • 3. Keteguhan hati mendatangkan dukungan berharga

  • Membesarkan anak perlu dukungan satu desa. Begitu kata pepatah lama. Tak salah memang, dukungan dari orang-orang di sekitar saya, baik keluarga, sahabat, kolega kerja, tenaga kesehatan hingga masyarakat umum, membuat saya mantap melangkah dalam perjalanan menyusui. Namun, pada satu sisi, dukungan ini tidak serta merta hadir begitu saja. Pro kontra masih terjadi. Saya sempat mengalami masa "sendiri", seperti saat menjadi ibu menyusui pertama yang memerah ASI di tempat kerja saya. Atau, ketika saya masih "keras kepala" menyusui anak saya ketika saya terserang penyakit demam berdarah. Pada akhirnya, keteguhan hati saya (yang juga didukung pengetahuan tentang keamanan tindakan menyusui saya) mengubah pandangan banyak orang. Menumbuhkan keyakinan baru di dalam diri mereka. Dukungan pun tumbuh, kepada saya dan para ibu menyusui lain di sekitar saya. Dukungan yang membuat kami tegak berdiri, demi menunaikan kewajiban mulia.

  • 4. Ikatan yang takkan lekang

  • Sentuhan dan kontak fisik yang terjadi saat saya menyusui bak membangun jembatan batin dengan anak tercinta. Ia seperti bisa merasakan isi hati saya saat itu. Gembira, sedih, resah, tenang, akan menular kepadanya. Akan tetapi, saya tidak menganggap ikatan erat ini sebagai bentuk kemanjaan. Tidak sama sekali. Menyusui turut membangun kepercayaan di antara kami, bukan ketergantungan. Meskipun kala itu saya bekerja di luar rumah, menyusui menjadi perekat dan pengganti waktu yang hilang. Saya sempat cemas di periode penyapihan anak saya. Apakah kedekatan kami akan merenggang? Apakah ia akan bisa melalui masa baru tanpa "menempel" pada saya? Ternyata, kecemasan saya tidak terbukti. Anak pertama saya tetap dapat bercengkrama dekat. Ia tahu, sudah saatnya ia beranjak besar dan memberikan kesempatan menyusui untuk si adik tersayang. Rasa pengertian begitu besar untuk lelaki kecil saya ini. Saya yakin, ikatan yang terbentuk oleh menyusuinya dulu, akan terus terpelihara di masa mendatang kelak.

  • Kesempatan untuk dapat menyusui adalah sebuah anugrah. Tetapkan hati dan yakinlah Anda dapat sukses menjalaninya. Carilah informasi dan bangun sistem dukungan yang mumpuni semenjak masa kehamilan Anda. Apa pun rintangan yang Anda temui, akan ada jalan keluar terbaik untuk Anda dan si buah hati. Menyusuilah dengan tekad baja, keras hati, dan semangat menyala, wahai pejuang ASI!

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Ini alasan mengapa menyusui anak merupakan sebuah anugerah

Selama perjalanan saya menjadi seorang ibu, salah satu lika-liku yang saya alami adalah menyusui anak saya. ASI merupakan anugrah bagi saya dan anak saya. Simak pelajaran berharga yang saya alami di masa menyusui si kecil berikut ini!
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr