POLLING: Vaksin palsu merajalela. Stop vaksinasi atau lanjut?

Kenyataannya, vaksin palsu telah tersebar dan mengancam keselamatan anak-anak kita. Apa yang akan Anda lakukan?

1,598 views   |   25 shares
  • Beberapa hari ini, para orangtua khususnya ibu pasti dihantui perasaan bimbang dan takut yang luar biasa lantaran kasus penemuan menyebarnya vaksin palsu. Diantara sekian banyak fakta yang mengejutkan dan di tengah rasa tidak percaya, muncul satu tanda tanya besar:

  • "Apakah saya akan tetap mem-vaksinasi anak saya atau stop setidaknya hingga pihak yang berwenang menyatakan aman akan kondisi ini?"

  • Setelah kasus ini menghangat di media sosial, beberapa pihak seperti Pemerintah, Dokter Spesialis Anak dan Vaksinolog muncul memberikan pandangan mereka, tentunya demi menenangkan para orangtua yang terlanjur panik. Beberapa diantaranya berbunyi:

    • Dalam Siaran Pers dari Kementerian Kesehatan RI dituliskan: "Masyarakat diharapkan tetap tenang dan percaya bahwa vaksin yang dipakai untuk program vaksinasi wajib oleh pemerintah adalah vaksin yang DIJAMIN ASLI."

    • Diduga, peredaran vaksin palsu tidak lebih dari 1 persen di wilayah Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Untuk orangtua yang curiga anaknya mendapatkan vaksin palsu dapat mendatangi dokter di Puskesmas dan mendapatkan vaksin ulang.

    • Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe dalam tulisannya mengajak para orangtua untuk tetap mem-vaksinasi anak dengan tidak sungkan mempertanyakan keaslian vaksin kepada tenaga medis dan memeriksa sendiri apakah vaksin tersebut asli atau tidak lewat kemasan.

    • "Dengan tidak memberikan vaksinasi yang menjadi hak anak, mereka akan menjadi sangat rentan untuk mengalami berbagai penyakit infeksi yang dapat bersifat fatal, yang sesungguhnya dapat dicegah."

    • Dokter Spesialis Anak, Patricia dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Hermina mengatakan, ada beberapa perbedaan antara vaksin palsu dan asli yang bisa diperiksa dengan kasat mata.

    • Ada pula ajakan untuk lebih baik jeli memeriksa keaslian vaksin dibandingkan berhenti membawa anak untuk divaksinasi dan mempertaruhkan kesehatannya.

    • Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan ketika diwawancara media massa mengatakan bahwa cairan infus yang terkandung dalam vaksin palsu adalah cairan sudah biasa diterima oleh tubuh, antibiotik itu juga biasa dipakai oleh tubuh, sehingga reaksi yang ditimbulkan sangat minimal. Kecuali jika timbul reaksi alergi.

  • Advertisement
  • Mungkin, anjuran-anjuran di atas baru mampu sedikit menenangkan kepanikan para ibu. Tapi apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?

Baca, hidupkan, bagikan!

Lulus sebagai Sarjana Sastra dan menjabat sebagai Content Manager www.keluarga.com. Wiwin mengawali kariernya di media cetak harian nasional tertua di Indonesia, mengasah kemampuannya sebagai jurnalis mulai dari reporter junior hingga editor senior di beberapa majalah gaya hidup asing dan lokal Indonesia.

Situs: http://wiwinwiw.wordpress.com

POLLING: Vaksin palsu merajalela. Stop vaksinasi atau lanjut?

Kenyataannya, vaksin palsu telah tersebar dan mengancam keselamatan anak-anak kita. Apa yang akan Anda lakukan?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr