Permisif VS Otoritarian. Yang manakah metode pengasuhan anak versi Anda?

Seperti apakah cara mendidik anak yang terbaik bagi tumbuh kembangnya?

266 views   |   3 shares
  • Mengasuh anak bukanlah pekerjaan mudah, dan membutuhkan begitu banyak kesabaran, komitmen, juga belajar terus menerus tanpa henti. Sebab kebanyakan orangtua terlalu lelah untuk menghadapi "amukan" anak, dan tidak ingin anak-anaknya marah kepada mereka. Hingga akhirnya memberikan segalanya agar anak tidak rewel.

  • Sayangnya, memberikan batasan dalam memenuhi permintaan anak sebetulnya amat penting dalam pengasuhan yang baik. Waktu bayi, keinginannya merupakan kebutuhan. Namun seiring waktu, hal itu berubah. keinginan anak biasanya bertentangan dengan kebutuhan pertumbuhan jangka panjangnya. Inilah pentingnya memberi batasan pada permintaan anak. Bukan batasan yang tak beralasan dan tanpa empati, tapi batasan pantas demi pertumbuhannya. Sebab, menurut Dr Laura Markham, pengasuhan permisif tanpa limit, menyebabkan:

  • 1. orangtua memenuhi keinginan anak yang tak seharusnya, dan menimbulkan dampak buruk.

  • Misalnya tidur tengah malam, yang sebetulnya membuat anak lelah dan mudah marah.

  • 2. Anak belajar bahwa kekecewaan dan kesedihan tidak bisa diatasi.

  • Orangtua yang melakukan apa pun agar anak tidak pernah merasa kecewa akan membuat anak menghabiskan hidupnya untuk menghindari perasaan kecewa atau sedih yang menurutnya tak bisa diatasi sendiri, termasuk menghindari segala resiko, atau curang.

  • 3. Menyabotase kemampuan anak untuk meraih cita-citanya.

  • Sebab ia terlalalu takut untuk menantang diri dan kemampuannya. Ia juga tak terbiasa disiplin dan bekerja dalam tenggat.

  • 4. Ia kesulitan membentuk kebahagiaan dalam dirinya sendiri

  • Merasa bahagia, biasanya muncul dari kemampuan menerima dan mengerti diri sendiri, termasuk saat marah, sedih, dan kecewa. Nah, orangtua yang menghindari kejadian negatif, memberi pesan bahwa hal itu tak bisa diterima.

  • 5. Anak tidak merasa aman

  • Anak butuh batasan karena sebetulnya mereka ingin ada orang yang bertugas memberi "tugas" itu, dan layak dipercaya untuk melindungi mereka dari dunia yang mengerikan.

  • 6. Gaya pengasuhan Permisif membuat anak tidak tahu membedakan hal penting dan tidak

  • Misalnya, orangtua membiarkan anak memperlakukan mereka dengan buruk. Atau membiarkan anak bermain gadget setiap hari dan menyepelekan belajar. Melakukan hal ini berarti mengorbankan ekspektasi orangtua, yang sebetulnya penting bagi mereka.

  • 7. Menghilangkan koneksi orangtua-anak

  • Saat anak tak bisa memercayai orangtuanya dengan membiarkan ia mengenal emosi negatif, inilah saatnya koneksi tak terbentuk. Anak juga akan lebih "ngelunjak" jika orangtua tak bisa dipercaya dalam berkomitmen menjalankan peraturan (yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan), anak akan kehilangan respek dan makin bertingkah mencari batasan.

  • Advertisement
  • Ya, batasan. Pengasuhan permisif, tak memberi batasan. Namun apa yang terjadi dengan anak yang diasuh dengan terlalu banyak batasan oleh orangtua yang ketat? Dr Markham mengungkap bahwa penelitian membuktikan bahwa disiplin konsisten dari orangtua yang otoritarian malahan menjadikan anak-anak yang kepercayaan dirinya paling rendah. Mengapa?

  • 1. Pengasuhan yang terlalu ketat menghalangi anak membentuk disiplin dan tanggung jawabnya sendiri.

  • Perilaku yang terkontrol memang lebih banyak ditemui, namun regulasi diri justru tak terbentuk. Ya, kan tak ada manusia yang suka dikontrol orang lain, toh?

  • 2. Pengasuhan Otoritarian- mengajarkan anak untuk melakukan bullying.

  • Jika anak melakukan yang Anda inginkan karena takut, apa bedanya dengan bullying. Semakin keras teriakan Anda, semakin keras pula teriakan si anak, lho..

  • 3. Memberi hukuman membesarkan anak pemarah dan depresi.

  • Karena orangtua meninggalkan pesan yang jelas; bahwa ada bagian (negatif) dari diri mereka yang tak bisa diterima. Dan orangtua tidak ada untuk membantu mereka mengatasinya. Mereka kesepian, dan berusaha mengatasi perasaan negatif itu sendirian.

  • 4. Karena anak terbiasa harus berbuat benar, saat ada orangtuanya, mereka justru lebih bermasalah.

  • Juga menjadi pembohong handal, tentunya.

  • 5. Tidak membentuk koneksi dengan anak

  • Menjadi otoritarian sama dengan permisif, membuat anak merasa tak dicintai dan koneksi tak terbentuk. Berbeda dengan permisif yang "memberikan segalanya", otoritarian "memutus segalanya tanpa empati". Jelas membuat tugas orangtua menjadi lebih berat, sebab anak lama kelamaan tak tertarik lagi menyenangkan mereka.

  • Jadi harus bagaimana?

  • Ada pengasuhan yang disebut "Otoritatif". Atau, Dr Markham lebih senang menyebutnya dengan "Limit berempati". Sebagai orangtua yang tetap memberi limit (batasan) seperti pengasuhan otoritarian, namun diberikan dengan empati, seperti gaya permisif.

  • Seperti apa ya? Ya artinya, orangtua tetap menetapkan ekspektasi dan batasan agar anak dapat terus meningkatkan kemampuannya dengan dikombinasikan kehangatan juga dukungan. Yang membuatnya amat berbeda adalah karena pengasuhan ini melihat dari sudut pandang anak. Orangtua dengan gaya limit berempati akan mendukung anak untuk menjalani nilai-nilai keluarga dan golnya sendiri. Contohnya; mereka tak akan berharap si tiga tahun dapat membersihkan kamarnya sendiri, namun mereka mendukung si anak dengan sama-sama membereskan kamar, membuatnya jadi kegiatan menyenangkan, terus menerus. Jadi di usia 6 tahun, ia sudah dapat melakukannya sendiri.

  • Advertisement
  • Jadi yang membedakan adalah orangtua terlibat di dalam kehidupan anak karena orangtua yang menerapkan gaya ini telah mampu meregulasi emosinya sendiri, sehingga dapat menuntun anak untuk melakukannya juga. Inilah yang membangun kedekatan dan koneksi yang paling dibutuhkan anak untuk belajar, bersosialisasi dan bersenang-senang. Orangtua membantu anak untuk menjalani kehidupan berdasarkan nilai-nilai yang penting bagi mereka, dengan terlibat di dalamnya untuk memberi dukungan. Orangtua bahagia, membesarkan anak yang lebih bahagia.

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Permisif VS Otoritarian. Yang manakah metode pengasuhan anak versi Anda?

Seperti apakah cara mendidik anak yang terbaik bagi tumbuh kembangnya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr