Kapan Anda mau mulai jalani hidup sehat?

Kini, hidup serba praktis. Makanan dan minuman instan menjadi jawaban, dan zona nyaman kita sehari-hari, meski jelas tak sehat. Mampukah kita berubah, dan mulai melakukan rutinitas hidup sehat, bukan hanya karena ingin kurus?

237 views   |   1 shares
  • Menjadi sehat, berarti berkomitmen menjalani hidup dengan rutinitas pola hidup sehat. Memperbanyak serat lewat sayur juga buah, berhenti makan yang digoreng, berolahraga setiap hari, hingga stop konsumsi nasi yang berat dicerna. Hal ini jelas tak mudah. Bahkan dokter Tan Shot Yen juga menuliskan hal ini dalam bukunya Nasehat buat Sehat.

  • Mengambil langkah untuk memulai sesuatu yang baru, katanya, memang tidak mudah. Secara psikologis, kecenderungan manusia justru sebaliknya; menemukan kenyamanan dalam menjalani hal-hal rutin, atau menghadapi hal yang biasa-biasa saja, atau berurusan dengan yang itu-itu lagi. Dalam bahasa populer sekarang dikenal dengan istilah zona nyaman.

  • Rutinitas, kebiasaan, dan otomatisasi memang tidak membutuhkan kerja otak yang terlalu banyak, juga tak menyertakan kehendak serta komitmen. Rasa nyaman dan mengalir muncul karena perbuatan tersebut sudah sedemikian terpolakan di area refleks manusia.

  • Proses baru, proses belajar, awalnya pasti mengalami rasa kikuk, tawar menawar dan banyak pertimbangan. Persis seperti minggu pertama belajar menyetir mobil atau belajar berdansa. Hanya kekuatan ingin belajar terus dan merasakan pentingnya nilai perubahan, mampu membuat seseorang menjalankannya dengan penuh komitmen dan menjadi persisten. Akhirnya orang tersebut membentuk rutinitas baru.

  • Selanjutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari zona nyaman. Dan ketika hal ini terjadi, maka secara otomatis akan dilakukan setiap hari. Sebetulnya kurang tepat jika penerapan pola makan sehat dianggap sebagai pola belajar yang baru. Sebab yang baru itu justru yang sekarang kita anggap makanan, padahal seabad lalu makanan itu tidak ada. Seperti makanan instan, atau minuman dalam kemasan.

  • Ironis, bila tindakan kembali ke pola makan sehat diandalkan sebagai mengadopsi sesuatu yang baru. Orang-orang yang kembali membuka diri dengan memberlakukan pola makan sehat-seimbang mengakui seakan-akan memulainya dengan keterpaksaan. Sama seperti bekerja, awalnya terpaksa. Ya, terpaksa dan dipaksa sering menjadi kombinasi bagus, hingga akhirnya; bisa.

  • Bisa ini akhirnya menjadi biasa, dan berubah menjadi budaya. Inilah yang disebut transformasi hidup. Dan ini tak terjadi dalam hitungan hari, tentunya. Lalu mengapa dilakoni? Karena penting. Orang pasti melakukan sesuatu yang diannggapnya penting, kan? Sayangnya tak banyak orang yang menyadari bahwa diam-diam permainan sabotase dilakukan secara otomatis.

  • Mulut boleh mengatakan bahwa kesehatan itu penting, tetapi suatu waktu dapat berubah saat dikeroyok teman sepergaulan dan berbagai jajanan. Pilihan saat itulah yang menunjukkan apa yang terpenting sebenarnya. Jika yang penting adalah nafsu, maka kesehatan akan terpinggirkan dan jajanan lapar matalah yang masuk mulut.

  • Advertisement
  • Kenal istilah "cheating" pada akhir pekan? Hal ini menafsirkan seakan-akan makan tertib hanya berlaku pada hari kerja dan menjadi kewajiban yang memberatkan, bahkan cenderung menyiksa. Apalagi jika yang dikejar hanya tujuan jangka pendek. Begitu tujuan itu tercapai maka godaan muncul. Ini yang biasa terjadi pada orang yang mengatur pola makan hanya sekadar untuk mengurangi timbangan.

  • Dokter Tan menekankan bahwa hanya mereka yang sadar betul tentang pentingnya keberlangsungan pola makan sehat-seimbang, dan bisa menikmati hasilnya serta memiliki tujuan jangka panjang yang akhirnya sungguh-sungguh merasakan hidup yang bebas dari penyakit, ketimbang menganggap dirinya terbelenggu. Mereka ini sampai mampu menularkan gaya hidup sehatnya pada orang-orang sekitar, sehingga tanpa sadar menjadi panutan.

  • Inilah yang disebut pemberdayaan, dan dipakai dalam pendidikan perubahan perilaku serta gaya hidup.

  • Kebanyakan orang tergiur dengan pelbagai upah manisnya hidup dengan pola makan sehat, tetapi bukan berarti siap dengan perilaku yang harus menyertainya. Kebiasaan mencari makan "seketemunya" tanpa mau repot mempersiapkan makanan, apalagi membawa bekal, seringkali menjadi alasan jatuhnya seseorang kembali ke pola lama. Sekali lagi, ini semua berhubungan dengan kebiasaan.

  • Mengubah kebiasaan dan menjadi sehat, adalah satu kesatuan. Tren gaya hidup sehat dengan segala sayur, buah dan makanan organik kebanyakan dilakukan untuk menguruskan badan. Sayang sekali. Padahal, jika dilakukan terus dengan komitmen penuh, kita semua bisa menghindari penyakit hingga memiliki wajah yang cemerlang karena seluruh bagian tubuh tercukupi kebutuhannya. Mungkin motivasinya memang harus diganti, dan penurunan berat badan hanyalah bonus dari gaya hidup sehat yang sudah menjadi kebiasaan. Yuk..

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Kapan Anda mau mulai jalani hidup sehat?

Kini, hidup serba praktis. Makanan dan minuman instan menjadi jawaban, dan zona nyaman kita sehari-hari, meski jelas tak sehat. Mampukah kita berubah, dan mulai melakukan rutinitas hidup sehat, bukan hanya karena ingin kurus?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr