Hati-hati, menghukum anak dapat membuat Anda terancam tindak pidana

Hukuman adalah konsekuensi dari perilaku negatif. Dengan cara yang tepat, hukuman dapat memberikan efek positif bagi anak dan mengubah perilakunya menjadi lebih baik, jadi tidak perlu melakukan tindak kekerasan.

331 views   |   2 shares
  • Suatu sore saya mendengar anak saya menangis, saat sedang asik bermain dengan teman-temannya di ruang bermain. Saat menghampiri, saya lihat tangannya yang memar karena dipukul kawannya, Dika, dengan mainan. Tentu sebagai ibu saya tidak terima saat anak dipukul, namun saat itu fokus saya adalah menenangkan Raka untuk kembali bermain bersama kawannya.

  • Pada Dika saat itu hanya saya menasehati, "Dika, kalau bermain di rumah Raka, kita main bersama ya, tidak ada yang boleh memukul". Namun ternyata Dika di kalangan teman-temannya memang kerap melakukan kekerasan fisik seperti mencubit, memukul dan berteriak. Ibu-ibu di sekitar lingkungan rumah saya juga sudah melabeli Dika sebagai anak nakal dan sulit diatur.

  • Saya pribadi tidak pernah menerapkan hukuman fisik kepada anak. Karenanya, anak saya pun tidak pernah memukul kawannya. Kalaupun dikasari, ia tidak pernah membalas. Saya selalu positif berpikir, ini hanya kenakalan masa kanak-kanak yang sedang dalam masa posesif dengan kepemilikan barang. Namun saya juga tahu untuk kasus Dika, orang tuanya lah yang lebih berhak untuk menegur.

  • Seperti yang ditulis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), (http://www.kpai.go.id/hukum/undang-undang-uu-ri-no-23-tahun-2002-tentang-perlindungan-anak/), yang menjelaskan bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi, penelantaran, kekejaman, kekerasan penganiayaan, ketidakadilan dan perlakuan negatif lainnya. Terutama yang datang dari orang dewasa atau walinya.

  • Atas undang-undang inilah, kita tidak boleh sekali pun melakukan hukuman fisik terhadap anak, baik anak sendiri maupun anak orang lain, karena setiap pebuatan memukul, menjitak, menjewer, mencubit dan lain-lain termasuk sebagai tindak pidana penganiayaan.

  • Salah satu pakar Hukum Pidana Indonesia, Andi Hamzah, menjabarkan ancaman pidana terhadap penganiaya anak dengan hukuman penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak 72 juta rupiah (tujuh puluh dua juta rupiah). Bayangkan jika saat itu saya emosi sampai menghukum Dika, walau ia yaang terlebih dahulu memukul Raka. Bisa saja keadaan akan berbalik, orang tua Dika tidak terima dan tidak mau menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Bisa-bisa saya terjerumus ke penjara.

  • Advertisement
  • Hukuman memang merupakan konsekuensi dari perilaku negatif. Dengan cara yang tepat, hukuman dapat memberikan efek positif bagi anak dan mengubah perilakunya menjadi lebih baik. Saat anak berbuat salah, di saat itu ia juga akan belajar. Jadi tidak perlu adanya tindak kekerasan.

  • Berikut beberapa hal yang perlu Anda ketahui sebelum memberi hukuman pada anak:

    • Hukuman terbaik adalah jarang menghukum. Terlalu sering menghukum anak, akan membuat perilaku buruknya tidak berubah. Banyak orang tua lebih fokus memberikan hukuman tanpa melihat faktor apa yang menyebabkan anak melakukan kesalahan.

    • Jangan gabung emosi Anda dengan hukuman. Menjauhlah sementara waktu untuk meredakan emosi Anda. Orang tua beranggapan dengan membentak, memaki, menampar dan mengancam dapat memberikan efek jera bagi anak. Anda tidak sadar, hukuman tersebut justru merupakan pelampiasan amarah anda. Hal ini akan membuat hukuman menjadi suatu bentuk pembalasan bukan pembelajaran.

    • Jangan memarahi anak di tempat umum dengan menggunakan kata-kata kasar yang menyakiti. Hal ini hanya akan membuatnya malu, trauma dan timbul dendam.

    • Gunakan hukuman sebagai contoh positif dan sesuaikan dengan batasan umur dan kemampuan anak. Hukuman yang sederhana akan lebih efektif. Sebaliknya hukuman yang terlalu berlebihan akan membuat anak merasa dipelakukan tidak adil, sehingga timbul perdebatan dan amarah. Contoh, saat ia selesai bermain dan tidak mau membereskan mainannya. Tunggu sampai ia mau membereskan mainannya dan temani hingga ia selesai melakukannya. Hal ini akan membuatnya belajar bertanggung jawab.

    • Jika ingin memberinya time-out, tempatkan ia ditempat yang ia tidak sukai. Jangan di ruangan tertutup sehingga Anda masih bisa mengawasinya. Misal menyuruhnya duduk di kursi yang ada di pojok ruangan selama 1 menit.

    • Konsisten dalam memberi hukuman. Jangan hanya saat Anda ingin melakukannya saja, karena akan membuat anak merasa bingung apakah perilaku buruknya tetap boleh dilakukan atau tidak.

  • Yang terpenting setelah memberikan hukuman, jelaskan juga tujuan Anda melakukannya. Berilah anak Anda kepercayaan dan yakinlah ia dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Setelah melahirkan Raphael, Celerina memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus buah hatinya tanpa bantuan baby sitter. Disinilah ia kemudian menemukan passion-nya yang baru yaitu memasak khususnya menu MPASI (Makanan Pendamping ASI)

Hati-hati, menghukum anak dapat membuat Anda terancam tindak pidana

Hukuman adalah konsekuensi dari perilaku negatif. Dengan cara yang tepat, hukuman dapat memberikan efek positif bagi anak dan mengubah perilakunya menjadi lebih baik, jadi tidak perlu melakukan tindak kekerasan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr