Berpuasa sekaligus menyusui? Siapkan tubuh dengan 7 tips ini

Ibu menyusui yang ingin tetap berpuasa harus mempersiapkan fisik dan mental dengan prima. Ini 7 tips nya:

1,344 views   |   15 shares
  • Di bulan suci Ramadan, berpuasa menjadi ibadah wajib bagi umat Muslim. Namun, bagi beberapa kalangan yang memiliki keterbatasan, seperti orang sakit, ibu hamil, dan ibu menyusui, diberikan keringanan untuk tidak berpuasa. Nantinya, puasa yang ditinggalkan ini dapat digantikan dengan tiga cara, yaitu menggantinya di hari lain di luar bulan Ramadan atau membayar sejumlah dana pengganti yang disebut fidyah atau kombinasi keduanya.

  • Jika Anda seorang ibu menyusui yang ingin tetap menjalankan ibadah puasa, Anda perlu mempersiapkan fisik dan mental Anda dengan prima. Tujuannya, supaya puasa Ramadan tetap berjalan mulus tanpa mengganggu kesehatan Anda. Ikuti tujuh tips berikut ini untuk kelancaran puasa Anda.

  • 1. Tambahkan asupan dengan seimbang

  • Ibu hamil dan menyusui membutuhkan tambahan kalori untuk asupan janin dan kandungan ASI yang baik. Keperluan tambahan kalori, bukan berarti Anda harus makan dengan porsi super besar atau melahap kudapan sepanjang waktu. Caranya, aturlah komposisi makanan Anda dengan memadatkan porsi karbohidrat dan protein. Untuk karbohidrat, pilihlah karbohidrat yang rendah gula dan kaya serat, misalnya beras merah, beras coklat, beras hitam, gandum atau oats. Protein dapat Anda dapatkan dari ikan-ikanan, telur, kacang-kacangan termasuk produk dari kedelai seperti tempe, tahu, dan susu kedelai. Hindari makanan olahan dan goreng-gorengan, serta utamakan mengolah bahan segar untuk porsi makan Anda. Makanlah saat sahur dan berbuka dengan porsi secukupnya. Jika Anda memilih untuk berbuka dengan yang manis, pilihlah kurma dan sari buah segar untuk mendapatkan rasa manis alami.

  • 2. Jaga kecukupan hidrasi tubuh

  • Salah satu efek puasa yang paling dirasakan adalah berkurangnya hidrasi tubuh karena tidak makan dan minum selama lebih dari 12 jam. Anda perlu memastikan bahwa kebutuhan air tetap tercukupi selama tidak berpuasa. Minumlah air putih sebanyak 2 liter, dengan pembagian setidaknya 500 ml saat sahur, 1 liter setelah berbuka puasa, dan 500 ml pada malam hari. Selain air putih, Anda dapat menambah asupan air dari susu, sayur, dan buah yang kaya air. Beberapa tanda tubuh Anda mengalami dehidrasi sehingga harus menghentikan puasa adalah :

    • Merasa sangat haus hingga pandangan berkunang-kunang

    • Air seni berwarna gelap

    • Sakit kepala hebat

    • Lemas berlebihan meskipun sudah cukup beristirahat

    • Mulut, bibir, dan mata sangat kering

  • Advertisement
  • 3. Kosongkan dengan teratur

  • Kunci berlangsungnya produksi ASI yang melimpah adalah pengosongan payudara secara teratur. Jaga rutinitas menyusui dan memompa ASI seperti jadwal di luar Ramadan. Jika ada penurunan, lakukan perombakan kebiasaan seperti melakukan power pumping, menambahkan suplemen penambah ASI atau mengonsumsi makanan-minuman yang dapat merangsang produksi ASI.

  • 4. Cerdas berkegiatan

  • Sudah sepatutnya Anda mengatur kembali cara Anda berkegiatan di bulan puasa. Berdayakan alat-alat atau sistem yang meringankan kerja Anda, baik di kantor maupun di rumah. Contohnya, gunakan slow cooker untuk membantu Anda memasak sayur atau MPASI bayi Anda, padatkan dan selesaikan kewajiban yang tergolong berat sebelum tengah hari sehingga Anda bisa bersantai menjelang sore. Tak ada salahnya juga Anda mencuri 30 -45 menit untuk tidur siang, untuk melepaskan lelah sesaat dan membiarkan tubuh beristirahat.

  • 5. Dengarkan sinyal tubuh Anda

  • Memaksakan diri pun tiada gunanya dalam berpuasa. Sadarilah kondisi kesehatan Anda, apabila terganggu akibat puasa, tunda dahulu puasa Anda hingga tubuh bugar kembali. Waspadai pula jika Anda mengalami penurunan berat badan berlebihan, di atas 1 kg per minggu, di mana kegiatan puasa Anda harus dievaluasi kembali manfaatnya. Konsultasikan dengan dokter Anda mengenai rancangan puasa Anda, khususnya bagi Anda yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti gangguan lambung, anemia, dan sebagainya.

  • 6. Pantau kesehatan si kecil

  • Dokter Naomi Mirza, seorang medical specialist dalam artikelnya menyebutkan bahwa jika bayi Anda masih berusia di bawah 6 bulan dan mendapatkan ASI eksklusif, sebaiknya Anda menunda dulu puasa Ramadan Anda. Tujuannya adalah menyediakan ASI yang optimal secara kuantitas maupun kualitas dari seorang ibu yang benar-benar sehat dan bugar. Periksa pula kecukupan asupan ASI pada anak Anda dari beberapa aspek seperti frekuensi buang air kecil (dari jumlah popok basah), warna air seni, perubahan bobot badan, dan rewel-tidaknya bayi secara konstan.

  • 7. Jalani dengan ikhlas dan realistis

  • Sesungguhnya, kuantitas ASI Anda tidak akan berkurang karena berpuasa Ramadan. Tubuh Anda akan beradaptasi melalui perubahan cara pembakaran kalori. Perubahan yang mungkin terjadi adalah komposisi lemak dalam ASI Anda. Jika asupan Anda tidak dapat memenuhi kebutuhan lemak ASI, maka tubuh akan mengambil cadangan lemak untuk membantu produksi ASI. Berpikir positif akan meringankan setiap langkah Anda dan menyukseskan kegiatan menyusui yang Anda jalani.

  • Advertisement
  • Berpuasa di bulan Ramadan mendatangkan seribu kebaikan. Melangkahlah dengan bijak dan jalani kewajiban Anda ini dengan hati yang tulus serta pikiran yang jernih. Andalah yang tahu betul prioritas kehidupan dan kesehatan Anda serta si kecil. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan!

  • Sumber artikel : babycentre UK, kellymom

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Berpuasa sekaligus menyusui? Siapkan tubuh dengan 7 tips ini

Ibu menyusui yang ingin tetap berpuasa harus mempersiapkan fisik dan mental dengan prima. Ini 7 tips nya:
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr