Apa pun akan Anda korbankan demi cinta, tapi jangan 7 hal ini

Merasakan cinta merupakan bekal sebelum menikah. Namun bagaimana jika kemudian bersamaan dengan cinta itu, kita dituntut untuk melakukan pengorbanan yang tak diinginkan? Benarkah cinta adalah segalanya yang dibutuhkan?

50,447 views   |   265 shares
  • Cinta adalah sesuatu yang amat tricky. Terutama dalam hubungan percintaan dan jelang pernikahan. Tanpa kehadiran cinta, hubungan tentu akan hambar. Namun, terlalu banyak perasaan cinta, biasanya membuat pasangan rentan "tertutup matanya" dan rela melakukan apa pun demi menjadi pasangan seumur hidup si dia.

  • Psikolog Ratih Ibrahim pernah menjelaskan mengenai hal ini. Menurutnya, membina hubungan pernikahan tidak cukup bila hanya bermodal cinta. Ia mengatakan, anggapan yang mengatakan bahwa cinta sudah cukup untuk menjalin hubungan rumah tangga bisa menjadi sangat menjerumuskan. Bila pasangan tahu bahwa hubungan mereka hanya bermodal cinta, seharusnya jangan dilanjutkan terlalu dalam.

  • Ratih menganjurkan aspek pertama yang harus dipertimbangkan saat akan menikah adalah akal sehat. Emosi cinta perlu diselaraskan dengan rasional akal sehat. "Akal sehat harus dipakai benar-benar. Apalagi perkawinan. Perkawinan itu akal sehat juga harus jalan, bukan pakai makan perasaan saja," jelasnya.

  • Mengapa perasaan bukan dijadikan satu-satunya modal dalam pernikahan? Menurut Ratih, perasaan bisa hanya bertahan sementara dan yang menyelamatkan pernikahan justru akal sehat. "Kalau akal sehat nggak dipakai terus cuma rasa aja, terus rasanya memudar, mau ngapain coba," ujar Direktur Personal Growth ini.

  • Ya, jadi sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, hal ini harus dipikirkan masak-masak. Dalam hubungan asmara, memang ada saatnya Anda harus berkompromi dan mengorbankan sesuatu demi pasangan. Akan tetapi, atas nama cinta, masih banyak orang yang merasa harus mengorbankan segalanya demi kebahagiaan pasangannya. Jika berpikir dengan akal sehat, tentunya kita tidak boleh mengorbankan semua yang dimiliki. Beberapa hal yang mutlak tidak boleh dikorbankan demi pasangan adalah:

  • 1. Kebahagiaan

  • Kehadiran pasangan seharusnya menambah kebahagiaan, bukannya merendahkan dan membuat Anda berkecil hati. Anda dan pasangan harus bisa membahagiakan diri masing-masing sebelum bisa membahagiakan satu sama lain.

  • 2. Kebebasan

  • Dalam hubungan yang sehat, seharusnya Anda tetap bisa menikmati hidup dan melakukan segala hal yang Anda inginkan tanpa membuat pasangan kesal atau khawatir. Tetapi, kalau dia sudah posesif, berarti dia adalah orang insecure, dan insecurity adalah masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh dirinya sendiri.

  • 3. Pengalaman hidup

  • Anda berhak melakukan apa pun yang bisa memberikan pelajaran hidup agar Anda lebih bijak, dewasa, dan bahagia. Kalau pasangan mengekang untuk mencoba hal-hal baru dalam hidup, Anda pasti akan sulit merasa bahagia. Pasangan yang baik malah akan mendorong Anda untuk mengejar pengalaman hidup.

  • Advertisement
  • 4. Kepribadian

  • Dalam hubungan yang sehat, pasangan tidak akan menuntut Anda untuk berubah. Anda berdua akan mendukung satu sama lain untuk meningkatkan kualitas diri. Kalau pasangan hanya ingin Anda berubah demi kebahagiaannya, artinya dia tidak benar-benar mencintai Anda dan hanya mencintai ekspektasi yang dia buat sendiri tentang Anda.

  • 5. Pertemanan

  • Walau Anda berdua sudah berpasangan, Anda tetap berhak untuk berkumpul dengan teman-teman dan keluarga. Kalau pasangan melarang, Anda harus bisa melawan sikap posesifnya ini. Jangan biarkan pasangan terlalu bergantung pada Anda. Ingat, Anda berhak memiliki hubungan lain selain hubungan dengan pasangan.

  • 6. Impian

  • Pasangan yang baik adalah yang mendorong Anda untuk mewujudkan impian. Dia ingin melihat Anda sukses dan bahagia. Kalau dia hanya merendahkan dan menyuruh melupakan mimpi Anda, itu berarti dia tidak baik untuk Anda.

  • 7. Keyakinan

  • Prinsip dan keyakinan yang Anda miliki tentunya sangat penting. Jangan biarkan pasangan memengaruhi Anda untuk mengubah kedua hal yang Anda pegang teguh itu. Pasangan boleh memiliki keyakinan atau prinsip yang berbeda, tetapi dia tetap harus menghormati keyakinan Anda.

  • Aspek lain selain akal sehat saat mempertimbangkan akan menikah, menurut Ratih, adalah kestabilan. Aspek ini bisa meliputi banyak hal. Pertama bisa kestabilan dalam hal pangan, sandang, dan papan, bukan hanya cinta. "Cinta kan cukup untuk kita saling memiliki itu cuma ada di lagu aja. Kalau nggak makan, nggak akan sehat, otak juga nggak jalan, juga nggak berfungsi," tuturnya. Ia melihat banyak pernikahan yang justru berakhir dengan ketidakstabilan sandang, pangan dan papan. "Bubaran lantaran ternyata laper itu nggak enak," katanya.

  • Menurutnya, pasangan juga tidak boleh melupakan kalau menjalin pernikahan nanti akan dikaruniai anak. Mendampingi setiap perkembangan anak pasti tidak hanya cukup bermodalkan cinta."Memang anak-anak itu bisa dikasih makan atau hidup karena bapak ibunya saling cinta? Bapak ibunya harus punya akal sehat, supaya tahu bagaimana bertanggung jawab untuk memberikan kehidupan yang pantas buat anaknya," paparnya.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Apa pun akan Anda korbankan demi cinta, tapi jangan 7 hal ini

Merasakan cinta merupakan bekal sebelum menikah. Namun bagaimana jika kemudian bersamaan dengan cinta itu, kita dituntut untuk melakukan pengorbanan yang tak diinginkan? Benarkah cinta adalah segalanya yang dibutuhkan?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr