Anak laki 'kok main masak-masakan sih? Eh tapi chef juga kebanyakan laki-laki. Nah lho!

"Masa anak laki-laki main masak-masakan, itu kan untuk anak perempuan." masih sering mendengar ucapan ini? Meski sebetulnya di sekitar kita, koki-koki ternama bahkan tukang nasi goreng gerobak, semuanya laki-laki, bukan?

510 views   |   5 shares
  • Mari kita sama-sama membayangkan. Anda seorang ibu dengan anak lelaki. Suatu hari, Anda menemukan si kecil yang usianya empat tahun itu sedang bermain di kamar dengan menggunakan gaun kakak perempuannya dan memoleskan lipstik di bibirnya.

  • Apa yang Anda lakukan?

  • A. Langsung menelepon dokter anak atau psikolog langganan, dan meyakini bahwa hal itu terjadi karena si tampan kesayangan kekurangan figur lelaki di rumah.

  • B. Mengatakan padanya bahwa peach lebih cocok untuknya, dan mengambil tube "coral sea" dari kotak make up Anda

  • C. Menarik si kecil dan langsung menyiapkan tisu basah.

  • Apapun yang Anda lakukan, ketahuilan Anda tetap orangtua yang terbaik kok, untuk anak. Namun penting untuk diingat bahwa si anak cowok yang sedang berpura-pura menjadi Dora atau anak perempuan yang sibuk berkeliling rumah dengan memainkan light saber, adalah bentuk eksperimen semata.

  • Sayangnya, memang, stereotip gender telanjur mengakar dalam masyarakat kita. Padahal tidak perlu terlalu khawatir "Anak memang senang bereksperimen menjadi apapun, termasuk dalam urusan gender," kata David Hill, M.D., dokter spesialis anak, anggota American Academy of Pediatrics, dan penulis buku Dad to Dad: Parenting Like a Pro. Putra Dr. Hill sendiri amat menikmati bermain perannya sebagai putri raja, di masa kanak-kanaknya.

  • Artinya, pola asuh anak yang terbaik adalah tidak membuat stereotip itu makin tajam. Namun, mungkin Anda masih penasaran, apa pentingnya pola asuh yang tidak mempertajam stereotip gender?

  • Dr Hill menjelaskan bahwa, orangtua adalah kunci utama yang memberikan pengaruh pada anak meski sebetulnya, seiring dengan pertumbuhan anak, pengaruh orangtua tadi menjadi semakin mengecil. Sebab lingkungan sekitar menjadi lebih berpengaruh dalam memberikan petunjuk soal gender. Saudara, keluarga, teman dan bahkan figur idola dalam tontonan atau bacaan merupakan role model, juga. Karena itu, Dr Hill lebih menekankan agar orangtua memilih lingkup sekitar anak dengan lebih bijak. Apalagi di usia 5 atau 6, anak mulai merasa tekanan lingkungan pertemanan amat berpengaruh dalam aktivitas gendernya.

  • Psikolog Anna Surti Ariani, seperti ditulis di majalah femina, juga pernah mengatakan, cara pengasuhan menjadi salah satu faktor penting yang berpengaruh akan menjadi seperti apa seorang anak ketika dewasa kelak. Berikut ini beberapa hal yang bisa terjadi ketika seseorang terjebak dalam stereotip gender. Dan ternyata, dibanding wanita, pria ternyata lebih banyak menanggung beban stereotip ini.

  • Advertisement
  • Berpengaruh terhadap perilaku suami-istri

  • Salah satu contoh yang diamati Anna untuk tesisnya adalah pentingnya peran ayah dalam keberhasilan menyusui ASI eksklusif. Mungkin terdengar mudah, padahal, tidak juga. Mengapa? "Karena ternyata si ayah punya berbagai macam konflik yang disebabkan oleh stereotip gender," kata Anna. Salah satu yang sangat berpengaruh adalah stereotip sebagai breadwinner.

  • "Sebagai breadwinner, maka fokus laki-laki lebih pada urusan cari uang dan mereka relatif dibebaskan dari urusan rumah, termasuk mengurus anak dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Padahal, kalau ingin sukses menyusui, artinya si ayah harus terlibat dalam urusan anak dan rumah tangga," papar Anna. Konflik batin pun terjadi dalam diri si ayah, "Kalau saya bantu urusan domestik, kok, kesannya nggak laki-laki. Tapi, kalau saya tidak bantuin istri, kok, kasihan juga."

  • Menurut Anna, tidak semua pria ternyata bisa mengatasi konflik batinnya itu. Dan kadang-kadang yang timbul ke permukaan terwujud dalam hal-hal kecil (namun ampuh memancing keributan dengan istrinya).

  • Menyebabkan minder

  • Ketika pria tengah menghadapi tuntutan stereotip maskulinitas, dia akan bereaksi dengan banyak cara. Cara pertama adalah merasakan adanya jarak antara dia dengan stereotip ideal yang ingin dia capai. Misalnya, dia ingin jadi breadwinner, tapi ternyata dia tidak mampu. Efeknya, dia bisa minder atau lama-kelamaan depresi, yang bisa diungkapkan dalam berbagai bentuk, seperti mengurung diri, diam, dan tidak mau bicara pada istrinya.

  • Gampang melecehkan orang lain

  • Bila terlalu kuat memegang hal-hal ideal yang dituntut sesuai gendernya, orang jadi cenderung melecehkan orang-orang yang tidak mampu memenuhi tuntutan ideal itu. Misalnya, ketika pria dianggap anti menangis. Ketika seorang pria melihat pria lain sedang menangis, tanpa sadar dia akan melecehkan pria yang menangis itu. "Padahal, menangis karena ada alasan, misalnya orangtua meninggal, hal yang wajar," kata Anna. Namun, pria yang terjebak stereotip akan mengatakan, "Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan menangis." Bentuk-bentuk pelecehan ini, menurut Anna, akan berakibat buruk terhadap perkembangan laki-laki lain.

  • Maka, yuk, mulai sekarang, jika si lanang ingin bermain dengan boneka, atau si cantik lebih suka bermain dengan truk, biarkanlah. "Jangan membebani aktivitas belajar mereka dengan ekspektasi kelamin," kata Dr Hill. Mengurus boneka, sebetulnya bisa jadi media untuk mengajarkan rasa empati. Sementara menubrukan mainan mobil, dapat menjadi cara untuk tes sebab dan akibat. Keduanya merupakan bentuk permainan yang baik untuk setiap gender.

  • Advertisement
  • Penting juga untuk menemukan saat terbaik dalam menekankan pada anak-anak bahwa laki-laku dan perempuan bisa melakukan banyak profesi yang sama. Dari mengurus dapur, hingga menjadi hakim agung.

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Anak laki 'kok main masak-masakan sih? Eh tapi chef juga kebanyakan laki-laki. Nah lho!

"Masa anak laki-laki main masak-masakan, itu kan untuk anak perempuan." masih sering mendengar ucapan ini? Meski sebetulnya di sekitar kita, koki-koki ternama bahkan tukang nasi goreng gerobak, semuanya laki-laki, bukan?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr