9 cara menghalau kecenderungan materialistis pada anak

Materi, di zaman serba canggih ini, memang kerap dinilai sebagai hal terpenting yang harus dijadikan tolak ukur. Namun benarkah hal ini? Tentu tidak. Karena, sebagai manusia, masih banyak hal-hal penting lainnya yang harus didahulukan.

397 views   |   3 shares
  • Di era melek informasi kini, ada baik dan juga ada buruknya. Banyak pembelajaran yang bisa didapatkan anak dari tayangan dan bacaan yang mudah diakses. Namun, risiko pun muncul. Hal yang paling kentara dan dirasa cukup sulit bagi orangtua adalah membesarkan anak tanpa tumbuh menjadi pribadi materialistis.

  • Studi yang dilakukan oleh Penn State's Smeal College of Business, seperti dikutip dalam No More Misbehavin' yang ditulis oleh Michele Borba, Ed.D, menyimpulkan bahwa anak-anak sekarang lebih materialistis di usia yang lebih muda lagi. Karena itu, menjadi tugas orangtua untuk menanamkan pemahaman kepada anak bahwa karakter moral, kontribusi terhadap lingkungan, dan kualitas hubungan mereka akan jauh lebih bernilai ketimbang materi yang bisa diperoleh.

  • Dengan kata lain, orangtua perlu meyakinkan anak bahwa identitas mereka tidaklah didasarkan pada apa yang mereka punya, tetapi pada siapa mereka. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua:

  • 1. Membatasi tontonan televisi

  • Ini aturan yang sering disebutkan oleh para ahli. Sebaiknya anak tidak menonton lebih dari dua jam setiap hari. Penelitian menunjukkan bahwa lebih sedikit tontonan iklan di TV yang dilihat anak-anak, semakin kecil kemungkinan mereka akan menjadi materialistis.

  • Selain sejumlah program yang dibuat banyak yang masih tidak sesuai dengan usia anak, iklan yang muncul di antara program tersebut kerap menarik perhatian anak dan pada akhirnya membuat mereka menginginkannya. Tekan tombol mutedan berbicaralah/ajak anak Anda mengobrol, setiap kali iklan ditayangkan. Atau tonton acara yang tidak ada iklannya.

  • 2. Perhatikan SELF ESTEEM (penghargaan terhadap diri) anak

  • Penelitian di University of Minnesota menunjukkan, semakin materialis anak, semakin anak tersebut akan memiliki self esteemyang rendah. Semua baju, alat elektronik, yang mereka miliki ternyata 'menekan' penghargaan diri mereka dengan 'mengirimkan' pesan yang dangkal: "Identitasmu adalah apa yang kau miliki, dan bukan siapa dirimu."

  • Anda dapat mengubahnya dengan memberikan penghargaan kepada mereka dengan berfokus pada kualitas dalam diri mereka, seperti bahwa mereka 'cerdas' atau 'pribadi yang asik/menyenangkan'. Penelitian menunjukkan dengan melakukan hal ini dengan segera akan mengurangi kemungkinan anak menjadi materialis pada usia remaja mereka.

  • 3. Katakan "tidak"

  • Bukan tindakan tepat untuk selalu memberikan apa saja yang diinginkan anak. Lagi pula, menurut Michele, Anda tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan dalam hidup ini 'kan? Mengatakan "tidak" atau menolak membelikan benda-benda yang diinginkan anak bukanlah hal keliru. Jelaskan dengan sederhana beserta alasan Anda tentang aturan (baru) ini

  • Advertisement
  • 4. Hadiah tanpa membeli

  • "..Adik mau nurut kalau mama beliin mainan yang itu..". atau "Aku dibayar berapa..?"

  • Jika anak Anda seperti itu, itu tandanya selama ini mereka telah terbiasa mendapatkan rewarddalam bentuk uang atau benda sebagai upah jika mereka mampu bersikap lebih baik, atau mengerjakan sesuatu. Anda dapat mengubahnya dengan memberikan pujian, pelukan, dan tepukan di punggung mereka kapan saja mereka patut mendapatkannya.

  • 5. Menjadi panutan

  • Sebelum terburu-buru menyalahkan iklan di televisi maupun teman sepermainan anak, coba lihat kembali diri sendiri. Apakah Anda gemar mengoleksi barang tertentu yang harganya sangat mahal? Apakah Anda sebagai orangtua suka membeli aneka busana dari perancang atau merek terkemuka?

  • Kalau jawabannya iya, orangtua perlu membenahi diri. Perlu diingat, anak lebih meniru orangtuanya. Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang materialistis akan membesarkan anak yang lebih materialistis. Andalah contoh terbaik bagi anak-anak Anda dalam menghadapi dunia yang materialistis.

  • 6. Keinginan atau Kebutuhan?

  • Gunakan keputusan berbelanja sebagai peluang untuk mengajarkan perencanaan keuangan, termasuk bagaimana mengontrol keinginan yang tidak perlu. Saat berbelanja untuk keperluan sekolah, misalnya, minta anak untuk membuat daftar barang yang diinginkan lalu buat prioritasnya.

  • 7. Bangun kebiasaan berbagi

  • Tidak harus memaksa anak untuk mau menyumbangkan benda kesayangan mereka. Orangtua bisa menjadi contoh baik dengan menyumbangkan barang sendiri untuk kegiatan amal dan jelaskan alasan Anda melakukan itu. Setelah itu biarkan anak tahu bahwa mereka dapat mendonasikan barang-barangnya juga. Mereka juga belajar untuk melepaskan kesenangan dari barang yang dimiliki agar orang lain dapat merasakan, kesenangan yang sama, seperti yang dialaminya.

  • 8. Habiskan lebih banyak waktu dengan anak

  • Observasi menunjukkan bahwa anak-anak yang materialistis banyak melewatkan waktu untuk berbelanja dengan orangtua mereka, saat ada kesempatan keluar bersama-sama.

  • Coba jawab: Seberapa banyak kegiatan keluar Anda menekankan pada nilai-nilai non-material..? Tunjukkan kepada anak Anda, sisi lain dari kehidupan.

  • 9. Stop Menimbun Barang

  • Sediakan 3 kotak, masing-masing dengan tempelan tulisan:

  • SAMPAH (untuk barang-barang yang sobek, patah, atau rusak)

  • MEMORI/KENANG2AN (untuk barang-barang memiliki arti spesial)

  • AMAL(untuk mainan-mainan, asesoris, atau pakaian yang masih layak pakai)

  • Advertisement
  • Jelaskan pada anak Anda, bahwa ia harus menyimpan apa yang benar-benar ia butuhkan, ia pakai, dan ia gunakan, dan letakkan sisanya di kotak.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

9 cara menghalau kecenderungan materialistis pada anak

Materi, di zaman serba canggih ini, memang kerap dinilai sebagai hal terpenting yang harus dijadikan tolak ukur. Namun benarkah hal ini? Tentu tidak. Karena, sebagai manusia, masih banyak hal-hal penting lainnya yang harus didahulukan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr