Banyak 'pengalaman' tidak menjamin pernikahan jadi lebih awet

Pengalaman adalah hal yang pertama ditanya saat wawancara kerja, karena kerap digunakan sebagai acuan kapabilitas seseorang. Apakah hal ini berlaku juga dalam hubungan percintaan? Mereka yang lebih sering pacaran, lebih ahli saat menjalani pernikahan

435 views   |   2 shares
  • Hampir dalam setiap hal, memiliki banyak pengalaman adalah hal yang baik. Dalam bidang pekerjaan, pendidikan, hingga hobi, orang yang berpengalaman jelas lebih dicari. Namun, beda ceritanya dalam hal percintaan. Terutama berpengalaman dalam menjalin hubungan sebelum menikah. Demikian dikatakan Scott Stanley, Psikolog dan profesor di Universitas Denver, AS.

  • Ia pernah melakukan survei nasional mengenai kisah percintaan sebelum menikah, dan kaitannya dengan kualitas pernikahan di masa depan, yang dilakukannya pada usia jelang menikah. Hasilnya, semakin banyak pacar dan aktivitas seksual yang dilakukan seseorang sebelum menikah berkaitan erat dengan rendahnya kualitas hubungan saat sudah menikah. Sementara, mereka yang hanya melakukan hubungan seks dan hanya menjalani hubungan dengan orang yang dinikahinya, justru menjalani pernikahan dengan kualitas terbaik.

  • Bahkan, mereka yang "berpengalaman" dengan banyak pacar sebelum menikah lebih berisiko mengalami perceraian. Wah, mengapa? Menurut Stanley, sebelum bicara mengenai risiko, perlu diketahui dulu bahwa kebanyakan dari mereka yang gemar bergonta ganti pacar adalah orang-orang yang pernah menyaksikan sukarnya menjalani pernikahan, jauh sebelum mereka memulai hubungan percintaan. Misalnya, orangtua yang bercerai, pendidikan rendah atau kesulitan ekonomi karena bayangan sulitnya menikah tadi sudah tersimpan di kepala.

  • Nah, sementara, alasan mengapa hubungan pacaran berpengaruh dan memiliki implikasi yang signifikan terhadap tingkat kesuksesan pernikahan, adalah karena tiga hal berikut:

  • 1. Mengenal opsi "alternatif"

  • Salah satu hal mendasar dari komitmen adalah "Memilih, dan menyingkirkan kandidat yang lain". Memang, berkomitmen tidak lantas membuat alternatif lain menghilang begitu saja. Tak semudah itu. Karena itulah, bagian terpenting dari berkomitmen yakni melepas opsi lain dan mengerahkan seluruh energi pada satu orang yang terpilih. Alternatif adalah musuh komitmen.

  • 2. Memiliki ekspektasi tinggi: pasangan dengan aktivitas seksual terbaik

  • Dalam menjalani pernikahan, kadang ada rintangan berat seperti urusan anak, pekerjaan atau ekonomi. Kadang hal ini membuat pasangan kehilangan gairah seksual. Wajar saja, dan setelah badai berlalu, pasangan akan kembali normal. Namun, mereka yang "berpengalaman" memiliki ingatan akan hubungan seks dengan mantan-mantannya. Ini akan menimbulkan rasa membandingkan. Inilah yang justru akan membuat badai menerpa semakin kencang, dan sukar kembali ke saat-saat hubungan berjalan baik.

  • Advertisement
  • 3. Mereka yang berpengalaman, justru lebih mudah menyerah

  • Hobi berganti pacar, tentu hanya bisa dijalani oleh mereka yang mudah "move on" dari sedihnya putus hubungan. Sebab, gugur satu tumbuh seribu, bukan? Mudah meninggalkan kenangan putus, sebetulnya tidak buruk. Apalagi jika hubungan pacaran itu tidak memiliki masa depan. Namun jeleknya, mereka merasa putus hubungan merupakan hal yang biasa saja. Tidak sreg, ya tinggalkan. Mudah.

  • Jadi bagaimana sikap seperti ini bisa memengaruhi pernikahan? Ya, mereka akan belajar bahwa dirinya akan baik-baik saja setelah meninggalkan sebuah hubungan saat sudah dirasa tidak membahagiakan. Inilah yang akan membuat mereka mudah saja mengatakan cerai dan meninggalkan pernikahan yang dijalaninya. Mereka menyerah terlalu cepat.

  • Sedihnya, banyak yang memutuskan untuk menceraikan pasangannya setelah melewati begitu banyak penderitaan sebelumnya, dan usaha keras yang dilakukan pihak pasangan namun terabaikan begitu saja, kadang hingga bertahun-tahun. Tidak, mengambil keputusan bercerai memang harus dilakukan dengan matang dan tidak bisa terburu-buru dan bahkan kadang bukan keputusan terbaik. Tetapi, saat begitu banyak orang yang mudah gonta ganti pacar, kejadian ini akan terus berulang dan merugikan kedua belah pihak.

  • Namun sadarilah, tak banyak orang yang memang sengaja menghancurkan hidup orang lain dengan membuatnya merasa tak dicintai. Di sini kita bicara mengenai pengalaman berhubungan yang mungkin memiliki banyak pengaruh dalam mencapai tujuan pernikahan yang langgeng dan bahagia. Jadi jika kini Anda masih single dan ingin memiliki cinta sejati dalam pernikahan, jangan menyerah. Lakukan dua hal ini:

  • Jalani hubungan dengan bertahap, jangan terburu-buru karena Anda akan terus mengalami kejadian yang justru mampu mempertahankan pernikahan.

  • Tegaslah dalam membuat keputusan. Jangan sampai pacar masa lalu memengaruhi kebahagiaan masa depan pernikahan Anda.

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Banyak 'pengalaman' tidak menjamin pernikahan jadi lebih awet

Pengalaman adalah hal yang pertama ditanya saat wawancara kerja, karena kerap digunakan sebagai acuan kapabilitas seseorang. Apakah hal ini berlaku juga dalam hubungan percintaan? Mereka yang lebih sering pacaran, lebih ahli saat menjalani pernikahan
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr