Kendalikan perilaku agresif anak dengan memberi contoh positif

Frustasi dan dilema muncul di saat kita menghadapi perilaku anak yang emosi, agresif dan tak terkendali. Ciptakan lingkungan positif agar tercipta tumbuh kembang yang baik dalam diri anak.

596 views   |   4 shares
  • Rasa frustasi muncul saat si kecil yang memasuki umur 2 tahun berubah menjadi lebih mudah merengek, menangis, marah, dan sulit dikendalikan, apalagi disaat ia menginginkan sesuatu. Ia akan melakukan berbagai cara agar permintaannya dikabulkan.

  • Tentu sebagai orang tua Anda kerap merasa dilematis, jika keinginan mereka tidak terpenuhi anak dapat berubah menjadi anak yang penuh emosi dan agresif tanpa melihat situasi dan kondisi saat itu. Namun di sisi lain, saat kita selalu memenuhi keinginannya, ia akan menjadi anak yang manja dan menjadikan tangisan sebagai 'senjata' setiap menginginkan sesuatu.

  • Seperti apa yang dilakukan keponakan saya, Gibran, yang meminta mainan dari temannya tetapi tidak digubris. Gibran langsung menarik mainan temannya tersebut sembari memukul karena si teman tetap mempertahankan mainannya. Ibu Gibran pun langsung turun tangan dengan memberinya pengertian dan penjelasan bahwa ia harus meminta ijin untuk main bersama tanpa harus menyakiti temannya.

  • Tidak sampai di situ, Ibu Gibran pun semakin khawatir dengan sifat anaknya yang semakin berubah menjadi anak yang kasar dan agresif. Ia sempat menggigit ayahnya dan menendang pamannya. Kekhawatiran pun berubah menjadi frustasi di saat perilaku Gibran tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik.

  • Yang terjadi pada batita seperti Gibran adalah kesadaran mereka saat menginginkan sesuatu semakin berkembang dan mereka ingin menyampaikan keinginannya, namun sayangnya mereka masih memiliki keterbatasan bahasa sehingga kerap menjadi 'frustasi' saat keinginannya tidak dikabulkan. Yang terjadi, mereka berusaha mendapatkan keinginannya dengan caranya sendiri secara spontan. Mereka menyalurkan energi dan emosinya melalui gerakan fisik seperti merebut, memukul dan sebagainya.

  • CARI TAHU PENYEBABNYA

  • Jangan terlalu cepat menilai sifat agresif telah menjadi kepribadian si kecil. Pantau dan arahkan anak untuk mengendalikan sifat agresifnya. Kepribadian seorang anak akan terbentuk seiring dengan bertambahnya usia dan faktor lingkungan yang ada di sekitarnya.

  • Perhatikan aktivitas anak Anda, apakah ia mengamati dan meniru adegan kekerasan melalui gadget dan televisi atau orang-orang yang ada di sekitarnya? Apakah kita atau anggota keluarga, ada yang juga bersifat tempramental dan biasa menyampaikan keinginannya dengan cara berteriak dan melakukan kontak fisik seperti memukul, memaki dan lain-lain?

  • Jika kondisi ini terjadi pada anak Anda, jaga ia untuk menghindari perilaku tersebut. Sebagai orang tua, Anda sebaiknya juga dapat mengoreksi sifat buruk Anda (dan orang yang lebih tua di sekitar anak) dan bisa menjadi teladan yang baik untuk tumbuh kembangnya. Bagaimanapun juga anak adalah peniru ulung terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

  • Advertisement
  • Selain faktor eksternal, faktor internal anak seperti nalar dan logika belum berkembang dengan sempurna sehingga cenderung melakukan tindakan berdasarkan insting dan impulsif. Ketenangan Anda pun semakin diuji, karenanya lebih baik Anda tetap sabar menghadapi perilaku agresif anak dan jangan memberinya hukuman karena ia belum mengerti dan akan membuatnya semakin agresif.

  • BERI PENGERTIAN DAN CONTOH POSITIF

  • Ada kondisi anak dalam keadaan bad mood dan mulai merengek dan makin agresif saat kita tidak mengerti apa yang ia inginkan. Biasakan untuk memberinya pelukan atau ciuman, sambil bertanya, "Adik mau apa? Sudah ya nangisnya, kalau adik nangis, mama tidak tahu apa yang adik inginkan." Lama kelamaan ia akan terbiasa untuk mengutarakan maksudnya.

  • Berpikirlah dengan cara pandang anak, ia pun berjuang untuk mengutarakan keinginannya. Bagi anak yang belum lancar bicara, Anda bisa memberinya semangat dan bisa ajak dia untuk menunjuk keinginannya, "Adik mau apa? Tunjuk sayang agar Ibu tahu maksudmu." Dengan cara ini anak Anda pun akan terbiasa untuk berkomunikasi walaupun hanya menggunakan bahasa tubuh.

  • Namun tidak setiap saat keinginannya bisa Anda penuhi, berilah pengertian dengan bahasa yang sederhana agar ia mengerti, misal sesuatu yang berbahaya untuk dirinya. Jika ia makin agresif, menangis tambah kencang atau melakukan kontak fisik, yang perlu Anda lakukan pertama adalah coba untuk menenangkannya dengan mengalihkan perhatiannya. Setelah ia tenang baru Anda dapat mengajaknya berbicara dan mengarahkan perilakunya. Jangan banyak bicara saat ia menangis, karena akan membuat keadaan semakin 'drama' dan sulit dikendalikan.

  • MENGENDALIKAN PERILAKU ANAK

  • Semakin bertambahnya umur, logika anak akan berkembang dan perasaan mereka pun akan semakin peka dengan lingkungan sekitar. Yang harus Anda lakukan adalah ciptakan lingkungan sekitar yang postif demi membentuk karakter anak yang positif pula, dengan beberapa langkah berikut:

    • Pantau terus apa yang memicu anak menjadi agresif, sehingga Anda pun akan mengerti dan tetap tenang saat harus mengambil tindakan yang sesuai, karena setiap anak memilki karakter dan kondisi yang berbeda.

    • Hujanilah ia dengan kasih sayang untuk meningkatkan kepekaan pada lingkungan sekitarnya, misalnya Ayah dan Bunda lebih sering memeluk dan mencium anak atau dengan memelihara seekor binatang di rumah dan ajarilah si kecil untuk bersama-sama merawatnya dengan memberinya makan atau ikut memandikannya.

    • Batasi anak dalam menggunakan gadget dan batasi anak untuk menonton film yang menayangkan adegan kekerasan, baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik.

    • Ajak seluruh anggota keluarga untuk memberikan contoh yang baik sehingga tercipta lingkungan yang positif untuk tumbuh kembang anak.

    • Ajaklah anak untuk sering bersosialisasi dengan teman sebayanya, sehingga ia akan belajar untuk menghargai dan mengasihi sesama.

    • Jika Anda kewalahan menghadapi sikap agresif anak Anda dan tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapinya, segera konsultasikan dengan ahli tumbuh kembang anak.

    • Beri pujian atau hadiah yang sesuai saat ia menunjukan perubahan positif. Misalnya, saat hari itu ia berperilaku baik, beri ia stiker yang dapat ditempel di bajunya. Atau tantanglah ia untuk mengumpulkanstiker pada kertas yang ditempel di tembok. Semakin sering menunjukan perilaku baik, ia pun akan senang dengan koleksi stiker yang semakin bertambah.

  • Advertisement
Klik pilihan berbagi di bawah ini

Setelah melahirkan Raphael, Celerina memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus buah hatinya tanpa bantuan baby sitter. Disinilah ia kemudian menemukan passion-nya yang baru yaitu memasak khususnya menu MPASI (Makanan Pendamping ASI)

Kendalikan perilaku agresif anak dengan memberi contoh positif

Frustasi dan dilema muncul di saat kita menghadapi perilaku anak yang emosi, agresif dan tak terkendali. Ciptakan lingkungan positif agar tercipta tumbuh kembang yang baik dalam diri anak.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr