Menghadapi anak yang serba 'keukeuh'? Ini triknya

Kerap disebut tukang melawan atau keras kepala, anak berkeinginan kuat ini memang bukan mereka yang mudah ditaklukan. Namun, tidak boleh menyerah. Sebab, seperti semua anak di mana pun, mereka hanya butuh dicintai, kok.

644 views   |   2 shares
  • Anak Anda "tak tergoyahkan" dari keinginannya? Terlihat amat keras kepala dan sukar dinasihati? Penuh semangat dan sangat pemberani? Ya, dia adalah anak yang berkeinginan kuat. Mereka lebih memilih belajar hal baru dengan caranya sendiri ketimbang mendengarkan instruksi orang lain. Hal ini yang mengakibatkan mereka seolah terus menerus memberikan tes limit pada diri sendiri dan tentu saja, orangtuanya. Jika ada hal yang membuatnya penasaran, ia akan terus mengejarnya dengan sepenuh hati dan jiwa raga, bahkan tak terlihat lelah. Anda yang lelah? Ya, wajar.

  • Sebab, anak berkeinginan kuat memang kerap terlibat "adu ngotot" dengan orangtuanya. Untuk itu, psikolog dr Laura Markham mengingatkan, Anda tak perlu terlibat pada setiap argumen dengannya. Tarik nafas setiap kali tombol amarah terpencet, dan jagalah wibawa Anda agar tidak berdebat dengan si empat tahun dengan sikap seolah Anda juga masih berusia empat tahun.

  • Tak ada orang yang senang disuruh-suruh, setiap saat. Dan hal ini amat tak tertahankan bagi si anak berkeinginan kuat. Satu-satunya cara mencegah "adu ngotot" adalah dengan membuat anak merasa dimengerti, meski saat orangtua sedang menerapkan batasan yang harus dipenuhi anak. Berempati, dan memberi pilihan serta mencoba memahami pilihan yang ingin mereka jalani, akan menimbulkan rasa saling menghargai satu sama lain. Hal ini juga akan membuat anak belajar keahlian negosiasi dan kompromi.

  • Sesungguhnya, kata Markham, anak berkeinginan kuat, bukan dengan sengaja mempersulit keadaan. Mereka hanya merasa intergritasnya terganggu jika dipaksa untuk menuruti perintah orang lain, apalagi yang berkaitan dengan hidupnya. Maka, jika mereka diizinkan untuk memilih, tentunya akan lebih mudah untuk menjadi kooperatif. Jika hal ini berat bagi Anda, karena anak yang patuh adalah hal yang terpenting, maka sebaiknya pertimbangkan lagi hal itu. Anak yang patuh akan melakukan hal yang baik agar orangtuanya senang. Dan bagaimana jika Anda tak ada? Ingatlah, yang dimaksud dengan moralitas berarti melakukan hal yang benar, dengan kesadaran sendiri sementara patuh adalah melakukan yang Anda perintahkan, tanpa peduli hal itu benar atau salah, sebenarnya.

  • Ya, Anda pasti ingin si kecil melakukan hal yang Anda minta. Namun bukan karena ia sekadar penurut, yang berarti akan melakukan apa yang diperintahkan orang dewasa padanya. Bukan. Anda ingin anak melakukan apa yang Anda minta karena ia mempercayai Anda. Karena ia telah belajar, meski Anda tak bisa selalu setuju pada yang ia inginkan, Anda sebenarnya selalu mengerti dirinya dan isi pikirannya yang penuh semangat itu. Ingatlah, Anda ingin membesarkan Anak yang mampu mendisiplinkan dirinya sendiri, bertanggung jawab, peka dan -yang paling penting- kearifan dalam menentukan sosok yang bisa dipercaya dan berpengaruh pada dirinya.

  • Advertisement
  • Dr Laura Markham pun membagi beberapa tips dalam menghadapi si "keras kepala" ini

  • 1. Hindari "adu ngotot" dengan menggunakan rutinitas dan aturan jelas.

  • Dengan cara ini, Anda bukan si "polisi jahat" yang tugasnya mengatur-atur hidup si kecil. Konsisten saja dengan"Aturannya, selesai main langsung dibereskan baru main yang lain," atau "Jadwalnya, lampu kamar sudah harus mati jam 8 malam, kalau kamu cepat, kita bisa baca dua buku sebelum tidur,"

  • 2. Ingatlah anak berkeinginan kuat belajar dengan eksperimen.

  • Artinya, mereka harus mencoba sendiri bahwa kompor itu panas. Maka, biarkan mereka belajar dari pengalamannnya, kecuali hal itu benar-benar berbahaya. Kurangi rasa mengontrol Anda.

  • 3. Mereka menginginkan kemahiran di atas segalanya.

  • Biarkan ia bertanggung jawab pada kegiatannya sendiri, sesering mungkin. Jangan menyuruhnya ini itu, lebih baik ingatkan saja "Kira-kira hal apa yang harus kita lakukan sebelum pergi ya?" jika ia terlihat binging, katakan: "Setiap pagi, kita sarapan, menggosok gigi, buang air dan membereskan tas. Ayah/Ibu lihat tas kamu sudah rapi, bagus sekali. Sekarang apa yang belum ya?"

  • 4. Berikan pilihan.

  • Jika Anda memberi perintah, ia sudah pasti pasang posisi "siap perang". Namun jika Anda memberi pilihan, ia akan merasa menjadi si jagoan dalam menentukan takdirnya. Ya tentunya, berikan pilihan pada hal-hal yang bisa diterima ya. Misalnya, saat semua wajib ikut ke rumah nenek, namun ia masih ingin main, berikan pilihan: "Mau pergi sekarang atau 10 menit lagi? Oke. 10 menit ya? Jika masih susah berhenti bermain dalam 10 menit, apa yang bisa Ayah/Ibu bantu?"

  • 5. Berikan dirinya otoritas pada tubuhnya sendiri.

  • "Oh, kamu tidak mau pakai jaket. Tapi Ayah/Ibu takut kamu kedinginan sebab di luar hujan. Ya, tapi kamu berhak kok atas tubuh kamu sendiri, selama kamu aman dan sehat. Jadi bagaimana, kalau Ayah/Ibu simpan jaket kamu di tas, kalau saja nanti saat keluar, kamu berubah pikiran?"

  • Anak Anda juga tahu kapan dirinya akan merasa kedinginan dan perlu mengenakan jaket. Jadi, saat ia menolak, tak perlu marah. Ia hanya bersikap gengsi, dan nantinya ia juga akan merasakan sendiri.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menghadapi anak yang serba 'keukeuh'? Ini triknya

Kerap disebut tukang melawan atau keras kepala, anak berkeinginan kuat ini memang bukan mereka yang mudah ditaklukan. Namun, tidak boleh menyerah. Sebab, seperti semua anak di mana pun, mereka hanya butuh dicintai, kok.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr