Bagaimana mengatasi perasaan ditolak sebagai seorang penulis?

Tidak ada manusia yang suka ditolak, apalagi jika berkaitan dengan hasil karya yang dilakukan penuh jerih payah. Begitu juga seorang penulis. Ditolak oleh penerbit, merupakan momok tersendiri yang bisa menurunkan rasa percaya diri.

231 views   |   shares
  • Kebanyakan penulis memang sensitif, dan hal itu baik untuk kegiatan menulis yang penuh perasaan dan membuat orang terenyuh di dalamnya. Sayangnya, karena rasa sensitif itu juga, penulis kerap rentan terhadap penolakan. Oleh karena itu, penolakan dari penerbit atau media, akan membuat penulis mudah patah arang.

  • Sayangnya lagi, banyak dari penulis yang menutupi luka ditolak tadi dengan melakukan pengabaian. Rasa ditolak dan diberikan kritik keras atas tulisannya ini -tanpa sadar- membatasi kreativitas mereka. Aurora Azzura, pemilik Aura Publisher sekaligus pendiri Aura Publisher Pen Club, pernah menuliskan lima fase yang di alami oleh penulis setelah tahu karyanya ditolak oleh penerbit.

  • Fase 1

  • yaitu setelah dia mengetahui karyanya ditolak oleh penerbit adalah fase penolakan. Mereka mengganggap bahwa karya mereka yang terbaik. Jadi tidak pantas untuk disepelekan seperti ini.

  • Fase 2

  • setelah melewati fase 'Denial", mereka akan memasuki fase "Anger" atau marah. Jengkel alias kesal. "Bagaimana sih Editornya ini. Bisa menilai sebuah karya tidak sih? Jangan-jangan Editornya sedang Bad Mood kali. Jadi semua karya tak benar dimatanya."

  • Fase 3

  • yaitu "bargaining". Mereka mencoba untuk melakukan pendekatan sekali lagi ke Penerbit agar karyanya dapat diterima dengan baik dan dinikmati oleh pembaca sejagat. Masa "bargaining" lewat kemudian selanjutnya mereka akan melewati masa "Depression" alias Depresi. Setelah melancarkan segala bujuk rayu ternyata tidak cukup kuat meruntuhkan pertahanan sang Editor. "Sudahlah kalau begitu pensiun aja dari dunia tulis menulis. Kayanya memang gue gak bakat jadi penulis."

  • Fase 4

  • yaitu "Acceptance" alias pasrah. Setelah melewati 4 fase ternyata mereka tidak mampu bertahan dalam upaya mengabaikan panggilan jiwanya untuk menulis. Maka ia akan kembali menulis. Panjang sekali, ya? Padahal kalau fase-fase tersebut bisa dipangkas, seseorang tak perlu terlalu lama untuk move on dan kembali menulis setelah mengalami penolakan. Laman Litrejections.com menuliskan 10 cara bagi penulis untuk mengatasi penolakan:

    1. Tunjukkan kerendahan hati - Anda harus memahami aturan terpentingnya: Anda bukan penulis terbaik di dunia, dan belum menulis buku terbaik juga. Ulang terus mantra ini untuk menyingkirkan ego yang dapat mengakibatkan kemarahan.

    2. Tulis surat penolakan untuk diri sendiri- tulis dan kirimkan surat ini kepada diri sendiri, dan buatlah isinya sekasar mungkin untuk menguatkan hati menghadapi penolakan.

    3. Beristirahatlah sejenak- objektivitas adalah kunci untuk manuskrip yang baik. Jadi, keluarlah. Berjalan santai, mendengarkan musik, berbelanja, pijat bahkan pergi ke luar kota. Apa saja selain membaca. Kegiatan ini akan me-refresh mata saat Anda kembali ke meja dan mulai menulis.

    4. Self-Publish - respons ini belakangan cukup popular, sebagai batu loncatan, jika di kemudian hari akan kembali memasukkan manuskrip ke penerbit besar. Anda bisa membuktikan bahwa ada pasar bagi buku tersebut.

    5. Bandingkan buku yang sudah terbit dengan karya Anda- bacalah tiga bab pertama dalam dua karya tersebut. Apa yang paling ditonjolkan dalam 3 bab tersebut dan yang kira-kira menarik pembaca juga penerbit. Bacalah juga karya penulis yang baru saja diterbitkan oleh perusahaan penerbit yang menolak Anda. Apa yang membedakan karya Anda dan buku itu? Telusuri dengan detail.

    6. Tampilkan penolakan Anda- tidak perlu malu dengan penolakan. Hal ini terjadi pada setiap penulis. Lebih baik rayakan saja hasil karya Anda, yang kini masih berada dalam proses menuju publikasi.

    7. Bergabung dalam kursus menulis kreatif- berada di dalamnya akan memberi ide dan membantu Anda untuk melakukan pembaharuan dalam manuskrip. Apalagi kadang, agen dan penerbit muncul sebagai pembicaranya. Anda bisa mengambil banyak ilmu.

    8. Tuliskan satu halaman penuh, alasan Anda mencintai dunia penulisan- ulang kembali memori pertama kali Anda menulis, dan buku pertama yang menginspirasi. Hal ini akan membangkitkan semangat kembali.

    9. Berbagi rasa- bisa dengan teman, atau jaringan pertemanan online. Ini akan meringankan beban di pundak Anda, bahkan menghilangkan perihnya luka ditolak.

  • Advertisement
  • 10

  • Tulis hal lain- baik buku baru, atau cerita pendek. Banyak penulis terkenal yang melakukan hal ini, dan kemudian kembali lagi memperbaharui naskah yang pernah ditolak setelah buku kedua atau ketiga. Kegiatan ini efektif untuk mengobati luka hati.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Bagaimana mengatasi perasaan ditolak sebagai seorang penulis?

Tidak ada manusia yang suka ditolak, apalagi jika berkaitan dengan hasil karya yang dilakukan penuh jerih payah. Begitu juga seorang penulis. Ditolak oleh penerbit, merupakan momok tersendiri yang bisa menurunkan rasa percaya diri.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr