Ajarkan anak mengendalikan diri sedari kecil

Seiring bertumbuh dewasa, godaan dan ambisi akan semakin besar. Jika tidak dilatih cara mengendalikan diri, tentu seseorang akan semakin mudah salah jalan.

233 views   |   3 shares
  • Pernah mengenal orang di sekitar, yang amat serakah? Tak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki, lalu terus mengejar segala sesuatu dengan segala cara? Hal ini tak hanya berlaku pada materi, namun juga rasa cinta. Dan biasanya berujung pada perselingkuhan atau tindakan korupsi dan sebagainya.

  • Sebetulnya seringkali mereka yang tak pernah merasa cukup, adalah karena yang mereka dapatkan adalah hal-hal yang diinginkan. Bukan dibutuhkan. Sebab kadang, hal ini terkubur didalam hati terdalam, dan tak pernah berusaha untuk digali. Biasanya disebabkan trauma. Misalnya si A, semasa kecilnya terbiasa dengan orangtua yang tidak pernah ada di rumah karena sibuk bekerja. Ia biasa diberikan apa saja yang diinginkanya, namun semuanya hanya berupa materi.

  • Namun dirinya merasa tidak pernah puas dan seolah menginginkan segala hal di dunia. Semua benda, dan apa saja yang bisa dibeli. Sehingga saat dewasa, ia tumbuh menjadi orang yang terus menerus bekerja, dan melakukan segala cara untuk mendapatkan kekayaan juga jabatan, karena merasa dirinya amat membutuhkan hal itu. Ia juga tak bisa setia pada pasangannya, dan kerap berselingkuh karena ia merasa bisa membeli segalanya, termasuk pasangan. Hal ini dilakukan untuk menggantikan yang tak dimilikinya saat kecil dulu. Untuk memiliki semua yang tak pernah ia miliki.

  • Padahal sebetulnya, yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang. Ia membutuhkan teman, atau keluarga kecil yang selalu ada dan mendukungnya. Segala hal biasanya dimulai dari masa kecil. Seperti yang dikatakan dalam Teori Psikoanalisis Sigmund Freud, masa kanak-kanak memegang peran menentukan dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku manusia ketika dewasa kelak. Inilah pentingnya melakukan acknowledge (mengakui) perasaan sejak dini. Seseorang harus memahami siapa dirinya, dan apa yang sebetulnya paling dirasakan dan diinginkan.

  • Hal ini pernah diungkap juga oleh psikolog anak dari klinik Rainbow Castle, Devi Sani. Menurutnya, berempati sangat penting dalam pengasuhan anak. Salah satunya adalah dengan mendengarkan dan menerima tanpa ingin buru-buru menyelesaikan masalah, juga mengakui perasaannya saat sedang emosi. Dengan kalimat seperti "Kamu kelihatannya kesal ya tidak dipilih masuk tim futsal?" tidak mudah, memang. Namun hal ini akan membantu anak mampu memahami dan menerima sendiri emosi yang ia rasakan. Hal inilah yang membuat emosi-emosi besar tak terkontrol menjadi terlegakan. Dan bahkan membantunya tumbuh dengan mengenal siapa dirinya.

  • Advertisement
  • A, tumbuh dengan rasa kesepian. Ia merasa sedih dan menginginkan kehangatan. Namun tak ada satu pun yang mengakui hal itu, justru mengalihkannya dengan materi. Maka, ia pun tak pernah mengenal siapa sebetulnya ia, dan apa kebutuhan utamanya. Hal ini membuat emosi terpendam dan terus menjadi besar. Yang kemudian dibalaskannya saat dewasa.

  • Padahal menurut penulis buku Seven Habits of Highly Effective people, Steven Covey, orang yang mendasarkan hidupnya pada materi tidak akan pernah menemukan kebahagiaan dan tidak akan pernah menemukan apa yang mereka cari karena memang mereka tidak tahu apa yang mereka cari, mereka mencari kenikmatan dan kesenangan padahal kesenangan atau kenikmatan itu semu dan bersifat sementara.

  • Kalau materi, kesenangan dan kenikmatan masih menjadi tujuan hidup, bukan sarana hidup maka manusia tidak akan pernah puas dan menjurus menjadi serakah, karena selalu saja ada kekosongan. Frankl berpendapat kekosongan itu dapat terisi kalau seseorang sudah menemukan meaning atau makna dalam hidupnya. Mengacu pada teori Frankl, Pattakos dalam bukunya yang berjudul Lepas Dari Penjara Pikiran berpendapat bahwa kebutuhan atau dorongan untuk mencari kesenangan ala Freud dan upaya gigih mengejar kekuasaan ala Adler sesungguhnya hanyalah upaya-upaya untuk menutupi tetapi tidak selamanya mengisi kekekosongan makna dalam kehidupan orang-orang tersebut. Orang-orang mengejar kenikmatan karena belum menemukan makna hidupnya.

  • Sudah menonton film Kungfu Panda 3? Film animasi tersebut menceritakan soal proses acknowledge dengan amat baik. Bagaimana si ksatria Naga, Po, mencari tahu siapa aku? Dan apa yang paling dibutuhkannya. Dan hal itu ternyata kunci dari semua hal yang harus dihadapinya. Dalam film itu pun ada sebuah kutipan bagus dari master Oogway. Ia mengatakan: "The more you get, the less you have" (semakin banyak yang kamu peroleh, semakin sedikit yang kamu punya). Ya, menjadi serakah bukan jawaban dari persoalan kehidupan.

  • Karena "The more you get, you got to get more" hanya akan menjadikan Anda menjadi serakah dan menghalalkan segala cara termasuk korupsi, mencuri dan sebagainya. Kenali diri Anda dan bersyukurlah.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ajarkan anak mengendalikan diri sedari kecil

Seiring bertumbuh dewasa, godaan dan ambisi akan semakin besar. Jika tidak dilatih cara mengendalikan diri, tentu seseorang akan semakin mudah salah jalan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr