4 kiat menghadapi 'si self-centered'

Berteman adalah saling berbagi, baik suka maupun duka. Menjadi pendengar, sekaligus didengarkan. Lalu bagaimana jika berteman dengan orang yang self-centered? Dia yang hanya ingin didengar dan menguasai Anda.

604 views   |   2 shares
  • Pernahkah Anda mengenal, atau bahkan berteman baik dengan seseorang yang hangat, menyenangkan dan amat populer karena punya begitu banyak teman hingga seluruh perhatian terpusat hanya padanya? Dalam topik apa pun yang dibahas, orang ini selalu saja menceritakan tentang dirinya, dan seolah itu adalah hal yang terpenting di dunia. Aku, dan aku saja. Namun ya, Anda tak bisa pergi darinya karena ia membuat Anda merasa begitu spesial menjadi teman si populer.

  • Ya, self-centered. Mereka biasanya terlihat amat perhatian dan penuh dengan kehangatan. Namun karena itulah, mereka berhasil menyedot semua perhatian hanya pada dirinya. "Saat ada dia, maka hal yang penting hanya tentang dirinya.." menurut F. Diane Barth, seorang psikoterapis dari New York, AS, di laman psychology today. Anda akan merasa tak berharga tanpanya.

  • Bahkan, menurut dia, ada kalanya dalam dunia bekerja, orang ini membuat Anda merasa begitu spesial, memuji-muji Anda dan selalu siap membantu dalam "lingkaran" pertemanan. Meski ternyata, di luar lingkaran itu, orang-orang lain merasa Anda tidak bisa melakukan pekerjaan dengan baik karena ia memanfaatkan Anda dengan mengklaim pekerjaan yang Anda lakukan merupakan hasil kerjanya. Karena itu, Anda tak punya teman lain selain dirinya. Maka sulit sekali menjauhinya.

  • Jadi bagaimana caranya mengatasi orang yang seperti ini?

  • Pertama-tama, jadilah realistis. Kita semua pasti punya kecenderungan self-centered. Menurut RR. Ardiningtiyas Pitalika, M.Psi dalam laman psychoshare; Bukankah kita juga sering kurang lebih berkata sama ketika orang lain atau sahabat kita bertanya "Menurut kamu, saya seharusnya bagaimana? "Alih-alih menempatkan diri kita pada posisi dia, kita memang berpindah tempat namun tetap membawa (diri) perspektif pribadi dalam posisi itu. Yang terjadi, adalah pikiran dan perasaan sayapada situasi dia,yang berarti tidak mengakomodir pikiran dan perasaan (elemen kehidupan) dia sebagai pelaku di kondisi tersebut.

  • Pikiran dan perasaan sayatentu berbeda, karena sayamemiliki sejarah kehidupan berbeda dengan dia (orang lain), yang ironinya juga disadari. Kurang lebih inilah yang membuktikan bahwa tidak jarang orang dewasa ternyata masih memusatkan dunia sosial pada diri sendiri.

  • Namun demikian, kadang hal ini memang dibutuhkan dalam hal positif. Misalnya jika ada kekurangan oksigen di pesawat, kita harus memakai masker terlebih dahulu baru membantu orang lain. Ya, sebab jika kita tidak menjaga diri sendiri, kita juga tak bisa menjaga orang lain. Sayangnya, keberadaan sifat ini tak bisa diterapkan pada segala hal, terutama yang negatif.

  • Advertisement
  • 1. Lakukan penilaian pada kerugian yang Anda alami karena dia

  • Hal ini penting untuk membuat Anda bisa lepas darinya. Berpikirlah dengan matang, seberapa penting ia dalam hidup Anda? Apakah dengan menjaga jarak dengannya Anda kehilangan dunia? Apakah ia benar-benar peduli pada Anda?

  • 2. Pertimbangkan semua aspek

  • Apakah Anda ingin menjauhinya atau tetap berteman baik? Mungkinkah? Anda takut terlihat seperti orang jahat? Atau justru membiarkan diri Anda menjadi "korban" nya terus menerus? Ia mungkin marah. Anda mungkin dicap sebagai orang jahat. Namun sudahlah, tiba saatnya untuk memikirkan diri Anda. Ia punya hal untuk benci karena Anda berhenti jadi dayang-dayangnya; tetapi Anda juga punya hak untuk menolak dirinya merusak jiwa Anda.

  • 3. Move on.

  • Diva akan selalu mampu menemukan penonton lainnya. Jika Anda bukan lagi penggemarnya, mereka juga akan move on dari Anda. Persiapkan diri untuk melakukan hal yang sama. Anda akan menemukan teman lain, yang justru lebih baik darinya. Ingat selalu bahwa, bergaul dengan seseorang yang tidak menganggap Anda sebagai manusia, persahabatan Anda telah kehilangan "bahan" utamanya.

  • 4. Belajar dari pengalaman

  • Dua psikoanalis, Frank Lachmann and Robert Stolorow, pernah mengatakan bahwa berdekatan dengan si self-centered, akan membuat kita turut dalam kemilaunya. Meski ada harga yang harus dibayar. Meninggalkannya akan terasa menyakitkan, namun inilah kesempatan Anda untuk melihat dunia dari perspektif lain.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

4 kiat menghadapi 'si self-centered'

Berteman adalah saling berbagi, baik suka maupun duka. Menjadi pendengar, sekaligus didengarkan. Lalu bagaimana jika berteman dengan orang yang self-centered? Dia yang hanya ingin didengar dan menguasai Anda.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr