Batal menikah? Oh No!

Sudah mempersiapkan segalanya dari prosesi hingga undangan, tiba-tiba batal menikah? Oh No! Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Sebab memalukan dan menyedihkan. Namun bijakkah memaksakan suatu pernikahan?

3,619 views   |   12 shares
  • Sudah melewati banyak proses seperti perkenalan keluarga, lamaran dan sebagainya dalam rangkaian menyiapkan pernikahan. Tiba-tiba sesuatu yang besar terjadi, dan rencana pernikahan buyar begitu saja. Gagal, dan tak terjadi. Pernah mendengar kisah seperti ini, sebelumnya?

  • Kegagalan kerap dianggap sebagai akhir dari segalanya bagi kebanyakan orang. Tak pelak, kegagalan sering berujung pada penyesalan yang tidak berkesudahan, serta kondisi mental yang rapuh sehingga sulit untuk kembali melanjutkan kehidupan.

  • Psikolog Ratih Ibrahim mengungkapkan, batal menikah secara tak langsung berakibat pada penurunan drastis rasa percaya diri dan penghargaan terhadap diri sendiri. Selain itu, gagal menikah sangat berkorelasi dengan kecenderungan seseorang memilih calon pasangan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dimilikinya. Terkadang malah sudah mengetahuinya, tapi tetap memaksakannya dengan alasan jatuh cinta.

  • Namun sebenarnya apa sih yang bisa membuat pasangan, atau seseorang memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan? Ada beragam alasan menjadi penyebab kegalauan calon pengantin sebelum mereka menuju pelaminan. Tak jarang karena kegalauan begitu kuat, akhirnya calon pengantin pun memutuskan untuk membatalkan pernikahan. Munculnya alasan kegalauan prapernikahan ini tak pelak dipengaruhi oleh keluarga dan teman dekat.

  • Alasan pertama calon pengantin mempertimbangkan pernikahannya adalah status sosial. Biasanya kendala status sosial juga didorong oleh penolakan orangtua. Ada alasan ekonomi, membatalkan karena merasa tidak sejajar dengan latar belakang pasangannya. Saat kedua belah pihak keluarga diperkenalkan, mulailah terjadi masalah terkait status sosial. Akhirnya pernikahan ini berujung batal.

  • Selain faktor ekonomi, biasanya batalnya pernikahan juga karena kelakuan pasangan yang baru ketahuan belakangan. Kelakuan pasangan yang selingkuh atau kriminal menjadi pertimbangan calon pengantin tidak melanjutkan proses pernikahan.

  • "Pertimbangan menemukan fakta begitu berfikir jauh ke depan. Sekarang saja begini, gimana ke depannya lebih benar memutuskannya, jangan dijalanin," tambah psikolog Tika Bisono.

  • Terakhir yang paling penting, menurut Tika, adalah faktor motif atau tujuan pernikahan. Faktor ini adalah dasar membangun rumah tangga, jika visi dan misi berbeda otomatis pernikahan diprediksi tidak akan berjalan mulus.

  • "Motif pernikahan itu harus untuk membangun keluarga, harus dicek. Jangan nikah kalau motifnya lain, seperti gara-gara mau kabur dari rumah," tuturnya. Hal inilah yang tak bisa dipaksakan, sebab nanti konsekuensinya bubar kalau tidak ada kesiapan mental luar biasa. Kalau mau membangun keluarga memang harus dilakukan secara alamiah.

  • Advertisement
  • Senada dengan Ratih Ibrahim dan Tika Bisono, dalam kacamata psikolog Ayoe Sutomo, batal menikah merupakan salah satu proses seseorang dalam satu tahapan atau kegiatan yang mengartikan pembelajaran hidup. Menurutnya, dalam memaknai sebuah kegagalan, ada dua pilihan bagi yang mengalaminya, yaitu terpuruk atau bangkit.

  • "Pilihan yang sangat personal bagi seorang individu ketika dihadapkan pada sebuah kegagalan. Di mana proses memilih sesungguhnya dipengaruhi oleh dukungan dari lingkungan atau figur penting yang ada di sekitar individu yang mengalaminya," jelas Ayoe.

  • Ayoe pun menambahkan, rasa malu biasanya yang paling utama mengiringi ketika seseorang batal menikah. Tidak hanya perempuan, pria pun pasti merasakan yang sama. Diakui Ayoe, penyebab rasa malu ini adalah faktor budaya. Budaya ketimuran cenderung melibatkan banyak orang dan anggota keluarga dalam proses persiapan pernikahan, sehingga gagal menikah menjadi tekanan tersendiri bagi seseorang yang mengalaminya.

  • "Diperlukan dukungan orang terdekat untuk penguatan positif. Sebaiknya, hindari pernyataan atau ucapan yang bersifat menyalahkan dan memojokkan, tapi beri dukungan moril yang bersifat kooperatif," tutup Ayoe.

  • Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Batal menikah? Oh No!

Sudah mempersiapkan segalanya dari prosesi hingga undangan, tiba-tiba batal menikah? Oh No! Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Sebab memalukan dan menyedihkan. Namun bijakkah memaksakan suatu pernikahan?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr