Pentingkah mengajari si kecil berhitung?

Berhitung merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki si kecil. Namun sebaiknya memang tidak dimulai dengan pengalian, penambahan, atau pengurangan. Masih banyak cara yang seru untuk membuat si kecil tertarik lho..

388 views   |   3 shares
  • Keterampilan matematika adalah keterampilan dasar yang diperlukan semua anak. Mahir matematika tidak hanya dibutuhkan oleh mereka yang bekerja di bidang yang berkaitan erat dengan matematika seperti: akuntan, fisikawan, tapi juga dibutuhkan oleh siapa pun dalam profesi apa pun.

  • Menurut laman keluargakita.com, kemampuan berpikir matematis dapat diajarkan sejak dini, di usia balita, melalui kegiatan sederhana sehari-hari bersama anak. Sebelum anak mengenal penjumlahan 4+4 = 8, anak perlu memahami konsep dasar matematika dulu sebagai pondasi dari pembelajaran selanjutnya. Banyak orang tua yang ragu akan hal ini. Bagi mereka, anak harus langsung belajar penjumlahan dan perkalian agar jago matematika.

  • Banyak juga orang tua yang takut mengajarkan berhitung sejak dini, karena khawatir anak-anak akan merasa bosan di waktunya nanti sekolah. Hal ini benar juga, karena itu yang terpenting adalah tidak memaksakan dan belajar sambil bermain. Menurut psikolog dari Universitas Indonesia, Rose Mini, perkembangan kognitif anak balita (bawah 5 tahun) masih terbatas, membuat anak sulit melakukan abstraksi. Padahal, menulis dan berhitung penuh dengan abstraksi. "Jadi, tidak benar jika anak usia bawah 3 tahun diajarkan. Cukup memperkenalkan," ujar Rose.

  • Psikolog Ratih Ibrahim mengatakan, pengenalan berhitung di pendidikan anak usia dini sebagai sebuah proses penting untuk menjembatani anak masuk ke sekolah dasar. "Tidak masalah selama guru menyesuaikan tahapan stimulasi dengan perkembangan anak," ujar Ratih. Metode yang diterapkan harus membuat anak senang, katanya.

  • Untuk itu, sebelumnya, kita harus memahami terlebih dahulu konsep dasar matematika. Yang nantinya akan membawa anak memahami matematika secara mendalam. Misalnya ketika anak belajar menyusun benda dari ukuran yang terkecil ke yang terbesar, maka ia pun dapat melakukannya pada pengelompokkan angka. Ketika anak dapat memahami pengelompokkan angka, anak dapat membedakan satuan, puluhan, ratusan dan ribuan yang kemudian berlanjut dengan pembelajaran penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

  • Berikut adalah materi dasar berhitung yang perlu dikenalkan pada anak:

  • 1. Classification

  • adalah kemampuan mengelompokkan benda, suara, bau, ide dan lainnya sesuai dengan kesamaan ciri-cirinya. Aktivitas ini terkait kemampuan mengelompokkan benda, suara, bau, ide dan lainnya sesuai dengan kesamaan ciri-cirinya.

  • 1. Melatih anak untuk dapat membedakan 2 (dua) kategori yang berbeda

  • Advertisement
  • a. Celana dan baju

  • b. Warna biru dan merah

  • 2. Melatih anak untuk dapat mengelompokkan sesuatu berdasarkan kategori dan kriteria yang lebih kompleks

  • a. Mainan berdasarkan warna, bentuk dan tekstur

  • b. Baju berdasarkan warna, motif dan bahan

  • 2. Patterning

  • adalah kemampuan membentuk sekumpulan angka atau objek yang semua anggotanya saling berhubungan antara satu sama lain sesuai dengan aturannya. Belajar pola mengajarkan kita untuk dapat memprediksi masa depan, menemukan hal-hal yang baru dan lebih mengerti dunia disekitar kita.

  • 1. Pola dapat dipelajari tidak hanya melalui benda, namun juga gerakan dan musik. Beberapa contoh pola yang dapat diajarkan ke anak:

  • a. ABAB (merah, hitam, merah, hitam)

  • b. ABC (mobil, truk, pesawat, mobil, truk, pesawat)

  • c. AABB (crayon, crayon, pinsil, pinsil, crayon, crayon, pinsil, pinsil)

  • 2. Mempelajari pola dapat dilakukan dengan sederhana karena banyak ditemui di sekitar kita. Misalnya ketika orang tua melihat anak memakai baju garis-garis, orang tua dapat mengatakan "Baju kamu ada polanya, merah, biru, merah, biru..."

  • 3. Belajar pola dengan melakukan gerakan. Misalnya "Ayo kita main pola dengan lompat, langkah, lompat, langkah..."

  • 3. Subtizing

  • adalah kemampuan untuk melihat jumlah kecil dari suatu benda tanpa harus menghitungnya.

  • 1. Perceptual Subitizing yaitu jumlah yang langsung dapat dihitung, biasanya jumlahnya di bawah 5.

  • Contoh kegiatan: Membuat gelang atau kalung.

  • 2. Conceptual Subitizing yaitu mengenali jumlah kecil atau kombinasi jumlah.

  • Misalnya kita dapat melihat 7 titik sebagai kombinasi dari 3 titik dan 4 titik.

  • Contoh kegiatan: Bermain ular tangga

  • 4. One-to- one correspondence

  • adalah kemampuan memasangkan satu objek dengan objek lainnya. Anak sebaiknya mengerti konsep ini sebelum mereka belajar berhitung.

  • Contoh kegiatan: Bermain congklak

  • Orang tua dan anak secara bergantian menghitung dan memasukkan biji satu demi satu kedalam lubang.

  • 5. Conservation

  • adalah pengertian bahwa jumlah atau ukuran suatu benda adalah tetap walaupun posisinya diubah atau dibagi

  • Contoh: Tepung yang telah ditimbang seberat 100 gram apabila dimasukkan ke dalam wadah dan teracak, beratnya akan tetap 100 gram.

  • 6. Resilience

  • adalah sikap positif yang harus dimiliki anak ketika menghadapi hambatan dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang sulit.

  • Advertisement
  • Contoh: Kembali mencoba resep suatu masakan setelah percobaan sebelumnya belum berhasil.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Pentingkah mengajari si kecil berhitung?

Berhitung merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki si kecil. Namun sebaiknya memang tidak dimulai dengan pengalian, penambahan, atau pengurangan. Masih banyak cara yang seru untuk membuat si kecil tertarik lho..
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr