Anda ibu rumah tangga dan merasa depresi? Mungkin ada ketidakpuasan dalam pernikahan Anda

Wanita yang telah menikah memiliki kesehatan mental yang lebih rendah, dan dilaporkan mengalami kecemasan, fobia, serta depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria.

4,252 views   |   65 shares
  • Kami telah menikah 30 tahun lamanya. Layaknya pernikahan pada umumnya, perjalanan kami tidak pernah selalu mulus. Selalu saja ada rintangan menghalang, perasaan marah, kecewa, dan bahagia yang terus menerus berputar. Jujur, ada waktu di mana saya merasakan nikmatnya menjalani sebuah pernikahan, tetapi terkadang lebih banyak waktu di mana saya merasakan ketidakbahagiaan dalam pernikahan saya. Dan apabila saya bertahan sampai detik ini, hal tersebut dikarenakan rasa tanggung jawab saya terhadap janji pernikahan yang dulu kami ucapkan.

  • Di awal menikah, saya memutuskan untuk berhenti bekerja atas permintaan suami. Saya menurutinya dan mempercayai sepenuhnya bahwa ia akan memenuhi segala kebutuhan saya. Dan saat menjalaninya, saya pun selalu merasa terpenuhi.

  • Saya merasa nyaman, hingga pada satu waktu saya mulai merasakan adanya ketidakterbukaan masalah keuangan di antara kami. Belum lagi saat terjadi cekcok di antara kami, suami selalu menyalahkan kehidupan saya yang selalu bergantung padanya. Sayapun mulai merasa tidak dihargai. Dulu saya yang aktif bekerja dan memiliki status dalam karir, kini berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang sepenuhnya bergantung kepada suami. Perasaan ini membuat saya -sampai detik ini- merasa tidak bahagia.

  • Saya selalu berusaha membuktikan pada suami bahwa saya juga mampu menghasilkan sesuatu dengan usaha saya sendiri. Saya pernah berjualan kue, tetapi kemudian dilarang oleh suami. Saya juga pernah terlibat aktif dalam kegiatan organisasi wanita, olahraga bersama dengan para istri di kantor suami saya, namun semuanya berhenti akibat larangan suami. Saya pun merasa diri bodoh, tidak dihargai dan merasa tidak mampu.

  • Pada akhirnya kini aktivitas saya hanya berada di rumah, mengurus keperluan anak, suami dan kebutuhan rumah tangga. Ketika saya membutuhkan sesuatu untuk keperluan pribadi, saya menjadi sangat takut untuk meminta kepada suami. Saya menjadi cemas ketika membayangkan respon suami. Hingga akhirnya entah sejak kapan rasa takut, cemas, tidak puas dan ketidakbahagiaan berdampak pada kondisi fisik saya. Walau sering saya memungkiri adanya kaitan antara perasaan yang saya alami dengan sakit fisik yang saya rasakan.

  • Paparan kisah di atas adalah kisah nyata seorang istri dan ibu rumah tangga yang mengaku memiliki masalah dengan kesehatan mentalnya akibat dari tekanan stres pernikahan yang ia jalani.

  • Tahukah Anda, wanita yang telah menikah memiliki kesehatan mental yang lebih rendah dan lebih banyak dilaporkan mengalami kecemasan, fobia, serta depresi jika dibandingkan dengan pria. Ada 3 perubahan besar dalam kehidupan wanita yang telah menikah, yang dikenal sebagai The Shock Theory of Marriage, yaitu :

  • Advertisement
    1. Perubahan yang menimbulkan dependensi pada wanita setelah menikah. Biasanya seorang wanita akan kehilangan sebagian identitas pribadinya serta lebih mengutamakan mengikuti suaminya. Hal ini menimbulkan ketergantungan pada suami, yang pada tingkat tertentu dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan kontrol diri serta rasa percaya diri pada wanita sehingga lebih mudah mengalami rasa cemas, panik, stres, maupun depresi.

    2. Perubahan yang mempengaruhi harga diri wanita yang telah menikah. Mereka menyadari adanya norma masyarakat yang menganggap istri sebagai pendamping suami semata, sehingga cenderung mengalah, mengikuti dan menyesuaikan diri dengan pola perilaku serta kebiasaan suami. Pergaulan dan kontak sosial mereka juga menjadi lebih terbatas dibanding sebelum menikah dan hal ini mempengaruhi harga diri mereka.

    3. Perubahan peran dari seorang wanita karier menjadi ibu rumah tangga juga dapat membuat seseorang menjadi frustrasi. Umumnya pekerjaan mengurus rumah tangga adalah pekerjaan tanpa upah, terus-menerus tanpa henti dan melelahkan. Tidak jarang rutinitas yang ada menimbulkan kejenuhan dan rasa kesepian, terlebih lagi karena lingkup sosial yang terbatas. Akibatnya istri akan semakin bergantung pada suami untuk mendapat dukungan finansial, emosional, dan perhatian, termasuk teman bertukar pikiran. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka akan mudah masuk dalam kondisi depresi.

  • Karenanya, sangat penting untuk menjalin komunikasi serta saling menghargai dan menghormati antara suami dan istri mulai sejak awal pernikahan. Komunikasi yang lancar adalah solusi terbaik untuk mencegah ketidakpuasan dalam pernikahan agar tidak berujung pada perceraian.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Profil Penulis Irni, lulusan Sarjana Psikologi UBAYA. Saat ini menetap di Jepang mendampingi suami bersama dua buah hatinya. Aktif menulis di berbagai media dan buku Pengembangan Diri. Baginya menulis adalah media berbagi pada sesama.

Situs: http://www.irniis.com

Anda ibu rumah tangga dan merasa depresi? Mungkin ada ketidakpuasan dalam pernikahan Anda

Wanita yang telah menikah memiliki kesehatan mental yang lebih rendah, dan dilaporkan mengalami kecemasan, fobia, serta depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr