Anak berkebutuhan khusus, haruskah ibu berhenti kerja?

Memiliki seorang anak adalah dambaan setiap orang. Namun jika dikaruniai anak dengan kebutuhan khusus, biasanya ibu dihadapkan pada pilihan berat harus berhenti kerja atau tidak? Sebab anak sangat membutuhkan kehadiran ibunya.

665 views   |   4 shares
  • Memiliki anak yang sehat, aktif, dan cerdas tentu menjadi dambaan semua orangtua. Namun, tak semua harapan itu selalu terwujud. Tak sedikit orangtua dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang merasa mimpinya hancur. Apalagi, bagi ibu yang biasanya senang berkarier. Memiliki ABK akan membuat hati resah, dan bimbang, akan melanjutkan bekerja atau tidak?

  • Menurut psikolog Roslina Verauli M. Psi, dari perspektif klinis, anak berkebutuhan khusus biasanya disebut sebagai anak dengan tumbuh kembang yang abnormal. Disebut abnormal, lanjutnya, karena memiliki beberapa perbedaan dengan anak normal. Pertama, dalam tumbuh kembangnya anak mengalami distress. Kedua, kondisi ini membuat anak terganggu kemampuan berfungsi dalam sehari-hari, antara lain bermain, belajar, dan bersosialisasi. Ketiga, anak berisiko untuk memiliki gangguan atau masalah yang lebih berat.

  • "Kalau tiga hal ini ada pada anak, berarti dia abnormal," ujar Verauli. Dengan kondisi anak seperti tersebut di atas, tak heran banyak orangtua yang syok dan sulit menerima kenyataan. Apalagi, ciri-ciri ABK sebagian sudah terlihat sejak awal lahir. "Anak orang lain sudah bisa senyum-senyum, dia belum bisa. Selanjutnya, anak seusianya sudah mulai bisa menalikan sepatu atau bicara, dia belum," Verauli memberi contoh.

  • Ia menambahkan, anak-anak berkebutuhan khusus biasanya juga disebut anak spesial. Sesuai namanya, maka kebutuhan, pola pengasuhan, dan pendidikannya juga spesial, karena kebutuhannya berbeda dari tumbuh kembang anak pada umumnya. "Nah, yang paling pertama harus dilakukan orangtua adalah menerima kondisi anak apa adanya lebih dulu," tuturnya. Setelah itu, baru memikirkan langkah selanjutnya, yakni melanjutkan karier atau berhenti bekerja.

  • Kebanyakan ibu pasti memilih berhenti bekerja, agar bisa fokus pada perkembangan anak. Namun, untuk orang yang biasa bekerja, tentu berada seharian di rumah jadi terasa lebih melelahkan. Apalagi harus mengurus anak yang spesial. Stres, ketegangan, malah makin terasa. Lalu harus bagaimana?

  • Hal ini dijawab oleh psikolog Irma Makarim. Orangtua perlu memahami, kita semua mempunyai perjalanan hidup yang berbeda-beda, dengan tantangan yang berbeda pula. Jadi, coba hindari membandingkan diri Anda dengan orang lain. Kemudian, sangat penting bagi orangtua dengan anak berkebutuhan khusus untuk menyeimbangkan kebutuhan pribadinya dengan kebutuhan anak. Dengan merawat diri sendiri, Anda bisa mengurangi ketegangan yang Anda hadapi sehari-hari.

  • Advertisement
  • Olahraga rutin, sesekali pergi dengan teman, dan melakukan hal-hal yang Anda sukai akan membantu meredam stres, bosan, dan rasa kesepian. Anda juga bisa mengikuti kelas keterampilan yang mungkin bisa Anda pakai untuk bekerja di rumah. Jangan merasa bersalah bila Anda mengambil waktu untuk diri Anda sendiri.

  • Ingat bahwa Anda tidak sendiri. Anda bisa berbagi pengalaman dengan orangtua lain. Berbagi kisah bisa jadi salah satu sumber kekuatan. Minta dukungan suami dan tak perlu sungkan untuk minta bantuan keluarga atau teman dekat bila Anda memerlukannya. Jika memungkinkan, libatkan tenaga profesional untuk merawat anak Anda.

  • Ya memang, Anda kini justru memiliki pekerjaan yang amat menantang dan membutuhkan keterampilan khusus. Namun, jangan resah, sebab ibu rumah tangga adalah pekerjaan profesional, bukan sekadar tugas rutin. Psikolog Monty Satiadarma menyarankan agar ibu membayangkan Anda adalah tenaga pendidik profesional yang bertanggung jawab membantu perkembangan anak berkebutuhan khusus. Anda berkantor di rumah sendiri, layaknya dokter yang praktek di rumah. Pasien tetap Anda kebetulan adalah anak sendiri. Bukankah itu suatu pekerjaan penuh tanggung jawab?

  • Karier Anda adalah ibu rumah tangga yang baik dan juga terapis bagi anak berkebutuhan khusus. Untuk mengusir rasa bosan, catat perkembangan anak dan langkah-langkah yang Anda lakukan untuk membantunya, baik yang berhasil maupun yang mengalami hambatan. Catatan tersebut dapat menjadi dokumen ilmiah penting yang bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Jika Anda merasa kesepian, coba bergaul dengan komunitas atau kalangan ilmuwan yang bergerak dalam bidang perkembangan anak. Kelak Anda akan memberikan kontribusi besar bagi masyarakat sekaligus membantu perkembangan buah hati Anda.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Anak berkebutuhan khusus, haruskah ibu berhenti kerja?

Memiliki seorang anak adalah dambaan setiap orang. Namun jika dikaruniai anak dengan kebutuhan khusus, biasanya ibu dihadapkan pada pilihan berat harus berhenti kerja atau tidak? Sebab anak sangat membutuhkan kehadiran ibunya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr