Pria romantis pasti jadi idaman wanita. Benarkah?

Banyak wanita yang bersikukuh ingin kekasihnya menjadi romantis. Meski sebenarnya yang diminta adalah romantis versi wanita. Lalu haruskah kaum pria menjadi seperti yang diinginkan kekasihnya? Apakah mereka tidak punya definisi romantisnya sendiri?

889 views   |   4 shares
  • Kita terlalu sering mendefinisikan "romantis" dari sudut pandang wanita. Seperti mengirim bunga dan kartu, membuat scrapbook untuk foto-foto berdua, menonton film percintaan atau mendengarkan lagu romantis sepanjang hari. Padahal pria tidak melakukan hal-hal semacam itu.

  • Dibandingkan pria, kaum wanita memang cenderung lebih perhatian dan seolah mengeluarkan usaha lebih untuk menjaga hubungan berjalan mulus. Hal ini membuat para pria seolah makhluk yang cuek dan tak romantis. Menurut sebuah studi, para wanita memang cenderung meleburkan diri secara total dalam hubungan yang romantis, sementara para pria lebih suka menempatkan hubungan mereka dalam jarak yang normal, seperti halnya hal-hal penting lainnya dalam hidup mereka.

  • Para wanita juga menggantungkan kebahagiaan mereka pada apa yang terjadi dalam hubungan percintaan. Jika hubungannya mesra dan mulus, mereka akan bahagia. Mereka adalah makhluk yang punya keterampilan untuk mengantisipasi kebutuhan pasangannya, menjaga hubungannya, dan mencari solusi jika ada yang tidak beres.

  • Sementara para pria secara biologis lebih cenderung untuk menjadi penyedia dan pelindung. Mereka bukannya tidak menganggap sebuah hubungan tidak penting, tetapi mereka menunjukkannya dengan cara berbeda, misalnya, dengan bekerja keras, menaikkan kariernya, dan menjaga emosinya selalu stabil.

  • Para wanita kerap bertanya-tanya, "Bagaimana saya bisa mengubah pasangan saya? Bagaimana saya membuat si dia lebih perhatian dan romantis?". Jawabannya adalah tidak perlu. Pria dan wanita memang berbeda. Mereka juga memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan perhatian dan usaha dalam menjaga hubungan tetap harmonis.

  • Tak semua pria bisa terus mengirim bunga, atau melakukan keromantisan versi wanita. Namun satu yang pasti, mereka sebetulnya menyimpan rasa cinta dalam hati selamanya. Hal ini diungkap Nancy Kalish PhD dalam artikelnya di psychologytoday.com. Dirinya bahkan pernah melakukan survei pada 3.000 pria dan wanita di berbagai belahan dunia, yang mencoba untuk kembali pada kekasih lamanya.

  • Menjawab pertanyaan "Berapa lama waktu yang diperlukan untuk melupakan kekasih yang telah tidak lagi bersama?" ternyata sebagian besar pria menjawab "Tidak pernah bisa". Sebagian lagi menjawab butuh waktu sangat lama untuk move on. Sayangnya, stigma yang berlaku di mana-mana adalah, pria tak boleh menangis. Padahal kebanyakan dari mereka menangisi perpisahan dengan kekasih. Bahkan hingga berbulan-bulan.

  • Advertisement
  • Nancy bahkan mengungkap fakta yang dilihatnya dari member forum dalam lamannya. Menurut dia, laman miliknya memang lebih banyak diisi oleh kaum wanita. Namun ternyata member forumnya kebanyakan pria. Mereka tidak berekspresi dalam forum, tetapi mendaftar untuk melakukan konsultasi pribadi dengan Nancy, untuk curhat mengenai hubungan dengan kekasihnya.

  • Wanita dewasa muda mungkin cenderung lebih fokus pada kebutuhan akan sebuah ikatan dan hubungan. Ini akan bermanifestasi pada keinginan mereka untuk memiliki anak, mengurus rumah, dan menjaga kemesraan dengan pasangan. Bukan berarti mereka tak tertarik untuk berkarier, melainkan prioritas mereka memang menjaga hubungan yang dimiliki. Sementara para pria dewasa muda lebih fokus pada kebutuhan untuk diakui. Mereka lebih tertarik untuk membuat sesuatu yang berdampak di dunia sehingga yang jadi prioritas mereka adalah bekerja.

  • Kondisi tersebut biasanya akan berubah ketika anak-anak sudah beranjak besar dan mandiri. Kaum wanita akan merasa mereka sudah berkorban banyak bagi keluarga dan ini saatnya untuk melakukan sesuatu bagi diri sendiri. Karena itu, tak heran jika kita melihat wanita berusia 50-an kembali kuliah atau aktif di berbagai organisasi dan memulai bisnis.

  • Sebaliknya dengan para pria. Mereka baru menyadari anak-anak sudah besar dan mulai merindukannya. Mereka juga sudah lelah dengan persaingan dan kini membutuhkan sebuah hubungan yang lebih kuat. Dengan kata lain, para pria dan wanita seperti bertukar peran.

  • Perbedaan-perbedaan ini membuat hubungan menjadi menarik. Bayangkan jika Anda berdua sama-sama fokus pada satu hal dalam waktu yang sama. Mungkin pada awalnya Anda berdua sama-sama bahagia, tetapi mungkin tak akan berjalan lama.

  • Jadi, menurut Nancy, saat ada momen romantis seperti hari valentine, ulang tahun atau perayaan hari jadi, para wanita harus selalu ingat untuk memisahkan emosi pada sikap. Sebab, pria mungkin tak akan membuatkan scrapbook dan mengirim bunga. Namun hal ini bukan berarti mereka tidak menyayangi kekasihnya. Hal yang penting diingat adalah sikapnya sehari-hari, itulah makna romantis yang sebenarnya.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Pria romantis pasti jadi idaman wanita. Benarkah?

Banyak wanita yang bersikukuh ingin kekasihnya menjadi romantis. Meski sebenarnya yang diminta adalah romantis versi wanita. Lalu haruskah kaum pria menjadi seperti yang diinginkan kekasihnya? Apakah mereka tidak punya definisi romantisnya sendiri?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr