6 hikmah dari kematian ibu

Ditinggal orang tercinta, meninggal dunia, tak akan pernah mudah untuk siapa pun. Rasa sedih, bersalah dan segala kemarahan pun berkecamuk di dada. Namun, jangan menyerah, sebab segala kepedihan itu pasti berganti dengan hikmah.

1,274 views   |   20 shares
  • Ibu saya meninggal dunia di usianya yang ke 63, karena kanker. Tak lama sakitnya. Ia menderita Myelodysplastic syndrome ( MDS ), yakni kondisi sekelompok kelainan darah yang ditandai oleh sumsum tulang disfungsional sehingga produksi sel darah tidak efektif. Biasa disebut praleukemia. Kesedihan tiada tara saya alami sejak ia dinyatakan sakit, hingga saatnya dipanggil Tuhan.

  • Namun, kini, selepas tiga tahun ia meninggalkan saya, ada banyak pelajaran yang dapat saya petik. Banyak hal yang kemudian saya pahami dan membantu proses penyembuhan dari rasa kehilangan yang saya alami. Bahkan membantu saya jadi jauh lebih bijak dalam menghadapi banyak situasi.

  • 1. Tak ada yang abadi

  • Hujan turun, dan kemudian berhenti. Ya, setiap kali tersakiti, kita pasti bisa sembuh. Ujung dari kegelapan, adalah cahaya. Dan kita diingatkan akan hal ini setiap pagi datang, bukan? Hari-hari buruk justru membuat hari-hari lain terasa indah. Tak ada yang abadi. Bersyukur adalah kuncinya.

  • 2. Cinta jauh lebih kuat ketimbang kematian

  • Hubungan saya dengan ibu terus berlanjut dari hari ke hari, dan akan terus berjalan seumur hidup. Ia selalu muncul setiap kali saya berkaca. Ia hidup, dalam diri saya. Meninggalnya jasad, tak bisa memisahkan cinta, ini saya pahami setiap kali menghadapi persoalan. Karena pesannya selalu menempel di kepala, dan saya terapkan dalam keseharian. Kehilangan dirinya justru mengubah diri saya, cara saya memandang dunia, dan mengubah cara saya menjalani kehidupan, menjadi lebih baik.

  • 3. Setiap kenangan adalah emas

  • Seluruh kenangan bersamanya selalu ada dalam kepala. Banyak kenangan indah akan dirinya dan waktu-waktu yang pernah kami habiskan bersama sejak kecil hingga dewasa. Namun ada satu memori yang tak akan pernah hilang dari kepala saya, yakni hari-hari terakhirnya. Ia memilih untuk tinggal di rumah saya, sepekan sebelum ia dipanggil Tuhan. Ia hanya menghabiskan beberapa jam saja di rumah sakit, sebelum wafat. Momen serba panik, malam itu, adalah saatnya saya melihat dirinya sebagai orang yang paling mencintai saya di seluruh dunia ini. Karena seberat apa pun ia mengambil nafasnya yang sesak, ia masih bisa memegang erat tangan saya dan tersenyum. Itulah momen paling emas hubungan ibu-anak antara saya dengannya.

  • 4. Tak semua hal bisa saya kendalikan

  • Melihat orang yang Anda cintai, berada dalam penderitaan, adalah pengalaman terpahit yang tak akan pernah bisa dibayangkan, kecuali mengalaminya sendiri. Yang bisa saya lakukan hanya berada di sisinya, memegang erat tangannya, dan berusaha untuk tetap tersenyum juga membuatnya bisa tenang menghadapi sakitnya. Itu adalah bentuk ketidakberdayaan saya yang terbesar, saat satu-satunya yang bisa terpikirkan hanyalah mencabut seluruh kesakitan itu darinya. Namun ternyata tak semua hal bisa saya kendalikan. Saya berjuang setengah mati untuk menyelamatkan nyawanya, namun saya tak mampu. Ini jadi pelajaran penting bahwa Tuhan lebih kuat dari apa pun.

  • Advertisement
  • 5. Hidup harus dijalani dengan sepenuh hati

  • Saya sempat tenggelam dalam duka untuk beberapa bulan, karena sibuk merasa kehilangan hingga menyalahkan diri sendiri. Ada begitu banyak penyesalan yang terjadi, dan ini tak mudah dihadapi. Namun pada akhirnya, saya teringat betapa hebatnya ibu saya, dan betapa kuatnya ia. Ibu saya adalah orang yang jarang mengeluh, dan selalu siap menghadapi rintangan apa pun yang harus dihadapi demi anak-anaknya. Ia tak akan bahagia jika melihat anaknya tak bisa bangun dan menghadapi dunia. Ia bukan ibu yang berhasil, jika perjuangannya tak berujung pada keberhasilan anaknya. Maka saya bangkit, dan lebih semangat lagi melakukan banyak hal. Saya ingin Tuhan memberi mahkota untuk keberhasilannya menjadi seorang ibu.

  • 6. Di mata dunia, Anda mungkin hanya seseorang. Namun di mata seseorang, bisa saja Andalah dunianya.

  • Pepatah ini sering terbersit di kepala saya. Karena itu, sejak ia sakit hingga meninggal, saya rajin menulis dan berbagi cerita kepada orang-orang tentangnya. Tentang penyakitnya, tentang luka hati saya, dan apa yang kami lakukan. Saya merasa, jika saya mampu melewati waktu-waktu terburuk dalam kehidupan saya, maka saya mungkin bisa membantu orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dan memang menyenangkan saat banyak komentar, dan pesan-pesan dari orang lain, bahkan yang tak saya kenal, menyatakan bahwa tulisan saya telah membantunya. Ibu saya semasa hidupnya selalu berpesan; resep paling ampuh untuk menghilangkan duka diri sendiri, adalah membantu orang lain menghilangkan dukanya. Melihat kebahagiaan dari wajah orang lain, akan menerbitkan kebahagiaan bagi diri kita. Inilah salah satu pesan yang selalu menempel di kepala saya.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

6 hikmah dari kematian ibu

Ditinggal orang tercinta, meninggal dunia, tak akan pernah mudah untuk siapa pun. Rasa sedih, bersalah dan segala kemarahan pun berkecamuk di dada. Namun, jangan menyerah, sebab segala kepedihan itu pasti berganti dengan hikmah.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr