Kehilangan privasi sejak kehadiran si kecil? Inilah saatnya melatih mereka mandiri

Sejak memiliki anak, banyak orang mulai merasakan kerenggangan dengan pasangan, karena jarangnya kuantitas waktu berhubungan intim. Hal ini dialami terutama pada saat anak masih balita. Lalu apa yang harus dilakukan?

951 views   |   3 shares
  • Privasi adalah sesuatu yang harus dijaga, meski dengan sesama anggota keluarga. Sebab ada kalanya orangtua membutuhkan waktunya sendiri. Dalam hal ini, yakni kendala bagi orangtua yang kerap merasa kesulitan jika ingin melakukan hubungan intim di rumah karena terbatasnya pertemuan juga karena keberadaan anak yang ingin terus bersama-sama.

  • Biasanya ayah dan ibu akan memilih waktu tengah malam, saat anak sudah tidur. Namun ini juga sering terkendala, anak terbangun karena mendengar ayah dan ibunya berisik. Ya, terutama bagi anak yang masih tidur bersama dengan orangtua. Hal-hal seperti ini biasanya berpengaruh besar dalam menurunkan gairah, dan akhirnya malah merenggangkan hubungan suami istri.

  • Akhirnya, banyak orangtua merasa takut kepergok oleh anaknya yang tiba-tiba masuk ke kamar pada saat mereka sedang berhubungan seks. Sebab nantinya, bukan cuma Anda dan pasangan yang kaget serta malu, anak pun akan merasakan hal yang sama.

  • Mengatasinya, kita harus selalu mengingat bahwa keluarga, menjadi kunci utama bagi tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak. Budaya dan kebiasaan di dalam keluarga juga tentu membawa pengaruh banyak. Karena itu tanamkanlah budaya mengetuk pintu kamar orangtua di waktu-waktu tertentu yang ayah dan ibu pilih untuk berhubungan seks.

  • Ya, memang spontanitas menjadi berkurang, karena harus terjadwal. Namun, mungkin ada yang harus dikorbankan. Pilihlah waktu-waktu di mana anak biasa bermain seru, dan bisa dititipkan pada si mbak atau orang lain yang ada di rumah untuk sejenak. Dengan membiasakan budaya ketuk pintu ini, anak akan menghargai privasi orangtua, dan ia juga akan memahami bahwa nantinya orangtua pun akan menghargai privasinya.

  • Selain itu, tentunya dengan melatih anak agar mampu tidur sendiri. Semenjak usianya empat tahun, sebetulnya anak sudah mampu tidur sendiri. Banyak lho, manfaat melatih anak tidur di kamarnya sendiri.

  • Berikut ini beberapa data dan fakta pentingnya memisahkan tempat tidur anak dengan orangtua yang diolah dari berbagai sumber, yaitu:

  • Mandiri

  • Dengan memisahkan tempat tidur anak dengan orangtua, anak akan terbiasa mandiri dan bertanggung jawab dengan keadaan tempat tidurnya. Ajarkan pada anak bahwa anak sudah memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk menjaga kebersihan dan kerapian tempat tidurnya.

  • Psikologis

  • Secara psikologis, anak akan merasa lebih siap dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya serta tidak akan kaget apabila mendapatkan tugas ataupun kewajiban lain yang lebih berat karena anak sudah terbiasa mandiri dan bertanggung jawab terhadapa kegiatan apa pun.

  • Advertisement
  • Pencegahan

  • Memisahkan tempat tidur anak dengan orangtua juga dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan "ketahuan" apabila kedua orangtua sedang melakukan aktivitas "intim". Tentu akan timbul perasaan tidak nyaman apabila aktivitas "intim" ini secara tidak sengaja diketahui oleh anak.

  • Kenyamanan

  • Tentu rasa nyaman beristirahat akan berkurang apabila satu ranjang digunakan bersama-sama antara orangtua dan anak. Apabila dibiarkan, rasa tidak nyaman ini akan menyebabkan penurunan kualitas istirahat yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan.

  • Privasi

  • Dengan memisahkan tempat tidur anak dengan orangtua, anak akan belajar mengenal privasi atau hak individu untuk merdeka, tidak ingin diganggu dan diketahui rahasianya oleh individu lainnya. Orangtua tidak akan mengganggu privasi anak dan demikian juga sebaliknya, anak akan belajar untuk menghormati privasi orang lain.

  • Lalu bagaimana jika anak sudah terlanjur melihat orangtua nya yang sedang berhubungan? Pasti Anda dan pasangan menjadi bingung. Tapi cobalah untuk tenang (dan lain kali jangan lupa untuk mengunci pintu kamar), katakan pada anak, "Sayang, mama dan papa sedang ingin berduaan saja sekarang, kamu ke kamar kamu duluan ya, sebentar lagi mama menyusul."

  • Lalu kenakan pakaian, tarik napas dalam-dalam dan beri penjelasan kepada anak "Mama dan papa tadi sedang berhubungan seks. Artinya kami saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Biasanya kami mengunci kamar tapi tadi kami lupa." Lihat reaksi anak. Bila dia tampaknya tidak senang, katakan "Kamu marah ya? ada yang bisa mama bantu?"

  • Pastikan anak Anda tidak ketakutan atau khawatir dengan apa yang dia lihat dan pastikan untuk memberi pengertian padanya bahwa dia tidak bersalah. Jangan memarahi anak Anda dengan mengatakan "Kamu harusnya ketuk pintu lebih dulu!" karena hal ini membuat anak merasa sangat menyesal dan takut dimarahi.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Kehilangan privasi sejak kehadiran si kecil? Inilah saatnya melatih mereka mandiri

Sejak memiliki anak, banyak orang mulai merasakan kerenggangan dengan pasangan, karena jarangnya kuantitas waktu berhubungan intim. Hal ini dialami terutama pada saat anak masih balita. Lalu apa yang harus dilakukan?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr