Dampak kekerasan masa kecil pada hubungan percintaan

Semua orang hidup pasti menyimpan luka masa lalu, baik kecil maupun besar. Lalu bagaimana jika luka tersebut berupa kenangan buruk mengalami kekerasan di masa kecil? Apa saja dampaknya pada cara menjalani hubungan percintaan saat dewasa?

1,178 views   |   4 shares
  • Kekerasan emosional, seksual dan fisik, apalagi jika ditambah pengabaian, akan meninggalkan luka pada seorang anak kecil. Jika terus menerus terjadi, dan tak pernah ada penanganan sejak kecil, luka-luka tadi akan menjadi besar serta dalam lalu menciptakan berbagai perilaku buruk yang dilakukan saat dewasa.

  • Setiap anak berhak akan "rumah" yang penuh kebahagiaan, kenyamanan, aman dan penuh cinta untuk disimpan dalam memorinya. Jika kebutuhan dasar ini tak terpenuhi, ia pun tumbuh dengan kepribadian yang "salah". Bayangkan saja, saat seseorang tumbuh dengan memori yang menyatakan bahwa dirinya tak berguna, bodoh, tak kompeten, tidak layak dicintai, nakal, maka hal-hal itulah yang dipercayanya.

  • Apalagi jika ia telah menerima cercaan tersebut sejak masa balita. Karena di usia 0-2 tahun adalah satu-satunya masa attachment terbentuk. Sementara 3-5 tahun adalah satu-satunya masa kepercayaan diri terbentuk. Perilaku buruk ini juga terjadi dalam caranya menjalani hubungan percintaan dengan pasangan. Buruknya masa kecil ini adalah salah satu faktor yang mengganggu jalannya hubungan, karena seseorang bisa memiliki banyak ketakutan yang menjadi karakternya. Apa sajakah karakter-karakter tersebut?

  • Rasa takut ditinggalkan

  • Merupakan hal biasa jika melihat karakter orang dewasa yang memiliki ketakutan berlebih akan diabaikan, ditinggalkan, jika mereka pernah mengalami kekerasan atau pengabaian di masa kecilnya. Ketakutan irasional ini akan merongrong di setiap aspek dalam kehidupannya.

  • Ketakutan ini juga mengakibatkan seseorang mengalami kesulitan memercayai orang lain dan menerima mereka untuk masuk ke dalam hidupnya, dalam hubungan jangka panjang, seperti pernikahan, misalnya. Mereka yang mengalami trauma akan kekerasan di masa kecil ini akan sangat ketakutan untuk berkomitmen pada satu orang, karena membentengi diri sendiri, sebagai bentuk dari rasa takut ditinggal.

  • Sikap posesif, "menempel" dan percaya diri rendah

  • Efek lain yang biasa terjadi dari masa kecil yang buruk pada hubungan percintaan orang dewasa adalah sikap yang terlalu menempel, obsesif, posesif dan bersamaan dengan rasa percaya diri rendah. Seorang yang tumbuh dengan latar belakang kekerasan, dan pengabaian, tak pernah merasa benar-benar dicintai oleh siapa pun. Karena itu, mereka akan mencari "cinta yang hilang" tadi dengan cara melekatkan diri dengan pasangannya.

  • Saat mereka sudah mendapatkan pasangan, mulailah terlihat sifat-sifat buruknya dalam berbagai wujud sebagai cara untuk mendapatkan kepastian, cinta dan dukungan dari pasangannya. Ia akan memerlihatkan betapa lemahnya, betapa tak berdayanya ia tanpa si pasangan. Dan hal ini kemudian membuat pasangannya mulai tertekan dan terbebani.

  • Advertisement
  • Hal yang penting untuk diingat adalah; mereka yang mengalami trauma ini seringkali tak sadar bahwa sebetulnya sedang memberikan beban berat pada pasangan, untuk memperbaiki dirinya. Dalam hubungan semacam ini, biasanya terjadi ketimpangan. Pasangan yang "sehat" biasaya akan merasa dirinya sedang berhubungan dengan orangtuanya, bukan hubungan cinta.

  • Perilaku agresif, dan penuh kekerasan

  • Wah perilaku semacam ini sebetulnya yang paling mengerikan. Karena sudah pasti bermasalah, dalam menjalani hubungan dengan siapa pun. Anak yang terbiasa menyaksikan kekerasan domestik, bahkan mengalami sendiri biasanya akan menjadi agresif. Apalagi, ia tak pernah mendapatkan konseling atau penanganan di masa kecilnya. Ia bahkan akan merasa bahwa pemukulan, penolakan kasar atau segala bentuk kekerasan merupakan hal yang wajar saja untuk dilakukan. Contohnya; seorang pria dewasa yang semasa kecilnya biasa dipukul dengan ikat pinggang saat ia tidak mampu membereskan kamarnya dengan cepat, akan tumbuh menjadi seorang penyiksa pada kekasihnya yang lamban saat membereskan rumah.

  • Tidak percaya pada pasangannya

  • Sikap ini biasanya mudah terlihat pada seorang pencemburu yang selalu curiga dan tak bisa memercayai pasangannya. Mereka akan selalu terlihat tak nyaman dan tidak pernah merasa aman dalam menjalani hubungan. Meski sebetulnya pasangannya selalu jujur pun, mereka akan tetap mengalami kesulitan untuk percaya padanya. Sayangnya, mereka ini biasanya tak menyadari akan perilaku buruk yang dilakukan secara terus menerus ini.

  • Karakter-karakter tadi mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan orangtua, dalam mendidik anak, agar tidak melakukan kekerasan, karena dampaknya sangat panjang. Selain itu, juga bisa menjadi pertimbangan bagi kita yang sudah dewasa, untuk menilai pasangan dengan bijak sebelum menikah.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Dampak kekerasan masa kecil pada hubungan percintaan

Semua orang hidup pasti menyimpan luka masa lalu, baik kecil maupun besar. Lalu bagaimana jika luka tersebut berupa kenangan buruk mengalami kekerasan di masa kecil? Apa saja dampaknya pada cara menjalani hubungan percintaan saat dewasa?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr