Ketika cinta mulai menjemukan. Mampukah kita mempertahankannya?

Setiap manusia terlahir dengan rasa cinta, tak hanya pada orangtua atau teman, namun juga pada pasangan. Namun, seiring berjalannya waktu, pernikahan bisa jadi menjemukan. Jadi, mampukah kita mempertahankan cinta? Bagaimana caranya?

1,451 views   |   19 shares
  • Hubungan romantis antara sepasang suami istri, dalam bentuk cinta yang kuat, hubungan seks yang selalu bergairah, dan kasih sayang yang berlangsung dalam jangka panjang, mungkin terasa amat sulit dipahami. Namun sebetulnya bukan tidak mungkin terjadi pada kita semua.

  • Menurut antropolog dan penulis buku Why We Love, Helen Fisher, "Kita semua lahir dengan memiliki cinta, mencintai dan dicintai" jadi, rasa bahagia yang biasa disebut keromantisan cinta itu sebetulnya telah menempel kuat di dalam otak, sejak lahir. Namun dapatkah rasa itu bertahan selama-lamanya?

  • Apalagi melihat lama kelamaan, angka perceraian, semakin tinggi dan meluas di berbagai kalangan. Bahkan, menurut Fisher, saat hubungan cinta romantis luntur menjadi pertemanan dan rasa cinta yang muncul dalam bentuk persahabatan ketimbang pasangan yang saling jatuh cinta, justru membuat hubungan jangka panjang menjadi sukses.

  • Meskipun demikian, cinta yang sarat dengan keromantisan antar pasangan, tetap menjadi komponen terpenting dalam pernikahan. Bahkan menurut riset, 91 persen wanita dan 86 persen lelaki menyatakan bahwa mereka enggan menikahi orang yang tidak dicintai, meski orang itu memiliki seluruh kualitas yang diinginkan untuk menjadi pasangan.

  • Urusan soal cinta ini memang cukup membingungkan, karena perasaan sulit diteliti dengan angka. Hal ini bahkan diakui oleh para peneliti di bidang psikologi. Hingga dikatakan bahwa cinta, yang bisa berlangsung dalam jangka panjang dalam bentuk pernikahan, adalah area yang paling banyak diteliti namun paling sulit dimengerti dalam ilmu psikologi.

  • Ya, mungkin akan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban dalam poin tersebut. Namun, kita semua tahu bahwa menjalani pernikahan dengan landasan cinta yang kuat amat baik untuk kesehatan fisik dan mental seseorang. Karena itu, banyak psikolog telah menentukan beberapa faktor yang berkontribusi besar dalam keberhasilan cinta dalam jangka waktu yang panjang, yakni:

    1. Keromantisan yang berlangsung lama, bukan hal mustahil
  • Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience, mereka membandingkan sebuah area di otak pada orang yang menjalani hubungan pernikahan sekitar 21 tahun dengan orang yang baru saja jatuh cinta. Hasilnya, ada reaksi serupa dalam aktivitas otak pada kedua orang tersebut. Maka, kesimpulannya adalah, pasangan menikah, bukan hanya bisa menjalani hubungan jangka panjang, namun juga bisa terus saling mencintai satu sama lain.

  • Advertisement
  • Menurut Adoree Durayappah, peneliti psikologi, mempertahankan cinta ternyata memiliki fungsi positif dalam otak. Maka, jangan menyerah sebelum berjuang.

  • Mempertahankan "cinta buta"

  • Ingatkah saat pertama kali kita jatuh cinta? Kita memuja pasangan seolah-olah ia adalah orang paling sempurna di dunia. Nah, University of Geneva meneliti 500 studi yang menghasilkan sebuah kesimpulan; jika seseorang terus melihat pasangannya seperti hari pertama ia jatuh cinta, merupakan ilusi positif, yang akan mengingatkan terus alasan mengapa kita menyayanginya.

  • Selalu mencoba hal baru, bersama-sama

  • Kejenuhan adalah salah satu hambatan utama dalam menciptakan hubungan jangka panjang yang penuh cinta. Karena itu, penelitian psikologi menyatakan bahwa cinta yang mampu bertahan adalah yang dijalani dengan ketertarikan fisik dan emosi secara terus menerus. Caranya adalah dengan mencoba hal baru, atau tantangan seru, bersama-sama setiap saat.

  • Menghindari ketergantungan dan menjaga kemandirian masing-masing

  • Ketergantungan adalah musuh dari hubungan jangka panjang. Jika masing-masing dapat mempertahankan kemandirian sambil terus memantau aktivitas pasangan, yang dilakukan sesuai keahliannya, keduanya akan terus melihat satu sama lain dari sisi yang baru. Maka, mulailah beri pasangan Anda ruang untuk mengekspresikan dirinya, melakukan hal-hal yang dia sukai dan memang merupakan keahliannya.

  • Melihat hubungan yang dijalani sebagai petualangan bersama, untuk pemenuhan kebutuhan diri sendiri

  • Apakah terdengar egois? Ternyata tidak. Menurut profesor psikologi sosial dari Northwestern University, Eli J. Finkel, masukilah gerbang pernikahan untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri dan pemenuhan kebutuhan diri sendiri. Dengan begitu, pernikahan yang dijalani menuntut masing-masing untuk mengerahkan lebih banyak waktu dan energi agar hubungan bisa berlangsung baik, selama-lamanya. Ya, sebab, pernikahan tak hanya mengenai pemenuhan kebutuhan dasar seperti bertahan hidup dan memiliki teman sepanjang usia. Namun justru sebagai kendaraan yang akan mengantarkan setiap orang, menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ketika cinta mulai menjemukan. Mampukah kita mempertahankannya?

Setiap manusia terlahir dengan rasa cinta, tak hanya pada orangtua atau teman, namun juga pada pasangan. Namun, seiring berjalannya waktu, pernikahan bisa jadi menjemukan. Jadi, mampukah kita mempertahankan cinta? Bagaimana caranya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr