Kehadiran saudara ipar? Segera pertimbangkan sebelum menikah

Menikahi pasangan, sama juga artinya dengan menikahi keluarganya. Termasuk saudara iparnya. Namun, pentingkah mempertimbangkan dan mendiskusikan mengenai batasan kehadiran saudara ipar sebelum terlanjur menikah?

3,573 views   |   10 shares
  • Menikah, adalah keputusan besar, dan tidak bisa diremehkan. Termasuk segala aspek di dalamnya. Karena itu sebisa mungkin, sebelum keburu melangkah ke jenjang perkawinan, berbagai kesepakatan telah dibuat. Baik itu yang terkait dengan agama, penghasilan, rumah, anak, hingga ke saudara ipar. Ya, sebab, jangan sampai nantinya pernikahan berantakan hanya karena pertengkaran dengan ipar.

  • Keterbukaan yang dilakukan sejak awal, merupakan faktor penting. "Sering-seringlah ngobrol tentang segala hal. Bila keterbukaan sedini mungkin diterapkan, timbulnya masalah bisa dicegah." Kata Dra. Rostiana, psikolog dari Universitas Tarumanegara Jakarta. Tentu saja hal ini membutuhkan keberanian. Apalagi jika ipar lebih tua atau mudah tersinggung.

  • Misalnya, ingin menikahi pasangan yang biasanya ditanggung segala biaya dan tetek bengek oleh kakaknya. Kebijakan bersama dapat berupa bagaimana cara mendekati kakak ipar yang biasanya lebih protektif pada adiknya. Izin untuk menikah, biasanya tak hanya keluar dari orangtua, namun juga dari kakak ipar. Dan ini merupakan tantangan tersendiri, dan harus menjadi salah satu bahan pertimbangan.

  • Menyepelekan kehadiran kakak ipar, hanya akan menimbulkan konflik berkepanjangan selama menjalani pernikahan. Kehadiran ipar tak akan mengganggu asal kita mau terbuka dan berani bersikap tegas. Tentu saja, kedua belah pihak mesti punya pengertian dan kesadaran diri. Sering terjadi, karena satu dan lain hal, entah masalah cemburu, persaingan, dan ujung-ujungnya bisa membuat goncang hubungan suami-istri.

  • Kendati demikian, keberadaan ipar tak lantas berarti selalu mengganggu, kok. Malah, tak sedikit ipar yang justru sangat membantu dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, ketika kita sakit, ia bersedia memasak makanan untuk kita dan ketika kita kerepotan soal anak, dia bisa membantu mengasuhnya sebentar. "Tentu saja diperlukan syarat untuk itu, yakni hubungan antara ipar dengan keluarga sang kakak memang baik. Kalau si ipar bertipe terbuka, biasanya memang tak ada masalah."

  • Apa sebetulnya pencetus masalah ipar dengan keluarga adiknya? Umumnya karena masalah kepribadian, baik kepribadian pasangan maupun kepribadian ipar sendiri. Misalnya, persaingan antara istri dan kakak ipar perempuan. "Masing-masing merasa kasih sayang yang diberikan terbagi. Apalagi, jika kakak suami adalah orang yang sangat dekat dengan adiknya," tutur Rostiana.

  • Akibatnya, sang adik (suami) jadi "korban". Ia dihadapkan pada kesulitan membagi perhatian ke kakak tersayang dan ke istri. "Jika suami tak bisa mengambil tindakan yang bijaksana, biasanya konflik akan semakin meruncing," lanjut Rostiana. Misalnya, suami tak memenangkan atau menyalahkan dua-duanya.

  • Advertisement
  • Pengertian dari ipar juga sangat dituntut. "Ia harus sadar, adiknya sudah menjadi milik orang lain." Tanpa itu, konflik akan terus meruncing. Yang susah, jika kedua pihak "mengadu" pada keluarga besar masing-masing, entah orangtua maupun saudara-saudara. "Peperangan" pun semakin berkobar dan melebar ke konflik antar keluarga.

  • Begitu juga dengan adik ipar. Kedekatan hubungan pasangan dengan adiknya, patut disyukuri. Tetapi jika adik ipar ikut tinggal bersama, dan sikapnya seolah ingin merebut perhatian pasangan, tentu menjadi mengesalkan. "Jika kehadiran adik ipar di tengah keluarga Anda memisahkan kebersamaan Anda dengan pasangan, siapa pun dirinya, ia merupakan orang ketiga yang mengancam keutuhan perkawinan. Kedewasaan Anda dalam membina komunikasi dengan pasangan merupakan kuncinya," saran psikolog Monty Satiadarma.

  • Anda harus membicarakan masalah ini dengan saksama. Jangan libatkan gejolak emosi atau menunjukkan keresahan berlebihan. Namun, Anda perlu mengedepankan keinginan untuk bisa membina kebersamaan dengan pasangan. Anda tak harus meminta perhatiannya secara berlebihan, tetapi bisa mengemukakannya secara tidak langsung. Misalnya, Anda merasa jauh lebih nyaman jika bisa berduaan, entah jalan-jalan atau menikmati makan malam.

  • Karena itulah, pengertian kedua belah pihak, tentu amat diperlukan. Dan itu akan lebih baik lagi jika sudah dilakukan sejak awal. "Termasuk tentang masa depan si ipar. Apakah ia akan terus tinggal bersama atau bagaimana." Jika masalah mulai muncul, pesan Rostiana, "Segera bicarakan, jangan biarkan berlarut-latur hingga akhirnya orang serumah menjadi stres." Kalaupun merasa tak bisa bicara langsung, bisa minta bantuan keluarga dekat atau orangtua.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Kehadiran saudara ipar? Segera pertimbangkan sebelum menikah

Menikahi pasangan, sama juga artinya dengan menikahi keluarganya. Termasuk saudara iparnya. Namun, pentingkah mempertimbangkan dan mendiskusikan mengenai batasan kehadiran saudara ipar sebelum terlanjur menikah?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr