Kisah menakjubkan: 'Buah hatiku lahir tanpa tulang radius'

Banyak Ibu mengalami hal yang sama seperti saya ketika melahirkan anak yang tidak sempurna. Semua perjuangan yang saya lalui tidaklah mudah, tetapi justru proses yang telah saya lalui membuat saya melihat anak saya dari sisi yang berbeda.

1,770 views   |   13 shares
  • Setelah menjalani operasi cesar kelahiran anak pertama saya, Raphael, saya tidak dapat bertemu langsung dengannya saat itu juga. Ia terlahir tengah malam, dan pengaruh bius saya membuat dokter menganjurkan untuk memilih beristirahat saja tanpa bertemu Raphael. Saya pun setuju. Saya hanya bisa mendengarkan tangisnya dan merasa sangat bersyukur.

  • Pagi harinya, suami mendatangi saya dan mengajak berbicara serius. Ia menceritakan keadaan tangan kiri Raphael yang tidak sempurna. Ia sempat khawatir saya akan shock dan histeris, tapi reaksi saya saat itu hanya terdiam. Jantung saya rasanya seperti tertusuk pisau tajam, dan yang saya inginkan hanyalah segera memeluk Raphael.

  • Saat yang dinanti pun tiba. Saya langsung menyapa, menggendong, mencium dan menyusui Raphael. Suami saya menangis. Saya dihinggapi perasaan bingung, sedih, takut, marah dengan Tuhan, tapi hanya saya pendam sendiri dan saya tidak mau dikasihani. Saya harus kuat!

  • Memasuki umur 2 minggu, Kami membawa Raphael ke RSO Dr. Soeharso, Solo dan bertemu dengan Dokter spesialis ortopedi, dr. Anung Budi Satriadi, SpOT(K). Beliau menerangkan jika tangan kiri Raphael tidak memiliki tulang pengumpil (radius) dan tulang jari jempol, namun 4 jarinya masih berfungsi dengan baik. Ia pun tidak dapat menjelaskan apa yang menjadi penyebabnya.

  • Ingin rasanya saya berteriak saat melihat tangan Raphael yang masih sangat kecil harus menggunakan gips untuk meluruskan posisi pergelangan tangannya. "Ibu tidak perlu takut, banyak bayi di sini yang mengalami kasus tulang dan syaraf yang lebih rumit karena ada penyakit lain seperti cerebral palsy. Raphael sehat, hanya saja Ia diciptakan dengan kondisi unik" ujar dr. Anung menguatkan. Perkataan ini yang membuat saya optimis.

  • Kenyataannya, setahun pertama hampir setiap malam saya menangis di depan suami dan meratapi nasib saya. Bukannya tidak terima kondisi Raphael, akan tetapi saya merasa bersalah, walau tahu betul saya selalu menjaga kesehatannya saat di kandungan. Pada bulan Agustus 2015, saat Raphael berumur 1.5 tahun, Ia menjalani operasi pemasangan pen di pergelangan tangan dan jari jempolnya diamputasi. Operasi berjalan lancar, Raphael tenang sekali. Ia harus menggunakan gips selama 6 bulan dilanjutkan dengan menggunakan spline (papan peyangga) hingga Ia berumur 17 tahun nanti dan suatu saat akan menjalani operasi estetika jempol. "Perjuangan kita masih panjang nak!" batinku.

  • Sekarang Raphael sudah berusia 2 tahun. Saya bersyukur Ia tumbuh seperti anak normal pada umumnya. Saya tahu banyak Ibu mengalami hal yang sama saat melahirkan anak yang tidak sempurna baik fisik atau organ dalam tubuhnya. Mereka memiliki perjuangannya yang tidak mudah, tetapi proses yang saya lalui dapat membantu Anda untuk melihat kondisi ini dari sisi yang berbeda dan menjadi lebih bahagia.

  • Advertisement
  • TERIMA APAPUN KONDISI ANAK ANDA

  • Dukungan pasangan dan keluarga membuat saya 'ringan' menjalani semuanya. Seperti saat suami mengatakan, "Jangan menangis sayang, lihat Raphael. Saya mencintainya dan tidak akan menukar dia dengan apapun, bahkan dengan 100 bayi normal lainnya". Kata - kata ini yang selalu saya ingat agar saya selalu bersyukur dan menerima Raphael apa adanya.

  • JANGAN MENYALAHKAN DIRI SENDIRI, TETAPLAH BERPIKIR POSITIF

  • Saya selalu berpikir bahwa Raphael yang memilih kami, karena ia yakin kami-lah orangtua yang mampu merawat dan mendidiknya hingga dewasa nanti. Pemikiran inilah yang membuat saya optimis dan berhasil memberikan ASI Eksklusif selama 2 tahun.

  • JANGAN MENYALAHKAN TUHAN

  • Percayalah Tuhan punya rencana yang baik dengan jalan yang misterius. Saya sempat stres, "Bagaimana nanti jika Raphael harus bergerak? Sedangkan tangan kiri tidak bisa menjadi tumpuan." Saya hanya berdoa dan kekhawatiran itu tidak terjadi. Raphael memiliki cara sendiri untuk tengkurap dan berdiri.

  • JIKA KAMU INGIN MENANGIS, LAKUKANLAH!

  • Ekspresikan semua perasaan saat Anda berdoa atau sedang curhat dengan seseorang, seperti sedih, marah, malu, tidak terima dengan keadaan, dan lain - lain. Setelah menangis pasti Anda akan merasa lega.

  • LIMPAHKAN KASIH SAYANG

  • Saya dan keluarga mengajarkan Raphael kasih sayang yang tak terhingga, karena kami ingin Ia bisa menerima, mencintai kondisi tangannya dan mencintai sesama. Terbukti sekarang Raphael tumbuh dengan karakter yang percaya diri, ramah, dan selalu menyapa orang lain.

  • KEKURANGAN HANYA SATU TAPI BANYAK KELEBIHANNYA

  • Saya tidak menyangka saat Raphael berumur 1.5 tahun, ia bisa bernyanyi lagu Burung Kakak Tua, Tik Tik Bunyi Hujan, Naik Kereta Api dan berhitung 1 sampai 10 dalam bahasa Indonesia. Memasuki umur 2 tahun, Raphael bisa bernyanyi Twinkle Twinkle Little Star dan berhitung 1 sampai 10 dalam bahasa Inggris. Semua ini membuat saya tidak pernah sekalipun ragu dan bangga akan bakat terpendamnya dalam hal memori, musik dan bahasa. Saya yakin anak Anda pun akan membuat Anda terkagum - kagum.

  • JANGAN MENUTUP DIRI

  • Banyak orang yang bertanya dengan kondisi Raphael, dengan senang hati saya akan menceritakan yang sebenarnya. Saya tidak mau dikasihani, saya hanya ingin mereka membuka mata bahwa Raphael sama dengan anak lainnya. Mereka pun menjadi respect dan sangat menyayangi Raphael.

  • REJEKI BERLIMPAH

  • Memikirkan biaya perawatan Raphael yang tidak sedikit membuat kami memutar otak, tapi Tuhan sudah menyiapkan semuanya, bahkan rejeki kami semakin bertambah dari sisi finansial dan karier. Tidak hanya itu, Raphael mendatangkan kebahagiaan yang berlimpah di rumah dengan segala kepintaran dan kelucuannya.

  • Advertisement
  • Memiliki anak dengan kondisi spesial bukanlah akhir dari dunia ini. Raphael membuat kami buka mata terhadap dunia dan dialah 'guru kehidupan' kami yang sesungguhnya. Hidup kami pun berubah menjadi lebih dekat dengan Tuhan, sabar, selalu bersyukur, mandiri, berani,dan optimis. Kami selalu semangat membimbingnya dan mempersiapkannya menjadi pria dewasa yang berani, hebat, bertanggung jawab dan mampu menginspirasikan banyak orang.

  • IMC Challenge Day 7 Selasa, 15 Maret 2016 Lingkaran Dikasih mainan dr semua yg lingkaran.. Dilirik aja.. Jihihi sombongnya.. Ok deh mama kasih tantangan aja deh.. Wlpn maksa.. Telur itu bulat tp panjang alias oval jiahahah Hr ini mama mnt raphael kupas kulit telur 1 kg.. Jiahahaha.. Emang mau bkn telur balado.. Cm 1 kok, awalnya mama bantuin trus maunya sendiri.. Haha mama lupa copot splinenya Paa dicopot, senang tgnnya mau main "ma.. Akkkkhhhh" "Susah ya.. Sini mama bantu" "Nggak nggak ucah, nggak mau" *kalimat andalan kl nggak mau mandi, skrg jd mkn sering nggak maunya hahaha Serius bgt.. Jgn sampe kecolek nih pipinya.. Bisa gawat dunia persilatan Ok deh siippppp 😅 #IndonesiaMontessoriChallenge #IMCDettolBebasKuman #IMCCLUB #IndonesiaMontessoriCom #raphael25mo #montessoridirumah #montessoriathome #funathomewithraphael</a></p> <p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A photo posted by Celerina (@celerinaaa) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2016-03-20T15:33:29+00:00">Mar 20, 2016 at 8:33am PDT</time></p></div></blockquote> <script async defer src="//platform.instagram.com/en_US/embeds.js"></script>

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Setelah melahirkan Raphael, Celerina memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus buah hatinya tanpa bantuan baby sitter. Disinilah ia kemudian menemukan passion-nya yang baru yaitu memasak khususnya menu MPASI (Makanan Pendamping ASI)

Kisah menakjubkan: 'Buah hatiku lahir tanpa tulang radius'

Banyak Ibu mengalami hal yang sama seperti saya ketika melahirkan anak yang tidak sempurna. Semua perjuangan yang saya lalui tidaklah mudah, tetapi justru proses yang telah saya lalui membuat saya melihat anak saya dari sisi yang berbeda.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr