Sudah bercerai dan masih bisa berteman baik, mungkinkah?

Bercerai, apalagi sudah memiliki anak, membuat kita tak bisa benar-benar saling menghilang dari kehidupan masing-masing. Namun, bisakah pertemuan-pertemuan itu membuat kita dan mantan pasangan menjadi teman?

1,035 views   |   3 shares
  • Benarkah pasangan yang sudah bercerai, dapat berteman dengan mantannya? Hal ini cukup mudah dilakukan jika masih berpacaran. Ada begitu banyak orang yang dapat berkawan baik dengan mantan pacarnya, dan merupakan hal yang lumrah. Namun mantan suami atau mantan istri? Akan baik sekali jika bisa berteman, namun pada dasarnya hal ini amat sulit dilakukan. Jauh lebih sulit ketimbang berteman dengan mantan pacar.

  • Brenda Rodstorm pernah menuliskan ini dalam artikelnya di laman firstwivesworld.com, menurutnya, kita selalu bisa memilih teman. Namun apakah mantan pasangan bisa dianggap sebagai teman biasa, sementara kita pernah berada dalam posisi yang bahkan lebih dari saudara kandungnya. Kita pernah mengalami banyak hal bersama, dan bahkan memiliki anak. Maka, memang tidak mudah untuk dilakukan. Dan tak ada yang memaksa, bahwa pasangan yang telah bercerai harus bisa bersahabat.

  • Namun, patut diingat bahwa ada anak yang menjadi tanggung jawab berdua. Meski Anda kini telah menikah lagi, dan begitu juga mantan pasangan Anda, namun tanggung jawab tumbuh kembang anak, tentu berada di tangan ayah dan ibu kandungnya. Dan ini adalah hal yang tak bisa dibantah. Apalagi, jika kita berempati pada si kecil yang telah melewati banyak hal berat karena perpisahan kedua orangtuanya.

  • Anak kecil tak akan bisa mengerti, mengapa ayah dan ibunya tak lagi tinggal bersama. Mereka takkan bisa memahami, mengapa kedua orangtuanya bertengkar dan saling mencela satu sama lain. Karena itulah, mereka juga akan mempertanyakan "Jika ayah dan ibu memutuskan untuk berpisah sebagai solusi dari permasalahan yang dihadapi, mengapa kini setelah bercerai, mereka tak juga berdamai? Lalu apa solusinya?" bukankah begitu?

  • Psikolog klinis dan dosen Universitas Bina Nusantara, Pingkan C.B. Rumondor, S.Psi, M.Psi., mengungkapkan bahwa perlu tidaknya berteman baik dengan mantan suami/istri akan sangat tergantung pada alasan, proses, dan jangka waktu perceraian.

  • Menurutnya, pasangan yang baru bercerai, atau bercerai karena alasan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak disarankan membina hubungan baik dengan mantan suami. Dalam situasi seperti perceraian karena KDRT, sangat disarankan untuk menjaga jarak dari mantan suami, bahkan tidak melakukan kontak sama sekali, jika memungkinkan.

  • Kalaupun terpaksa kontak dengan mantan suami, Pingkan menyarankan untuk membuat jurnal yang merinci kapan Anda mengontak mantan suami dan untuk tujuan apa. Jurnal ini akan membantu mengevaluasi alasan masih mengontak mantan suami dan mengurangi kontak yang tidak perlu.

  • Advertisement
  • Bisa dibilang, satu-satunya alasan positif yang membuat Anda perlu berhubungan dengan mantan suami adalah anak. Hal ini tidak mudah, tapi dengan adanya co-parenting, maka anak merasa lebih aman. Co-parenting ini misalnya meliputi jadwal bertemu dengan anak, pemilihan sekolah untuk anak, jadwal menjemput anak. "Prinsipnya, anak perlu mendapatkan kesempatan untuk membina hubungan dengan orangtuanya, meskipun sudah berpisah," lanjutnya.

  • Melalui co-parenting, anak akan merasa dicintai oleh kedua orangtuanya dan juga mendapatkan pola asuh yang konsisten. Tetapi, sekali lagi, Pingkan tidak menyarankan hubungan yang terlalu intens dengan mantan suami atau istri, jika pernikahan mereka tidak dikaruniai anak. "Hubungan intens dengan mantan suami di awal perceraian selain bisa mempersulit perpisahan emosi, juga dapat mengganggu proses seseorang membentuk identitas dirinya yang baru dan siap menjalani hidup terpisah," jelas in-house psychologist setipe.com ini.

  • Seseorang yang bercerai perlu waktu untuk benar-benar bisa berpisah dari mantan suami. Bukan hanya perpisahan fisik, tapi juga emosi. Selain itu, setelah perceraian, seseorang sangat disarankan untuk berkonsentrasi pada proses pemulihan diri.

  • Ya, amat penting untuk berbuat baik pada diri sendiri. Sebab kita tak akan bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Kita harus "penuh" dulu sebelum bisa "memenuhi orang lain. Maka memberi waktu pada diri sendiri untuk "sembuh" dari luka perceraian, adalah wajib dilakukan. Ya, ada anak. Namun ingatlah bahwa anak bukan pengikat. Dengan menjadikan mereka sebagai fondasi, maka kita sebagai orangtua telah bersikap egois karena menaruh beban yang luar biasa padanya.

  • Berdamai dengan diri sendiri, akan lebih memudahkan proses berdamai dengan mantan pasangan. Sebab kita hanya bisa berbahagia untuk diri sendiri. Bercerai saja sudah merupakan hal yang sulit dan menyedihkan, memaksakan berteman sebelum siap, hanya akan melebarkan luka dan lebih menyakitkan. Padahal kita masih harus melanjutkan hidup dan membesarkan anak.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Sudah bercerai dan masih bisa berteman baik, mungkinkah?

Bercerai, apalagi sudah memiliki anak, membuat kita tak bisa benar-benar saling menghilang dari kehidupan masing-masing. Namun, bisakah pertemuan-pertemuan itu membuat kita dan mantan pasangan menjadi teman?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr