Yuk, berdamai dengan saudara ipar

Menikah artinya juga menyatukan dua keluarga besar. Dan hal ini tidak selalu berjalan dengan mulus, karena biasanya ada perbedaan kultur antara keduanya. Apalagi jika ada kehadiran saudara ipar yang sering ikut campur. Solusinya, ya cuma berdamai, toh?

2,351 views   |   12 shares
  • Menikah, artinya menyatukan dua orang, dan juga dua keluarga. Hal ini masih amat penting dilakukan, terutama di budaya Indonesia. Hal ini amat baik, karena berarti merekatkan silaturahmi. Namun, biasanya urusan ipar-iparan bisa jadi hal yang amat sensitif. Terutama jika menyangkut konflik yang timbul karena perbedaan kultur.

  • Menurut Veronika Soepomo, M.Si, Psikolog, dalam keluarga di Indonesia, tinggal seatap dengan mertua atau ipar (baik sang ipar belum/sudah menikah) merupakan hal biasa. Kedekatan ipar dengan pasangan kita, dapat menjadi awal mula konflik. Karena itu, Veronika menekankan, sejak awal memutuskan untuk bersama dan menjadi pasangan suami-istri, berarti harus memiliki komitmen kuat bahwa rumah tangga adalah aturan berdua. Apa saja masalah yang biasa terjadi?

  • Ikut campur urusan anak

  • Bagi suami-istri bekerja dan kakak iparlah yang sehari-hari ada di rumah. Praktis yang banyak menangani urusan rumah adalah si kakak ipar. Sebaiknya sejak awal sudah ada komunikasi terlebih dulu, jika selama pasangan bekerja yang mengurus anak adalah kakak ipar, maka setelah istri kembali ke rumah otomatis yang menangani anak adalah nyonya rumah tersebut.

  • Ipar tidak proaktif dalam pekerjaan rumah

  • Bila mengalami kasus seperti ini, Anda harus bicara hati-hati dengan pasangan. Meski terkesan sepele, urusan kebersihan rumah bisa meletupkan emosi loh. Sebut saja membereskan atau membersihkan peralatan makan atau kamar. Ungkapkan dan beri contoh apa saja kebiasaan dan aturan yang harus dilakukan di rumah.

  • Masih menopang kebutuhan ipar

  • Nah, soal uang ini biasanya memang paling rawan konflik. Apalagi jika sebelum menikah suami sudah bertanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Setelah menikah, suami harus sadar bahwa dia telah memiliki pasangan hidup. Tanggung jawab yang sekarang harus ia jalani adalah tanggung rumah tangga bersama pasangannya.

  • Ipar merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan pasangan Anda, dia menganggap bahwa pertalian darah/kandung ialah fokus utama. Sang ipar bisa saja mengabaikan kenyataan bahwa kakak atau adiknya sudah menjadi pasangan hidup Anda. Alhasil, si ipar pun berbuat semaunya karena berpikir toh saudaranya tidak akan keberatan.

  • "Soal keuangan antara suami istri saja seringkali sangat krusial dan sensitif, apalagi bila menyangkut ipar. Penanganannya mesti hati-hati," ujar Sukiat. Kalau tidak, lanjut doktor psikologi dari Fakultas Psikologi UI ini, salah-salah Anda bisa dicap buruk oleh keluarga besar pasangan.

  • Advertisement
  • Tentunya, bila suami dan istri berasal dari kultur dan punya kebiasaan yang sama bahwa menyokong ipar sah-sah saja dan boleh dilakukan kapan saja serta untuk keperluan apa pun, maka tak terlalu jadi masalah. Tak demikian halnya bila suami-istri dibesarkan dalam kultur berbeda, "konflik bisa timbul." Bahkan, sambung Sukiat, ada keluarga yang tercerai-berai gara-gara soal uang, "iparnya pinjam uang tapi enggak dibayar atau ada iparnya yang sering merongrong minta uang." Runyam, kan?

  • Di siniah pentingnya di antara pasangan saling jujur dan terbuka tentang pengeluaran apa pun, bukan suatu masalah besar jika masih membiayai atau menopang kebutuhan ipar. Tetapi jika bantuan dana diberikan tanpa sepengetahuan pasangan, maka ini bisa disebut sebagai "perselingkuhan keuangan".

  • Hal yang sama pun diungkap Sukiat. Menurutnya, sejak sebelum menikah, masing-masing harus terbuka dengan kebiasaan keluarga besarnya; apa sistem nilai yang dianut, bagaimana konsepnya tentang kekerabatan, termasuk soal biaya-membiayai ipar-iparnya jika ada yang harus ditanggung. Apalagi, lanjut Sukiat, ada keluarga yang salah mengartikan hubungan sangat erat antara kakak-adik. Misalnya, menganggap milik kakaknya sebagai miliknya juga.

  • Selain itu, anjur Sukiat, jangan ragu untuk berbicara tegas kepada ipar yang ngelunjak. Tapi sebelumnya kita harus yakin dulu, pasangan kita berada di pihak siapa. "Siapa tahu ia sebetulnya tertekan kalau harus membiayai adik-adiknya terus-menerus, namun tak punya keberanian bicara. Nah, Anda bisa bertindak sebagai juru bicara," katanya. Tapi bila pasangan kita termasuk tipe pembela keluarga, berarti kita harus siap "perang" besar. Soalnya, jelas Sukiat, memang ada tipe suami atau istri yang right or wrong is my family, "keluarga besarnya dibela mati-matian, sehingga gara-gara sikap ipar, hubungan suami-istri malah bisa memburuk."

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Yuk, berdamai dengan saudara ipar

Menikah artinya juga menyatukan dua keluarga besar. Dan hal ini tidak selalu berjalan dengan mulus, karena biasanya ada perbedaan kultur antara keduanya. Apalagi jika ada kehadiran saudara ipar yang sering ikut campur. Solusinya, ya cuma berdamai, toh?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr