Menjadi 'stay-at-home' mom dan ternyata semuanya cukup!

Bingung memutuskan apakah harus meninggalkan pekerjaan demi si buah hati? Akhirnya satu keputusan pun harus segera diambil. Mau tidak mau. Lalu? Yakinlah dengan keputusan yang sudah Anda ambil.

793 views   |   7 shares
  • Dalam hitungan beberapa hari ke depan, mungkin pola hidup saya akan berubah drastis. Yang tadinya berkutat dengan layar komputer, menulis, menjadi penerjemah, duduk di depan monitor 8 jam sehari, akan beralih ke kegiatan rumah tangga yang tidak ada habisnya.

  • Ya, saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tetap saya sebagai penulis di sebuah perusahaan asing dan menjadi ibu rumah tangga atau sebutan bekennya sekarang, 'stay-at-home mom' (SAHM).

  • Pertimbangan dan kebimbangan sudah menghampiri saya sejak si kecil lahir. Mulai dari menangis merengek ke suami setiap malam karena bingung, sampai konsultasi sana sini dengan teman yang sudah lebih dulu mengambil pilihan menjadi SAHM. Bagaimana tidak, menjadi karyawati, bekerja 8-9 jam sehari adalah pola hidup yang sudah 'ngelotok' di hidup saya selama hampir 10 tahun terakhir.

  • Nah, artikel yang akan saya tuliskan ini berasal dari tulisan asli milik seorang ibu bernama Brittany. Sebelum menjadi ibu rumah tangga, Brittany berprofesi sebagai guru. Tulisannya lumayan menguatkan saya hingga bulat memutuskan untuk menjadi SAHM.

  • Memang, tidak ada yang salah menjadi ibu bekerja. Tapi saya yakin, bisa bekerja di rumah sambil mengasuh anak 24 jam sehari adalah impian setiap ibu. Pun, banyak teman kantor saya yang juga sesungguhnya memimpikan bisa mengasuh anak di rumah sepenuhnya. Tapi sayangnya kondisi tidak memungkinkan. Karena itulah, menjadi SAHM ataupun Working Mother (WM), dua-duanya adalah keputusan yang sama-sama berani.

  • Anywaaay, ada 3 tips yang diterapkan oleh Brittany dan ternyata membuatnya berhasil sebagai SAHM. Tidak hanya dia, tapi juga teman-temannya.

  • 1. Milikilah perencanaan jelas.

  • Menjadi SAHM itu tidak terjadi dalam satu malam. Karena itulah Anda harus punya perencanaan. Nasehat terbaik yang pernah saya dengar adalah, kita harus bisa 'hidup' dengan satu sumber pendapatan sejak pertama menikah. (Kita bisa saja punya 2 sumber pendapatan, tapi pendapatan dari sumber ke-2 hanya boleh ditujukan untuk tabungan dan barang-barang yang sifatnya hanya 'sekali beli'. Bukan untuk belanja bulanan dan pengeluaran-pengeluaran bulanan. Agar, ketika Anda kehilangan sumber pendapatan yang ke-2, Anda tidak perlu kuatir. Karena sejak awal sumber pendapatan pertama sudah bisa diandalkan.

  • "Bagi pasangan yang sudah terbiasa dengan 'joined income' sedari awal menikah, juga pasti merasakan kesulitan ketika salah satu harus merelakan pekerjaan mereka. Menghadapi situasi ini, Anda harus pandai memotong pengeluaran yang tidak diperlukan dan sebisa mungkin menabung sebanyak-banyaknya ketika Anda dan pasangan masih sama-sama bekerja."

  • Advertisement
  • 2. Akrabkan diri Anda dengan kesederhanaan.

  • Selanjutnya, Anda mungkin harus belajar hidup tanpa sesuatu hal yang selama ini membuat Anda senang. Misalnya, sejak berhenti bekerja, Anda jadi jarang makan di luar, jarang travelling ke luar kota atau bahkan luar negeri, terpaksa membeli perabot bekas, dan sebagainya. Anda harus terbiasa dan memotivasi diri sendiri; "Ah, nggak masalah 'kok."

  • "Saya tidak butuh semua kemewahan itu. Yang saya butuhkan adalah momen-momen berharga bersama anak-anak saya."

  • 3. Cari pemasukan ekstra dari pekerjaan sampingan.

  • Yang terakhir, hal yang bisa jadi paling bijak yang bisa Anda lakukan sekarang adalah, mencari pekerjaan sampingan. BANYAK sekali pekerjaan yang bisa Anda lakukan dari rumah dan sifatnya paruh waktu. Tentu, agar Anda masih bisa menghabiskan waktu bersama anak-anak di rumah. Saya ingat ketika masih kecil dulu, saya rela tidak pergi kemana-mana di akhir pekan hanya untuk bisa menghabiskan waktu bersama ayah saya. Sekarang, saya bisa bekerja sepenuhnya dari rumah sebagai penulis lepas dan seorang blogger.

  • "Saya bisa bekerja di saat anak-anak tidur siang atau ketika mereka sudah terlelap di malam hari. Saya pun akan selalu ada untuk mereka di setiap saat, setiap menit dan detik! (Yang kadang-kadang saya anggap berkah sekaligus bisa jadi kutukan. Ha ha ha," kata Brittany.

  • Well, doakan saya ya. Semoga saya juga sukses menjadi SAHM, dan semuanya tercukupi! Amin!

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Lulus sebagai Sarjana Sastra dan menjabat sebagai Content Manager www.keluarga.com. Wiwin mengawali kariernya di media cetak harian nasional tertua di Indonesia, mengasah kemampuannya sebagai jurnalis mulai dari reporter junior hingga editor senior di beberapa majalah gaya hidup asing dan lokal Indonesia.

Situs: http://wiwinwiw.wordpress.com

Menjadi 'stay-at-home' mom dan ternyata semuanya cukup!

Bingung memutuskan apakah harus meninggalkan pekerjaan demi si buah hati? Akhirnya satu keputusan pun harus segera diambil. Mau tidak mau. Lalu? Yakinlah dengan keputusan yang sudah Anda ambil.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr