Jangan ajarkan anak soal sopan santun kalau Anda belum tahu yang ini

Tugas orang tua untuk membimbing anak mengembangkan social skill-nya, agar ia tumbuh sebagai pribadi yang mampu bersosialisasi dan memiliki sopan santun pada setiap orang di sekitarnya.

818 views   |   13 shares
  • Saat keponakan saya telah memasuki usia remaja, ia sudah dapat menolak perintah neneknya hingga keluar kata-kata "Kamu nggaksopan! Semakin besar makin maunya sendiri!" dari mulut nenek yang sudah tidak tahan. Akhirnya seperti sedang perang dunia ketiga, keponakan saya masuk kamar dengan membanting pintu.

  • Melihat situasi ini, saya hanya terdiam karena tidak mengetahui duduk permasalahnya dan tidak ingin memihak. Tapi apapun alasannya, memang menjadi hal yang serius saat seorang anak tidak peduli dengan etika atau tata krama. Padahal ini adalah salah satu bekal saat ia dewasa nanti.

  • Tugas kita sebagai orangtua adalah membimbing anak kita dengan berbagai hal positif termasuk sopan santun. Ini adalah bagian dari keterampilan sosial (social skill)agar ia tumbuh sebagai pribadi yang mampu bersosialisasi, memiliki simpati, empati, tanggung jawab dan dapat mengendalikan diri.

  • Sopan santun mencakup dua aspek yaitu aspek kognitif di mana anak mengerti pengetahuan tata krama dan tata tertib, sedangkan aspek psikomotorik, anak berperilaku dengan menerapkan tata krama dan tata tertib tersebut. Sebelum Anda mengajari anak Anda tentang sopan santun, akan lebih baik jika Anda mengerti fase tumbuh kembang dari kecil hingga dewasa.

  • UMUR 0 - 5 TAHUN (FASE DISIPLIN)

  • Pada fase ini diperlukan sikap konsisten dari orang tua dalam memberikan arahan, mana yang baik dan tidak baik. Saat ia sudah mulai lancar berbicara, ajaklah untuk berkomunikasi dengan membiasakan untuk berkata terima kasih atau tolong.

  • Saat anak berumur 2 tahun, ia mulai belajar bersosialisasi. Anda bisa mengajarinya untuk selalu ramah dengan orang lain dan menyapa, seperti katakan "Halo" saat bertemu seseorang atau mengatakan "Dadah, sampai jumpa lagi" saat berpisah.

  • Memasuki umur 3 hingga 5 tahun, anak sudah mengenal emosi seperti senang, marah, sedih, takut, dan kaget. Anda bisa mengajarinya berbagai hal yang berhubungan dengan orang yang ada di sekitarnya. Contohnya, selalu berbagi sesuatu seperti mainan dan jelaskan bagaimana rasanya jika mainannya direbut orang lain.

  • UMUR 6 - 12 TAHUN (FASE TRAINING)

  • Orang tua berperan untuk menjadi contoh yang baik bagi anak. Pada fase ini anak sudah bisa melampiaskan marah marah dengan berontak atau berlaku negatif jika ia diperlakukan tidak adil. Yang Anda lakukan adalah tetap memberinya contoh dengan menegurnya dan berbicara secara halus, lalu ingatakan ia untuk berbicara dengan sopan kepada orang tua sebagai tanda saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

  • Advertisement
  • UMUR 13 - 18 TAHUN (FASE COACHING)

  • Dalam fase ini, orang tua menjadi mentor dalam membimbing anak. Bangunlah hubungan baik dengan anak dengan sering mengajaknya ngobrol. Terkadang anak hanya ingin didengar, jadi jangan langsung menasehati atau mengguruinya karena hal tersebut membuat anak menjadi sensitif dan segan untuk bercerita.

  • Tak jarang pula, Anda memberinya beberapa batasan yang membuat anak tidak suka dan memicu pertengkaran. Setelah Anda tenang, dekatilah ia dan jelaskan alasan Anda memberi batasan. Jangan segan untuk meminta maaf jika Anda menyakiti hatinya. Saat inilah, anak belajar sopan santun dengan contoh yang nyata.

  • UMUR 19 TAHUN KEATAS (FASE FRIENDSHIP)

  • Fase ini penting bagi orang tua untuk hadir sebagai sahabat bagi anaknya. Ia sudah mengerti peraturan yang membuat ia bertanggung jawab namun batasan - batasan dari orang tua tetap diperlukan untuk menjaganya berada di 'jalur' yang positif.

  • Berilah kepercayaan padanya dan yakinkan diri kita bahwa anak - anak bisa bersikap sopan santun dari apa yang Anda ajarkan sedari ia kecil, kepada semua orang di sekitarnya.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Setelah melahirkan Raphael, Celerina memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus buah hatinya tanpa bantuan baby sitter. Disinilah ia kemudian menemukan passion-nya yang baru yaitu memasak khususnya menu MPASI (Makanan Pendamping ASI)

Jangan ajarkan anak soal sopan santun kalau Anda belum tahu yang ini

Tugas orang tua untuk membimbing anak mengembangkan social skill-nya, agar ia tumbuh sebagai pribadi yang mampu bersosialisasi dan memiliki sopan santun pada setiap orang di sekitarnya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr