Menghadapi 'pihak ketiga' yang berbulu dalam pernikahan

Memelihara hewan adalah hal yang baik pada kita, juga dalam menjalani hubungan pernikahan. Namun, ternyata ada juga masalah yang bisa jadi timbul karena kesayangan berbulu ini. Apa sajakah, dan bagaimana mengatasinya?

576 views   |   7 shares
  • Penyebab konflik dalam rumah tangga tidak selalu muncul dari wanita atau pria lain. 'Pihak ketiga' dalam rumah tangga bisa disebabkan oleh hal-hal lain yang dianggap tidak terlalu penting, padahal sebetulnya cukup krusial. Salah satunya adalah perihal memelihara hewan kesayangan.

  • Masalah biasanya timbul bukan hanya dari keberadaan hewannya, tapi kotoran binatang yang terlambat dibersihkan, waktu pasangan akan lebih lama dengan hewannya, atau pengeluaran perawatan dan kesehatan binatang yang memakan biaya.

  • Coba bayangkan, seekor kucing manis yang tadinya tak pernah memberi masalah pada kita, sebelum menikah, tiba-tiba bertingkah. Hewan bisa cemburu juga lho, maka, bukan tak mungkin saat sudah menikah, ia merasa diabaikan dan mulai memberi masalah. Misalnya buang air kecil sembarangan, atau bahkan di barang-barang pasangan kita. Lalu apakah kita harus memilih saja salah satu?

  • Ashley Gray, dokter hewan dan pendiri Vetsure Pet Insurance mengatakan, hubungan khusus yang kita miliki dengan hewan peliharaan membuat kita menjadi semakin dekat dan memicu hubungan lebih kompleks. Sebagai pemilik hewan peliharaan kita mendapatkan manfaat lebih dari hewan peliharaan dari segi emosional. Hewan tidak menghakimi kita. Mereka sangat pemaaf dan biasanya memberikan lebih dari yang mereka dapatkan dari hubungan itu.

  • Hal ini bahkan telah dibuktikan dari studi yang dilakukan oleh Universitas Buffalo. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa pasangan yang memelihara hewan biasanya memiliki hubungan yang lebih erat, merasa lebih nyaman dalam pernikahan dan memiliki respons yang lebih baik dalam menghadapi stres, ketimbang pasangan yang tidak. Sebab, menyayangi hewan akan menurunkan tekanan darah.

  • Hewan peliharaan akan mengurangi stres di antara pasangan, terutama saat masa-masa sulit terjadi. Sebagai teman, hewan kesayangan akan menenangkan setiap pasangan. Plus, mereka juga bisa jadi hiburan karena tingkah-tingkah lucunya.

  • Namun, penelitian ini juga membuktikan bahwa memelihara hewan bisa jadi penyebab rusaknya pernikahan. Hingga 60 persen pasangan mengatakan bahwa peliharaannya jadi sumber masalah. Dan ujungnya nanti, tak hanya pernikahan yang berisiko menjadi korban. Tapi kesejahteraan hewan pun bisa menjadi korban. Untuk itu, ada beberapa tips dalam menghadapi kasus ini:

  • "Aku boleh pelihara anjing, gak??"

  • Kelihatannya bukan ide yang baik, jika hanya salah satu dari pasangan yang ingin memelihara hewan. Apalagi jika pasangannya belum pernah memelihara hewan, sebelumnya.

  • Advertisement
  • "Giliran kamu ajak jalan-jalan Bruno" (Pk 6:00 WIB)

  • Siapa pun yang sejak awal ingin memelihara, atau sudah memelihara, sebaiknya jalankan dulu tanggung jawabnya sendiri. Tak perlu memaksa pasangan untuk melakukan apa pun, apalagi jika masih berada dalam masa penyesuaian. Karena itulah, sejak awal siapkan kesepakatan bersama dalam tugas-tugas ini.

  • Setidaknya si meong tidak perlu sekolah

  • Perawatan hewan tidak murah. Ada makanan, kontrol ke dokter, pasir, alat mandi, mainan, keranjang bepergian dan lain-lain. Karena itu, sejak awal sepakati bersama pos keuangan untuk kesejahteraan hewan.

  • "Pilih aku atau si kucing."

  • Ingatlah, tidak semua orang ingin berbagi tempat tidur dengan hewan. Hal ini bisa jadi konflik besar. Karena itu, sepakati juga sejak awal keberadaan si hewan, dan lokasi yang boleh dimasukinya.

  • "Dia lebih perhatian pada anjingnya!"

  • meski hal ini dikatakan sambil bercanda, tetaplah bukan pertanda baik bagi pernikahan. Kita harus paham bahwa hewan butuh waktu dan perhatian. Maka, bukan tak mungkin pasangan merasa tersingkirkan.

  • Maka, poin terpenting memang melakukan perundingan dan kesepakatan bersama dengan pasangan. Bahkan sejak sebelum menikah. Jalani pernikahan dengan komitmen yang kuat atas kesepakatan yang telah dibuat. Usahakanlah untuk terus saling mengerti, antar pasangan. Jika hal ini sudah terbentuk, keberadaan hewan peliharaan barulah terasa manfaatnya untuk membuat pasangan menjadi semakin dekat.

  • Di atas semua itu, tentukan prioritas sejak sebelum menikah. Jadikan hewan peliharaan sebagai salah satu isu penting yang harus dibahas, sebelum keburu melaju ke jenjang pernikahan dan semuanya jadi terlambat. Jika Anda mencintai seseorang yang tidak menyukai hewan, Anda bisa memberi pilihan pada diri sendiri. Apakah hewan lebih penting ketimbang pacar? Apakah ia begitu penting sehingga Anda lebih memilihnya, dan memberikan hewan kepada orang lain agar bisa menikah dengannya? Bicarakan hal ini secara terbuka dan cari solusi sejak awal akan jauh lebih baik, ketimbang nantinya Anda kehilangan dia, atau kehilangan hewan kesayangan Anda.

  • Tentu akan sangat sempurna, jika Anda menikahi dia yang memang juga sayang binatang. Sebab, sepantasnya pasangan bermitra dengan hewan peliharaan. Kunci untuk menjaga hubungan dengan pasangan adalah menjaga keseimbangan. Jika situasi menjadi sangat menyusahkan bagi hubungan Anda, maka buat pengaturan waktu dan peraturan lain tentang hewan peliharaan Anda.

  • Advertisement
Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menghadapi 'pihak ketiga' yang berbulu dalam pernikahan

Memelihara hewan adalah hal yang baik pada kita, juga dalam menjalani hubungan pernikahan. Namun, ternyata ada juga masalah yang bisa jadi timbul karena kesayangan berbulu ini. Apa sajakah, dan bagaimana mengatasinya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr