Ternyata, ini penyebab utama perceraian jaman sekarang

Pernikahan pasti memiliki masalah, dari zaman dahulu hingga kini. Namun, di era serba digital, serba sibuk, dan kota besar yang sarat kemacetan, tantangan tentu semakin banyak dan kompleks. Apa sajakah? Mampukah kita mengatasinya?

10,622 views   |   85 shares
  • Tahukah Anda, bahwa kota-kota di Australia menetapkan jam malam yakni Pk 17.00? Ya, jadi semua toko dan kantor sudah harus bubar jalan sejak pukul lima sore. Di kota besar, memang akan selalu ada restoran atau klub yang buka hingga tengah malam, namun tentunya tidak untuk semua orang. Kebanyakan keluarga di sana, dapat menikmati makan malam bersama, dan bermain-main atau mengobrol sebelum tidur.

  • Sementara kota-kota besar di Indonesia, sepertinya tidak punya kebijakan demikian. Merupakan hal wajar jika kita melihat anak-anak masih berkeliaran di pusat perbelanjaan hingga malam. Dan begitu banyak pekerja yang menghabiskan waktu di kafe, sembari menunggu macet. Begitu juga pasangan suami istri, yang memiliki kesibukan masing-masing. Kehadiran gadget pun, bagai menyempurnakan kerenggangan yang terjadi karena jarangnya menghabiskan waktu bersama.

  • Memang, baik dulu atau sekarang, membina pernikahan bukanlah perkara mudah. Masing-masing dengan persoalannya sendiri, meski masalah keluarga, orang ketiga, uang, hingga pekerjaan yang biasanya jadi biang keladi. Namun kini, tantangan yang dihadapi pasangan suami-istri makin kompleks. Selain hal-hal tadi, banyak hal baru yang bisa menggoyahkan sebuah pernikahan. Media sosial, gaya hidup, serta tayangan media massa seperti 'pupuk' yang menyuburkan ketidakharmonisan rumah tangga.

  • Beginilah wujud era digital, saat semua orang terkoneksi melalui gadget. Reservasi restoran untuk dinner dengan pasangan, cukup lewat aplikasi. Menghadiahi bunga untuk istri tinggal klik website florist, kurir segera datang mengirimkan bunga ke kantor istri. Hal ini memang praktis, dan anti ribet, namun juga tanpa ada koneksi fisik. Sudah berangkat harus lebih pagi, pulang harus lebih malam, ditambah segala sesuatu terkoneksi secara digital semata.

  • "Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi justru mendekatkan mereka yang jauh dan menjauhkan yang dekat," ujar Devie Rachmawati, S.Sos, M.Hum, Pengamat Sosial dan Pengajar Komunikasi Vokasi Universitas Indonesia. Godaan selingkuh di era sekarang jauh lebih mudah dibandingkan beberapa dekade lalu, karena kemajuan teknologi komunikasi. Sekarang, buka saja laman media sosial, iseng-iseng ngobrol dengan teman lama, ternyata nyambung dan berlanjut. Inilah yang membuka celah untuk terjadinya perselingkuhan.

  • Perselingkuhan sendiri, pada umumnya berawal dari kebutuhan di rumah yang tidak terpenuhi oleh pasangan. Entah kebutuhan bercerita tentang problem sehari-hari, kebutuhan untuk diperhatikan, dicintai, dan lainnya. Karena tidak terpenuhi, mereka mencarinya di luar. Jika permasalahan ini tidak segera diselesaikan, rumah tangga akan bubar, ada atau tidaknya teknologi.

  • Advertisement
  • Devie mencontohkan, riset di beberapa negara menyebutkan, aktivitas seseorang di media sosial dipakai sebagai bukti dalam sidang perceraian. Salah satunya di Italia. Menurut The Italian Association of Matrimonial yang ditulis independent.co.uk, dalam 40% gugatan perceraian, percakapan seseorang lewat WhatsApp dijadikan bukti ketidakjujuran dan perselingkuhan.

  • Ketua asosiasi itu, Gian Ettore Gassani, mengatakan, "Media sosial mendorong orang Italia lebih mudah berselingkuh, melalui SMS, Facebook, dan WhatsApp, mereka bertukar foto dan kata-kata mesra," jelasnya. Hal ini dibenarkan oleh Devie. Bahkan menurut Devie, media sosial membuat orang dapat membina hubungan atau berselingkuh dengan 4-5 orang sekaligus.

  • Namun, Devie menilai media sosial bukan penyebab perceraian. "Media sosial hanya menjadi katalis. Penyebab sesungguhnya adalah kekeringan hubungan antara pasangan tersebut," ungkapnya.

  • Di Indonesia, data Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama (Kemenag) menyebutkan, angka perceraian di Indonesia, dari 2 juta pasangan menikah, 15%-nya bercerai.

  • "Ternyata, penyebab perceraian di urutan pertama bukan semata-mata masalah ekonomi, melainkan ketidakharmonisan. Ini karena tidak adanya bonding emosional dan koneksi fisik antarpasangan," jelas Devie. Contoh salah satu penyebabnya, menurut Devie, dalam konteks kota besar adalah kegagalan pemerintah membangun sistem transportasi masal yang memadai. Ini membuat anggota keluarga sekarang harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam.

  • Dengan begitu, hubungan dengan pasangan makin berjarak, dan waktu yang dihabiskan bersama orang-orang di luar rumah lebih banyak dibandingkan pasangannya sendiri. Emotional bonding justru dengan orang lain. Setibanya di rumah, suami-istri sudah lelah. "Ini membuat mereka terisolasi di rumah sendiri, hingga menimbulkan ketidaknyamanan yang memicu perceraian," ungkap Devie.

  • Sayangnya, Anda tak bisa menyalahkan siapa pun, baik media sosial, maupun kebijakan pemerintah. Sebab pernikahan ini punya Anda dan pasangan. Jika sudah memahami masalah utama dari kerenggangan, bukankah akan lebih baik jika kita menggunakan gadget dengan lebih bijak? Lalu mencari cara agar, Anda sekeluarga dapat tetap menghabiskan waktu lebih banyak, bersama-sama.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ternyata, ini penyebab utama perceraian jaman sekarang

Pernikahan pasti memiliki masalah, dari zaman dahulu hingga kini. Namun, di era serba digital, serba sibuk, dan kota besar yang sarat kemacetan, tantangan tentu semakin banyak dan kompleks. Apa sajakah? Mampukah kita mengatasinya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr