Jangan remehkan rasa kesepian

Era modern membuat kita sulit bertatap langsung dengan keluarga atau teman dekat, apalagi ditambah kesibukan dan kelelahan. Tanpa disadari, kita mulai merasa sendiri dan kesepian. Namun kerap dibiarkan. Tanpa kita paham bahwa ini sebetulnya berbahaya.

4,114 views   |   28 shares
  • Banyak orang, terutama mereka yang mengalami codependency (ketidakdewasaan akibat trauma masa kecil, takut ditinggalkan, ditolak, dikhianati, sulit mencintai dan mengurus diri sendiri), dihantui oleh rasa kesendirian. Hal ini tak hanya mempengaruhi kejiwaan, hubungan dengan orang lain, namun juga kesehatan.

  • Kesendirian, atau loneliness, memang dapat mempengaruhi kesehatan fisik kita. Menunjukkan rasa kesepian, turut memberi dampak negatif bagi kesehatan tubuh kita secara jangka panjang. Kanker, sakit jantung, dan mudah tertular infeksi atau penyakit karena virus, contohnya. Sayangnya, tak ada yang mewanti-wanti kita tentang bahayanya. Karena seringkali dianggap remeh. Ditambah lagi, kita jarang menjadikan perawatan bagi luka psikologis kita sebagai priorotas.

  • Ada dua alasan mengapa kesepian ini amat penting untuk diatasi, selain karena mengganggu kesehatan fisik:

    1. Loneliness menyebabkan kita terlalu berlebihan mengkritik diri dan orang lain serta memandang negatif terhadap relasi yang kita jalin. Hal ini tentu mengganggu interaksi dengan sesama.

    2. Membuat kita selalu berpikir buruk atau berpikir terjelek tentang diri sendiri, yang membuat hilangnya kualitas koneksi kita dengan orang lain.

  • Selain yang diungkap tadi, laman psych centra juga pernah memuat artikel mengenai bahayanya rasa kesepian yang dbiarkan. Salah satunya adalah rasa kesepian versus terbiasa sendiri. Oh iya, perhatikan dengan seksama bahwa kini banyak orang yang lebih memilih untuk menjadi soliter dan hidup sendirian. Meski rasa kesendirian banyak terjadi pada mereka yang memilih hidup sendiri, namun ternyata hal ini tak selalu jadi penyebab rasa kesepian. Sebab, tinggal sendiri tak berarti kita benar-benar sendirian. Tak semua orang yang memilih hidup solo, dan menderita. Sebab kita masih bisa berinteraksi dengan orang lain di luar rumah.

  • Penderitaan yang dirasakan mereka yang kesepian ini ternyata juga bisa dialami oleh seseorang yang hidup bersama banyak orang. Hal ini kebanyakan terjadi karena kurangnya kualitas hubungan, meski kuantitasnya cukup. Dengan panjangnya jam kerja, kehadiran televisi dan gawai, intensitas makan bersama keluarga lambat laun berkurang bahkan mulai menghilang. "Screen time" kini sudah menggantikan "face time". Dan mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai, cenderung mudah merasa kesepian.

  • Absennya kehadiran orang lain untuk mendengar, memberi perhatian dan mengakui keberadaan kita juga seringkali menyebabkan rasa terisolasi dan teracuhkan secara emosional. Apalagi bagi mereka yang mengalami codependency. Sebab sejak awalnya, sudah merasa kesulitan untuk mengakrabkan diri dengan orang lain, terkait dengan rasa malu dan minimnya kemampuan bersosialisasi. Jadi, meski berada dalam satu hubungan, codependent akan terus merasa dirinya tak mampu merasa bahagia.

  • Advertisement
  • Inilah mengapa, membangun koneksi dengan anak menjadi hal yang terpenting dalam pengasuhan. Sebab, mereka yang tak berhasil membangun kedekatan, dan keterikatan dengan keluarga, cenderung tumbuh menjadi seorang codependent. Kurangnya koneksi dengan orangtua, juga menyembabkan anak menumbuhkan naluri merasa terpisah dari dirinya sendiri. Hal inilah penyebab dasar terjadinya rasa kesendirian, sebab mereka merasa tak berharga. Yang paling menyedihkan dari mengalami loneliness adalah, rasa ini akan menyeret kita pada sikap defensif, memandang negatif dan kecemasan.

  • Apakah pernah melihat teman, saudara, atau orang lain yang terlihat menanggung banyak beban, dan merasa kesepian? Atau bahkan diri sendiri? Lalu bagaimana solusinya? Batasi penggunaan gawai, dan mulailah berinteraksi dengan orang lain. Sebab, jika terus-terusan memanjakan rasa tak ingin bicara pada orang, akan mengakibatkan rasa kesendirian semakin menggeregoti diri sendiri.

  • Wajar memang, sebab naturalnya, saat kita merasa kesepian, kita justru semakin menarik diri dari orang banyak. Rasa ini akan menyebabkan seseorang lebih memilih perilaku adiksi, ketimbang mencari koneksi sosial. Maka itu, ada korelasi tinggi antara rasa kesepian dan obesitas. Mulailah dari mengakui pada tetangga, saudara, sahabat, bahwa kita kesepian.

  • Kemudian lawan rasa takut dengan mulai berbaur dengan orang lain, ikut kursus misalnya. Bertemu teman-teman, berolahraga dengan sahabat, atau berkenalan dengan orang baru. Memanjakan rasa takut akan mengalami lebih banyak "luka" jika kita membuka hati, tak akan mengangkat kesepian. Penolakan dan sibuk menilai buruk tentang diri sendiri, kita justru sedang membesarkan rasa kesendirian. Membiarkan setiap rasa mengalir, keluar sedikit demi sedikit dari pikiran, tak hanya melepas rasa kesepian, juga meningkatkan energi agar mampu melawan kesendirian.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Jangan remehkan rasa kesepian

Era modern membuat kita sulit bertatap langsung dengan keluarga atau teman dekat, apalagi ditambah kesibukan dan kelelahan. Tanpa disadari, kita mulai merasa sendiri dan kesepian. Namun kerap dibiarkan. Tanpa kita paham bahwa ini sebetulnya berbahaya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr