Saat persahabatan retak, apa yang harus dilakukan?

Bersahabat dengan seseorang, atau beberapa orang, adalah hal yang menyenangkan dan merupakan kebutuhan dasar manusia. Namun, kenyataannya, tak semua hubungan pertemanan bisa bertahan seumur hidup. Perpecahan bisa saja terjadi.

1,225 views   |   5 shares
  • Memiliki sahabat adalah anugerah yang harus disyukuri. Sebab, kita diciptakan Tuhan untuk bisa terus mengakomodasi perubahan yang terjadi setiap saat di dalam lingkungan sosial. Karena itu kita dituntut untuk terus bisa mengubah cara berpikir, emosi dan perilaku. Memiliki seseorang (atau beberapa orang) yang berjalan bersama mengalami berbagai perubahan tersebut, di setiap waktu, dalam bentuk persahabatan, bisa dibilang keajaiban. Ya kan?

  • Meskipun demikian, persahabatan tidak selalu dapat dipertahankan selamanya. Masing-masing kita memiliki kebutuhan dan kapasitas yang harus berjalan seiringan. Sahabat, harus bisa dan mau untuk saling membantu dalam menjalaninya. Namun dalam kenyataannya, kebersamaan itu juga bisa mengalami perubahan. Dan saat seseorang mengalami perubahan sendiri, sementara sahabatnya tidak, maka 'sistem' yang telah berjalan bisa hancur.

  • Karena itulah, kadang persahabatan dapat memudar begitu saja. Apalagi jika yang terjadi kemudian adalah satu orang mengorbankan diri dan seluruh kepunyaannya, hanya demi menyenangkan sahabatnya. Hal ini menimbulkan kesedihan, luka dan perasaan negatif namun jadi membingungkan karena ada begitu banyak kenangan dengan kebahagiaan yang pernah dijalan bersama. Lalu bagaimana jika kita harus menghadapi persoalan semacam ini?

  • Mengubah perspektif

  • Saat sahabat mengecewakan Anda, dan hubungan dengannya kini terancam hancur, biasanya terjadi karena koneksi Anda sebagai manusia biasa yang memiliki kebutuhan dilihat, didengar dan diperhatikan kini berada dalam bahaya. Hal ini akan mengakibatkan perasaan Anda bercampur aduk, dengan rasa sakit hati, kecewa, bahkan frustasi. Dan pada akhirnya berubah menjadi sikap defensif, juga perasaan marah yang terjadi setiap saat padanya.

  • Jika hal ini terjadi, kenali dulu reaksi emosi yang Anda rasakan. Pikirkan dan ingat baik-baik bahwa dari satu kebencian, akan lahir kebencian-kebencian lainnya. Dan hal ini jelas tidak sehat. Lagipula, masalah sebenarnya bukan berasal dari perasaan tersebut. Yang paling penting adalah mengusahakan untuk memperbaiki jalinan pertemanan. Hasil akhir terbaik hanya akan muncul dari perspektif yang rasional.

  • Fokus pada masalah utama

  • Misalnya sahabat Anda kerap meledek Anda di hadapan umum. Lalu Anda telah menyampaikan kekesalan, dan ia mengerti lalu meminta maaf, namun ternyata tetap melakukannya. Anda pasti merasa amat kesal dan tak lagi merasa nyaman dengannya. Dan saat ini terjadi, berbagai pikiran dan perasaan pasti bercampur baur dengan rasa marah.

  • Advertisement
  • Nah, mengatasi hal ini, ingatlah bahwa Anda telah mengungkapkan padanya bahwa perilaku tersebut tidak menyenangkan. Ia punya pilihan untuk berhenti, atau terus melakukannya. Jika ia tidak mau berhenti, hanya ada dua pilihan: terima saja ia apa adanya, atau akhri persahabatan. Namun ingat juga bahwa Anda harus mempertimbangkan, apa penyebab ia terus melakukannya? Jangan-jangan perilaku Andalah yang menyebabkannya. Jika iya, apakah Anda mau dan bisa mengubah hal yang ternyata menjadi alasan ia melakukan hal itu?

  • Tidak mudah dilakukan

  • Ya, menjaga perspektif rasional dalam menjalani persahabatan memang tak selalu mudah dilakukan. Sebab, setiap kita seringkali mengedepankan perasaan karena Anda selalu yakin bahwa ia tidak akan menyakiti Anda dengan sengaja. Jadi Anda akan terus bertahan dalam persahabatan dengannya, meski terus menerus merasa kecewa dan sakit hati.

  • Perspektif semacam ini bukan berarti memisahkan diri dan menyangkal adanya emosi. Justru dengan mengedepankan pemikiran rasional, Anda pasti lebih memperhatikan hubungan Anda dengannya. Karena mencari akar masalah, dengan menentukan kebutuhan Anda yang tak bisa terpenuhi darinya lalu berusaha berkomunikasi untuk menyelesaikan setiap konflik, merupakan bukti rasa peduli Anda. Pada sahabat, dan juga pada diri Anda sendiri.

  • Perspektif ini juga melibatkan, semaksimal mungkin, kemampuan untuk melepaskan diri dari rasa menyalahkan dan kemarahan yang membuat Anda terus tertahan dalam hubungan yang tak sehat. Hubungan persahabatan yang timpang hanya akan mengakibatkan kebencian, dan lebih buruknya lagi, bersembunyi dalam diri, tak terselesaikan.

  • Menjaga komunikasi dan selalu mengungkapkan dengan jelas kebutuhan dan ekspektasi Anda kepada sahabat, jelas lebih baik. siapkan juga diri Anda untuk mendengarkan kebutuhan dan ekspektasinya pada Anda. Berjalan bersama dalam hubungan yang sehat, atau mengakhiri persahabatan yang tak lagi sejalan, itu saja pilihannya. Tak perlu khawatir, sebab nanti Anda pasti menemukan seorang teman yang cocok dan bisa sama-sama menjalankan perspektif rasional.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Saat persahabatan retak, apa yang harus dilakukan?

Bersahabat dengan seseorang, atau beberapa orang, adalah hal yang menyenangkan dan merupakan kebutuhan dasar manusia. Namun, kenyataannya, tak semua hubungan pertemanan bisa bertahan seumur hidup. Perpecahan bisa saja terjadi.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr