Seluk beluk anak usia 0-2 tahun yang patut Anda ketahui

Seringkali orangtua meremehkan stimulasi pada anak usia 0-2 tahun, sebab anak pada usia tersebut dianggap belum terlalu banyak tuntutan. Memang sih, namun ternyata, ikatan kuat hanya terbentuk di 2 tahun pertama hidup seseorang. dan tak bisa tergantikan.

880 views   |   10 shares
  • Tahukah Anda, bahwa mengurus bayi tak sesederhana menyusui, mengganti popok, dan menemaninya tidur saja? Anak usia 0-2 tahun memang belum memiliki kemampuan selihai mereka yang berusia di atasnya. Namun ternyata, ada begitu banyak hal penting yang harus diingat dan dilakukan saat mengasuh si kecil, di usia yang, ternyata, amat krusial untuk diberi stimulasi.

  • Hal ini dijelaskan oleh Devi Sani, M.Psi, Psikolog, seorang psikolog anak di klinik Rainbow Castle. Ia menjabarkan mengenai anak usia 0-2 tahun menjadi beberapa poin:

  • Perkembangan kognitif

    1. Sensorimotor: Anak yang masih mungil ini, perkembangan kognitifnya berada di tahap sensorimotor. Artinya, mereka berpikir menggunakan mata, telinga, tangan dan alat sensorimotor lainnya. Mulai usianya 8 bulan, mereka sudah mampu melakukan repetisi. Dan di usia 12 bulan, saat gerakannya mulai terorganisir, mereka juga sudah mampu melakukan imitasi. Nah, karena itu, jangan diam saja saat mengganti popok atau menyusui bayi, bahkan sejak ia baru lahir. Ajak ia bicara, tatap matanya, berikan sentuhan lembut di alat sensorinya. Berikan ia stimulasi dengan mengenalkan berbagai tekstur dan warna sejak ia mulai bisa menggenggam.

    2. Seperti melamun: jika bayi memperhatikan sesuatu dengan waktu yang cukup lama, dan seperti melamun. Jangan dikagetkan dan diganggu. Sebab, ia memang membutuhkan waktu sekitar 3-4 menit untuk memperhatikan objek yang baru dan aneh baginya. Di sinilah kita bisa bermain "Uninterrupted play".

  • Apa itu? biarkan anak bermain sendiri. Iya, awasi saja dari sudut ruangan yang sudah disiapkan dengan aman dan nyaman, letakkan beberapa mainan, atau sendok plastik, atau bantak-bantal, dan biarkan ia melakukan observasi sendiri. Tak usah ikut campur, dan hanya bereaksi jika dialah yang mengajak. Dengan ini, anak akan merasa nyaman dan pesan yang ditangkapnya adalah ia bisa menjadi diri sendiri, tak perlu melakukan apa pun, tapi kita tetap ada di sana menemani dia.

  • 3. Bahasa: dimulai dari 8-12 bulan, bayi sudah mulai memahami kata. Maka, sering-sering ajak ia bicara.

  • Terkait pekembangan kognitif, ada beberapa strategi meningkatkan kemampuan komunikasi bayi dan balita. Yakni:

  • A. Memberikan respons pada coo-ing dan babbles dengan kata-kata.

  • B. Munculkan join attention: berkomentar pada apa yang sedang anak lihat

  • C. Mainkan social game seperti cilukba

  • D. Bermain pura-pura

  • E. Sering libatkan berdiskusi

  • Advertisement
  • F. Bacakan buku, dan bahas gambar-gambar dalam buku

  • Perkembangan sosial dan emosi

    1. Temperamen: setiap bayi berbeda. Mereka memiliki temperamen bawaan lahir, yang tak bisa diubah. Ada perbedaan kualitas dan intensitas anak akan reaksi emosinya. Termasuk di dalamnya level aktivitas dan kemampuannya menenangkan diri. Namun hal ini pasti bisa diatasi. Kuncinya adalah mengenali anak Anda sebaik mungkin. Apakah anak Anda termasuk anak yang mudah beradaptasi, mudah senang dan mudah mengikuti rutinitas? Atau dia adalah anak yang sulit melakukan hal-hal tersebut? Atau dia termasuk ke grup "datar", artinya, tidak aktif, mood negatif pada lingkungan baru dan reaksinya datar terhadap stimulus?

    2. Attachment: nah, attachment, atau ikatan kuat tehadap figur spesial dalam hidupnya ini adalah poin paling penting. Sebab, ini hanya terbentuk di dua tahun pertama dalam hidup seseorang. Setelah itu, sulit. Memiliki attachment, membuat anak merasa senang berinteraksi dengan figur tersebut, juga membantu agar anak memiliki kemampuan menenangkan diri dalam situasi stres.

  • Attachment terbentuk saat figur yang ada di sampingnya dapat mengerti kebutuhan si bayi. Misal, bayi menangis. Lalu kita langsung menghampirinya dan menenangkan dia dengan mengajak bicara "Adek nangis, popok basah ya?" sambil memeriksa popok. Atau "Mau nyusu ya?" jika ia kelaparan. Tidak perlu dengan suara dimanja-manja, biasa saja, ramah seperti suara ketika kita kedatangan tamu. Jika kebutuhannya saat itu terpenuhi, maka kepercayaannya pada kita pun terus meningkat. Inilah yang disebut ikatan kuat.

  • Hal penting lainnya yang perlu diingat terkait attachment adalah, tidak terburu-buru. Hampiri dirinya dengan tenang, dan senyum. Ajak bicara, biarkan ia tahu apa yang hendak kita lakukan padanya. Ini akan membantu dia mengatasi emosi dengan ketenangan.

  • Tidak mudah kan? Ya memang. Tapi jenis attachment yang terbentuk di dua tahun pertama hidupnya inilah yang akan menentukan seluruh kehidupannya, di masa mendatang. Jadi, mari lebih berhati-hati dan banyak belajar mengenai bayi. Jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Seluk beluk anak usia 0-2 tahun yang patut Anda ketahui

Seringkali orangtua meremehkan stimulasi pada anak usia 0-2 tahun, sebab anak pada usia tersebut dianggap belum terlalu banyak tuntutan. Memang sih, namun ternyata, ikatan kuat hanya terbentuk di 2 tahun pertama hidup seseorang. dan tak bisa tergantikan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr