Memarahi anak, pikir-pikir dulu deh

Menjadi orangtua tidak pernah jadi tugas mudah. Ada begitu banyak kejadian, baik besar maupun kecil, yang mampu membuat "sumbu" kita jadi lebih pendek. Mudah marah pada anak adalah salah satu contohnya.

766 views   |   15 shares
  • Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Kita, orang dewasa pun sering sekali berbuat salah. Apalagi anak-anak yang masih belajar, bukan? Namun sebagai orangtua, kadang kita sering terjebak dalam rasa lelah dan penat yang menguasai diri. Sehingga, saat anak berbuat salah, maka reaksi pertama yang dilakukan adalah memarahinya.

  • Devi Sani, M.Psi, Psikolog, seorang psikolog anak di klinik Rainbow Castle pernah menjelaskan satu hal penting sebelum memarahi anak. Ia mengatakan bahwa setiap anak punya tabungan relationship. Tabungan ini isinya cinta, kasih sayang, kepercayaan dirinya, keberhargaan dirinya, rasa percayayanya terhadap Anda, keyakinannya bahwa Andalah tempat teraman baginya di dunia yang keras ini.

  • Tabungan inilah yang ia bawa terus hingga besar nanti, yang akan membuatnya selalu menuruti perintah Anda, meski Anda tak berada di sisinya. Hal yang membuatnya bisa menghindari hal-hal negatif di lingkungannya, bukan karena disuruh, namun karena ia tak ingin mengecewakan Anda, figur yang dicintainya. Tabungan ini indah dan penting sekali.

  • Lalu bagaimana cara menambah saldo dalam tabungan ini? Satu-satunya cara adalah dengan menghadirkan suasana interaksi yang mengatasnamakan cinta dan kasih sayang di setiap saat bersama anak. Tidak dengan memenuhi setiap keinginannya, tapi dengan hadir dan membangun koneksi dengannya. Dengan cara ini, perlahan tabungan anak menjadi banyak dan ia semakin siap untuk menghadapi dunia kedewasaan dengan penuh moral.

  • Nah, ia menambahkan, adakah yang dapat menyebabkan saldo tabungan ini berkurang? Ada. Yakni setiap momen interaksi yang negatif dengan anak kita. Teriakan, ancaman, pukulan, jeweran, setiap kali kita lebih memilih cara keji ketimbang cinta dan kasih sayang sebagai cara agar dapat memberinya pelajaran. Sikap itu akan mengurangi saldo tabungan si buah hati.

  • Oleh karena itu, pilihlah dengan seksama saat-saat yang penting untuk marah. Perlukah semua hal kita ributkan dengan anak-anak? Misalnya mainan yang belum dibereskan, baju seragam tergeletak berantakan, makan tidak habis. Karena setiap momen yang dipilih untuk "diributkan" dengannya akan mengurangi saldo tabungan relationship-nya dengan Anda dalam jangka panjang.

  • Inilah sebabnya, memilih momen yang benar-benar penting untuk diributkan amat besar perannya. Sebab harga yang harus Anda bayar, cukup besar mengurangi saldo tabungan relationship Anda.

  • Lagipula sebetulnya, kemarahan seperti itu tak efektif juga untuk mengubah perilaku anak agar sesuai dengan yang Anda inginkan. Ada satu cara efektif yang dibagi oleh Devi, yakni biarkan anak belajar dari konsekuensi naturalnya. Wah, mahluk apalagi ini? Oke, yang dimaksud dengan konsekuensi natural adalah konsekuensi yang sedang dan akan terjadi, tanpa perlu direkayasa orangtua.

  • Advertisement
  • Misalnya, jika mainan dilempar saat anak sedang marah, ya konsekuensi naturalnya mainan itu rusak. Jika boneka yang ia mainkan diletakkan sembarangan saat ia pergi ke taman, ya mainan itu hilang atau rusak. Jika ini terjadi, kadang orangtua buru-buru marah dan membuat anak ketakutan, atau ada juga yang terlalu mudah memberi 'plester' pada 'luka hati' anak. Misal menyalahkan batu, saat anak tersandung ketika sedang berlari-lari. Maksudnya tentu baik, namun sayangnya hal ini dapat membuat anak belajar menyalahkan pihak lain atas sesuatu yang menjadi kesalahannya.

  • Lalu apa yang terjadi saat anak mendapat konsekuensi natural? Biarkan dan jelaskan. Biarkan anak merasakan hal yang menjadi konsekuensinya, belajar arti konsekuensi, dan tanggung jawab yang sesungguhnya. Setelah itu jelaskan. Hal ini mengingat anak, terutama balita, kognitifnya masih berkembang sehingga perlu dibantu untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Untuk itu orangtua bisa menjelaskan apa yang terjadi dan konsekuensinya. Misalnya 'boneka yang tadi kamu bawa tertinggal di bangku taman waktu kita sedang jalan-jalan. Jadi sekarang kamu tak bisa main sama boneka itu lagi karena sudah hilang'. Sudah cukup sampai di situ.

  • Jika anak merasa sedih, marah, kesal, karena kejadian itu, tentu adalah hal yang wajar. Orangtua bisa bantu anak mengenali emosinya tersebut. Namun cukup sampai di situ. Dengan mengerem diri sampai di situ, orangtua memberi pelajaran yang berharga. Tak usah merekayasa skenario untuk membuat emosi negatif anak reda. Anak perlu belajar konsekuensi sejak dini. Bekal yang penting untuk perkembangan sosial-emosional anak di masa datang.

  • Jadi, jika mainannya berantakan tak dirapikan, lalu ia kesakitan karena menginjak atau tersandung mainan tersebut, tak perlu buang energi dengan marah-marah ya. Biarkan ia merasakan akibat dari keengganannya merapikan mainan setelah usai dimainkan.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Memarahi anak, pikir-pikir dulu deh

Menjadi orangtua tidak pernah jadi tugas mudah. Ada begitu banyak kejadian, baik besar maupun kecil, yang mampu membuat "sumbu" kita jadi lebih pendek. Mudah marah pada anak adalah salah satu contohnya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr