Bersiap Menghadapi Bencana

Belakangan ini banyak bencana yang makin tahun makin ganas dan makin dekat dengan kita. Oleh karena itu artikel ini sangat baik agar kita mulai membuat perbekalan dan kesiapsiagaan untuk keadaan darurat tersebut.

1,585 views   |   shares
  • Saya memiliki ingatan masa kanak-kanak yang jelas tetang saat orang tua saya rapat untuk membahas kesiapan darurat. Hampir segera sesaat ketika pembahasan dimulai harus diakhiri karena saya menjadi histeris oleh potensi bencana yang dibicarakan mereka.

  • Saya tidak dapat berkata bahwa keadaannya telah berubah banyak. Saya akui bahwa saya menangis ketika saya menandatangani asuransi jiwa, atau mematikan berita yang melaporkan tetang gempa, dan saya merasa cemas kapan saja ada rapat membahas rencana darurat.

  • Percaya atau tidak, ada beberapa pelajaran yang berharga yang saya pelajari ketika saya telah melakukan yang terbaik dalam mempersiapkan diri dan keluarga untuk keadaan darurat yang mungkin akan terjadi.

  • Kesiapan secara umum

  • Enam bulan memasuki pernikahan saya, saya telah bekerja dalam puncak musim pengalengan. Dengan mengikuti contoh ibu dan nenek saya, saya berhenti di depan meja buah-buahan. Tak lama kemudian saya telah mengisi rak lemari gudang kecil perbekalan dengan berderet-deret buah-buahan dan sayuran dalam botol. Meskipun hanya ada beberapa bahan yang sekarang saya kalengkan sendiri, sebab di musim dingin pertama saya dulu saya telah mengisi rak gudang kecil dalam usaha saya menyimpan makanan ekstra.

  • Dengan lima mulut anak yang harus diberi makan, selalu saja tidak ada uang ekstra dalam anggaran belanja kebutuhan sehari-hari untuk membeli yang lain. Tetapi dengan perencanaan yang hati-hati, belanja pada waktu ada dan pilihan bijaksana, perbekalan makanan kami makin bertambah.

  • Hampir dua tahun lalu, kami telah menikmati manfaat persiapan umum itu. Untuk beberapa bulan, kami bergantung pada apa yang ada dalam gudang kecil dan lemari es kami. Karena kehilangan pekerjaan untuk sementara waktu, dan dengan tidak ada penghasilan, pergi belanja ke toko menjadi jarang. Namun demikian, kami tidak pernah kelaparan. Kami tidak pernah kehabisan makanan.

  • Pelajaran yang dapat diambil? Selalu bersiap siaga. Jangan hanya merencanakan kesiapsiagaan untuk suatu peristiwa tertentu. Saya menyadari semua tenaga yang saya hamburkan (dan stres!) memikirkan apa yang disimpan untuk jenis malapetaka tertentu adalah sia-sia. Ketika kita sangat membutuhkan stok makanan, tidak ada pilihan lagi selain memanaskan atau mempersiapkan makanan. Kami telah kehilangan kemampuan membeli makanan untuk sementara waktu. Betapa beruntungnya memiliki simpanan makanan.

  • Sebuah hati yang damai

  • Di bulan Januari 2010, gempa terjadi di Haiti. Meskipun jaraknya beribu-ribu kilometer dari saya, saya merasa cemas untuk beberapa hari bila saya memikirkan kurangnya persiapan saya seandainya kejadian yang sama terjadi lebih dekat. Saya menggunakan berhari-hari dengan sia-sia membenarkan kekurangan 72 jam persiapan perbekalan seandainya perbekalan di rumah dihancurkan oleh bencana tersebut. Daripada mengambil tindakan, saya berhenti menonton berita.

  • Advertisement
  • Sebulan kemudian, sebuah gempa besar menghantam Chile. Keesokan harinya, saya keluarkan perangkat perbekalan 72 jam untuk dua orang yang pernah saya terima beberapa tahun sebelumnya, dan membuat sebuah daftar tentang apa yang saya butuhkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya. Saya menggunakan 2 hari membeli dan mengorganisasi bahan-bahan esensi untuk 7 orang bertahan hidup seandainya keadaan darurat itu muncul. Malam itu, saya menonton berita kehancuran di Chille, dan saya merasa ada damai dalam hati saya.

  • Seandainya saja saya dapat mengatakan telah memasukkan semua bahan yang mungkin dibutuhkan dalam suatu keadaan darurat, tetapi saya tidak dapat. Bahkan ketika saya menulis artikel ini, saya tahu masih tidak ada seperangkat pakaian ekstra untuk siapa pun yang saya masukan di dalamnya, dan saya yakin makanannya telah kedaluwarsa. (Saya mencatatnya dalam pikiran saya daftar untuk dikerjakan).

  • Seandainya saja saya dapat mengatakan saya tidak perlu cemas tentang topik kesiapsiagaan, tetapi saya tidak dapat. Saya mengakui saya masih berdebar-debar ketika baru-baru ini membaca artikel tentang persiapan keluarga untuk keadaan darurat. Saya menggunakan sisa waktu saya merasa cemas ketika memikirkan tentang hal-hal yang belum saya siapkan.

  • Tetapi ada banyak hal yang telah saya simpan untuk siap digunakan bila kebutuhannya tiba, dan ketika saya memikirkan semuanya itu, saya merasa damai di hati.

  • Saya mungkin tidak memiliki ruang bawah tanah yang penuh dengan gandum, atau setahun perbekalan beras, tetapi saya telah mengenali dan memahami bahwa menyisihkan paling sedikit beberapa pemikiran dan usaha untuk keadaan darurat telah memberi saya hati yang damai.

  • Seharusnya itu masuk ke dalam hitungan.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Effian Kadarusman dari artikel asli “Being prepared for disaster” karya Tiffany Sowby.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Tiffany and her husband Mike are the parents of five children; 5-15. Tiffany loves the laundry five children generate, but could do without the sticky floors and dirty dishes. Tiffany blogs at www.ourmostofthetimehappyfamily.blogspot.com

Bersiap Menghadapi Bencana

Belakangan ini banyak bencana yang makin tahun makin ganas dan makin dekat dengan kita. Oleh karena itu artikel ini sangat baik agar kita mulai membuat perbekalan dan kesiapsiagaan untuk keadaan darurat tersebut.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr