Ayo kita coret-coret

Coret-coretan yang tak beraturan, dan kadang tak berbentuk namun menyenangkan saat dibuat, ternyata bermakna dalam. Ya, jadi, dalam gambar tersebut, ada isi hati kita. Namun ternyata bukan itu saja kegunaannya, apa lagi ya kira-kira?

779 views   |   6 shares
  • Ingatkah saat-saat masih sekolah dulu, dan Anda merasa bosan saat berada dalam kelas, kemudian mencoret-coret buku tulis Anda? Kadang coretan itu tak bermakna, karena hanya bentuk lingkaran bertumpuk, atau garis-garis lurus yang tak beraturan. Maka, seringkali kita dimarahi oleh orang tua karena dianggap mengotori buku saja.

  • Ternyata coret-coretan itu, yang dikenal dengan istilah doodle, punya makna. Ya, biasanya, coretan Anda, akan menyerupai isi hati Anda. Jika Anda sedang sensitif, maka coret-coretan itu akan banyak berbentuk lingkaran, tanpa sudut, dan tebal di sana sini. Jika Anda berpikir logis, biasanya doodles Anda akan berbentuk penuh siku, dan garis lurus.

  • Begitulah yang diungkapkan oleh Laksmira Ratna Bayuardi, Dip.Child Psy.,MHA. seorang psikolog anak yang juga mendalami graphology dan doodlogy. Ia mengatakan bahwa, doodles adalah salah satu art therapy untuk melatih kemampuan berpikir juga bertindak, seseorang. Melatih kemampuan imajinasi, serta membantu seseorang untuk melihat suatu masalah dari sisi yang berbeda. Dengan mengembangkan suatu gambar, sesorang juga dilatih untuk menyelsaikan masalahnya dengan cara yang lebih terstruktur. Luar biasa ya?

  • Jadi, doodles secara tidak langsung juga dapat mengungkapkan suasana hati maupun pikiran orang tersebut, yang sedang menggambar. Hal ini berlaku bagi orang dewasa, dan juga anak-anak. pada gambar-gambar atau bentuk-bentuk tertentu bahkan dapat menyenangkan dan menenangkan. Doodles juga efektif sebagai alat komunikasi di samping kata-kata dan bahasa, inilah sebabnya doodles bersifat mengobati atau menyembuhkan. Karena berbagai hal termasuk permintaan tolong akan dapat terungkap, meski sang penggambar tak menyadarinya.

  • Menurut Laksmira, yang dimaksud dengan melatih menyelesaikan masalah adalah karena, menambahkan suatu bagian atau mengubah sedikit saja garis pada doodlesnya secara berkesinambungan, bahkan dapat mengubah sikap orang tersebut. Jadi, misalnya, Anda belakangan ini kerap sensitif, doodles Anda biasanya otomatis akan memperlihatkan hal itu.

  • Mengubah bentuk lingkaran dan garis-garis tebal serta gambar yang terlalu besar, menjadi garis kaku, tipis dan mengecilkan gambar, akan mengubah sikap Anda, lho. Inilah yang dinamakan terapi doodle. Contoh lainnya adalah; jika biasanya Anda atau anak Anda menggambar orang, perhatikan baik-baik, apakah seluruh bagian tubuh yang detail seperti jari tangan, bola mata, digambar juga atau tidak?

  • Jika yang digambar adalah; tangan yang dimasukkan ke dalam saku, atau mata yang bulat kosong, tandanya si penggambar belum punya percaya diri yang cukup. Begitu juga jika orang yang menggambar di bagian tertentu saja dalam kertas, dan tidak memenuhi kertas tersebut. Ia adalah orang yang cenderung introvert, dan lebih senang jika menikmati kesendiriannya.

  • Advertisement
  • Dalam menggambar, biasanya juga kita akan memilih untuk menggunakan banyak warna atau cukup satu warna saja. Nah, jika memilih untuk menggunakan banya warna, menandakan semangatnya yang besar untuk mengeksplorasi banyak hal baru. Apalagi jika gambarnya cukup besar, ini menunjukkan rasa percaya diri dan keberaniannya untuk mengekspresikan diri pada lingkungan luar sudah terbangun.

  • Ya, poin-poin di atas memang bisa dijadikan acuan pendamping, namun bukan hal yang mutlak karena kita, apalagi anak-anak, mampu berubah sesuai perkembangannya. Terapi gambar atau doodles, menurut Laksmita, dapat dipergunakan untuk membantu seorang anak, atau bahkan kita sendiri, berkembang lebih seimbang pada sisi yang dibutuhkan.

  • Ajaib sekali ya, bahkan sampai ke coret-coretan yang terlihat tidak bagus itu, memiliki makna mendalam dari diri kita sendiri. Mungkin ini juga yang dimaksud dr. Tan Shot Yen dalam bukunya yang mengatakan agar kita kembali ke cara-cara tradisional. Tetaplah menggunakan keterampilan tubuh, jangan menggantikannya dengan teknologi. Tetaplah menulis dan menggambar dengan tangan, bukan mempermudahnya dengan komputer lalu beralasan agar hasil lebih rapi.

  • Hal ini akan membuat kita melatih keterampilan motorik halus, dan mengembalikan kesehatan kita, karena tidak jadi bergantung pada teknologi. Bahkan bayi-bayi pun dilatih untuk bisa mengambil benda kecil, meronce dan menggunakan penjepit, demi keterampilan motorik halus, bukan? Lalu mengapa saat dewasa, kita melupakan hal itu, kemudian tenggelam dalam kemudahan keyboard dan layar sentuh?

  • Jadi, jika kini sedang merasa gundah, mencoret-coretlah. Doodling bisa kok dilakukan tetap sambil menjaga lingkungan dan membatasi penggunaan kertas. Caranya gunakanlah kertas bekas, atau daur ulang kertas. Satu lagi, bagi para orangtua, jika menemukan anak-anak Anda mencoret-coret di buku, jangan terburu-buru mengomeli. Perhatikan dulu doodles mereka. Jangan-jangan ada hal yang tak bisa diungkapkan.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ayo kita coret-coret

Coret-coretan yang tak beraturan, dan kadang tak berbentuk namun menyenangkan saat dibuat, ternyata bermakna dalam. Ya, jadi, dalam gambar tersebut, ada isi hati kita. Namun ternyata bukan itu saja kegunaannya, apa lagi ya kira-kira?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr