Kehidupan pernikahan bagai dongeng. Menurut Anda?

Banyak orangtua yang menutup-nutupi berbagai hal yang terjadi dalam pernikahannya. Karena itu kita jadi terbuai dan menganggap menjalani kehidupan menikah sepenuhnya bahagia. Benarkah? Sebab sebetulnya pernikahan bukan dongeng

675 views   |   7 shares
  • Anda sudah menikah? Atau baru mau menikah? Sudahkah Anda mempertimbangkan bahwa kehidupan pernikahan tak semuanya indah? Ingatlah, pernikahan sesungguhnya bukan sekadar alat mencapai kebahagiaan. Pada kenyataannya, bahkan pernikahan jauh dari itu.

  • Dan sayangnya, menyadari kenyataan bahwa pernikahan tidak selalu seindah impian sangatlah penting, agar pada waktu kenyataan itu dihadapi sendiri, kita tidak lagi terlau kaget dan tidak mengira bahwa kitalah satu-satunya orang yang bernasib malang. Berikut ini adalah beberapa kenyataan utama dalam hidup pernikahan, versi laman pranikah.org.

  • Manusia berubah dari waktu ke waktu

  • Dulu saya senang ditemani dan merasa kesepian bila ditinggal pergi. Sekarang saya tiba-tiba bisa merasa terganggu oleh kehadiran pasangan saya. "Saya ingin istirahat, jangan ganggu saya," dan sebagainya.

  • Saya berubah dan dia pun berubah. Dulunya dia begitu sabar, sekarang karena sering dimarahin bosnya di kantor, dia jadi mudah tersinggung. Dia sering membentak saya dan seringkali berlaku kasar kepada saya. Hanya dengan menyadari bahwa masing-masing dari kita dapat (dan satu waktu akan) berubah, kita dapat bersikap lebih realistis dalam menghadapi berbagai kekecewaan dalam pernikahan.

  • Dalam pernikahan pasti ada konflik

  • Siapa pun harus menyadari bahwa tidak mungkin ada dua orang yang bisa selalu seia sekata sepanjang segala abad. Satu waktu pasti ada konflik. Konflik ini bisa merupakan perbedaan pendapat, perbedaan nilai, maupun perbedaan kepentingan. Tapi, walaupun konflik adalah sebuah kenyataan, kita tidak perlu terlalu khawatir, sebab adalah juga kenyataan bahwa banyak sekali konflik yang dapat dipecahkan dengan baik.

  • Tidak seorang pun bisa memuaskan semua kebutuhan pasangannya

  • Inilah kenyataan yang seringkali menyakitkan. Saya bukanlah segala-galanya bagi dia. Ternyata dia membagi cinta dengan orang lain. Ini memang kenyataan yang pahit, tapi biarpun pahit ini tetap kenyataan. Dan kenyataan harusnya dihadapi, bukan dihindari atau ditutup-tutupi. Jangan terlalu kecil hati kalau Anda bukan sega-galanya bagi dia. Karena orang lain pun bukan segala-galanya bagi dia. Dan barangkali, kalau dihitung-hitung, Anda tetap lebih unggul dibandingkan orang lain.

  • Nah, karena itu, setiap orang harus mampu memiliki kemampuan psikologis yang baik. Apa sajakah itu?

  • Kemampuan berkomunikasi

  • Kemampuan berkomunikasi adalah kemampuan yang sangat utama untuk bisa hidup berdampingan secara damai dengan orang lain, juga dengan orang yang dicintai. Di dalam kemampuan berkomunikasi, tercakup kemampuan-kemampuan untuk menjelaskan harapan dan keinginan pribadi, dan kemampuan untuk menangkap harapan dan keinginan yang dimiliki pasangan. Banyak sekali masalah yang bisa diselesaikan bila dua pihak yang besengketa sama-sama memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi.

  • Advertisement
  • Kemampuan bernegosiasi

  • Sekedar terampil mengutarakan isi hati dan peka terhadap perasaan orang lain masih belum cukup, bila tidak disertai dengan kesanggupan untuk melakukan tawar-menawar pada saat ada perbedaan kepentingan. Kemampuan negosiasi sendiri sesungguhnya adalah sebuah faktor yang perlu didukung oleh kematangan pribadi, kesanggupan membedakan yang mungkin dari yang mustahil, dan kesedian untuk juga memberi setelah banyak mendapat. Kesanggupan bernegosiasi juga meliputi kemampuan untuk mendewasakan mitra hidup, mengajarkan pada dia bahwa kalau dia mau memberi, maka dia akan mendapat. Sebaliknya kalau dia hanya menuntut kepentingannya, dia akan memperoleh lebih banyak kerugian.

  • Kemampuan menyelaraskan A-K-U

  • "AKU" adalah kesatuan antara Ambisi (hal-hal yang diinginkan), Kemampuan (hal-hal yang dimiliki), dan Usaha (tindakan nyata untuk mencapai keinginan). Keselarasan antara ketiganya adalah hal yang mutlak dibutuhkan agar seseorang terbebas dari perbagai penderitaan. Hal yang paling penting dalam menyelaraskan A-K-U adalah kesadaran bahwa keinginan merupakan sesuatu yang secara sengaja dibangkitkan, dan karenanya dapat pula ditiadakan.

  • Pernikahan bukan sebuah keharusan

  • Pernikahan hanyalah satu di antara berbagai kemungkinan untuk menemukan kebahagiaan. Karena itu, pernikahan bukan sebuah keharusan. Saya kira ini adalah kata akhir yang perlu benar-benar dihayati. Janganlah sebuah pernikahan dipaksakan hanya sekedar karena "sudah cukup umur" atau demi status semata-mata. Jika memang seorang tidak siap untuk menikah, akan lebih bijaksana untuk membiarkan dia hidup "sendiri." Saya kira, kita perlu memasyarakatkan pandangan bahwa tidak menikah bukanlah sebuah aib.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Kehidupan pernikahan bagai dongeng. Menurut Anda?

Banyak orangtua yang menutup-nutupi berbagai hal yang terjadi dalam pernikahannya. Karena itu kita jadi terbuai dan menganggap menjalani kehidupan menikah sepenuhnya bahagia. Benarkah? Sebab sebetulnya pernikahan bukan dongeng
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr