Menikah, perlu matang secara psikologis

Menikah itu tidak sulit, namun juga tak mudah. Karena itu, kita yang siap menikah, harus siap lahir batin juga matang secara psikologis. Lalu sebenarnya apa sih yang disebut matang secara psikologis? Lalu mengapa harus matang?

6,297 views   |   103 shares
  • Menikah bukanlah sebuah pekerjaan yang terlalu berat. Buktinya, banyak sekali orang yang berhasil menikah. Tetapi, menikah juga bukan persoalan yang terlau mudah. Tidak sedikit orang yang menyesali pernikahannya dan bahkan cukup banyak yang kemudian mengambil putusan untuk membatalkan pernikahannya. Kalau membatalkan sebuah pernikahan dapat disamakan dengan sekedar membatalkan pesanan karcis untuk sebuah pertunjukan, mungkin kita tidak perlu terlalu mempersoalkannya. Tetapi, karena perceraian biasanya dipandang sebagai hal yang sedapat mungkin perlu dihindari, barangkali ada baiknya untuk mengkaji apakah para calon yang akan menikah telah memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk memulai sebuah kehidupan bersama.

  • Seperti yang ditulis R Matindas di laman pranikah.org, adalah kenyataan bahwa pernikahan diatur oleh undang-undang. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh mereka yang ingin menikah. Bila syarat itu tidak terpenuhi, mereka tidak diizinkan menikah. Ini menunjukkan bahwa negara memandang pernikahan sebagai sesuatu yang memerlukan pertimbangan yang matang. Hanya sayangnya, persyaratan-persayaratan yang harus dipenuhi umumnya kurang memperhitungkan segi-segi psikologis dari para calon. Padahal, kematangan psikologislah yang seharusnya merupakan persyaratan yang paling dipertimbangkan.

  • Berikut ini adalah sejumlah ciri yang umumnya dimiliki oleh orang-orang yang secara psikologis telah matang untuk memasuki gerbang pernikahan:

  • Mengenali kebutuhan pribadi

  • Setiap orang punya sejumlah kebutuhan psikologis yang hanya dapat dipuaskan melalui interaksinya dengan orang lain. Di antaranya adalah kebutuhan untuk mengabdi, kebutuhan untuk disayangi, dan kebutuhan untuk mengatur orang lain. Makin kenal seseorang pada kebutuhannya, makin mampu ia menemukan cara-cara yang efektif untuk memuaskan kebutuhan itu. Dan makin kenal seseorang pada kebutuhannya yang hanya dapat dipuaskan melalui interaksi dengan orang lain, makin mampu pula ia menilai sejauh mana orang tertentu dapat dipandang cocok untuk teman hidupnya.

  • Di lain pihak, orang yang tidak mengenali kebutuhannya akan tetap terganggu oleh adanya kebutuhan itu. Sebagai akibatnya, alam bawah sadarnya akan mendorong dia untuk melakukan berbagai tindakkan untuk meredakan ketidakseimbangan yang ditimbulkan oleh kebutuhannya. Tidak tertutup kemungkinan bahwa tingkah laku yang didorong oleh ketidaksadaran ini akan terasa sebagai "gangguan bagi orang lain", khususnya bagi pasangan hidupnya. Itu sebabnya mengapa pengenalan terhadap kebutuhan pribadi adalah salah satu syarat penting bagi sebuah pernikahan.

  • Advertisement
  • Mengenali kebutuhan pasangan

  • Mengenali kebutuhan pasangan sama pentingnya dengan mengenali kebutuhan pribadi. Dengan mengenali kebutuhan calon pasangan, seseorang dapat menilai apakah ia cocok untuk mendampingi calonnya itu. Jika ia menilai bahwa ia tidak akan mampu memuaskan kebutuhan calonnya, akan lebih baik kalau dia memutuskan untuk sekedar tetap mencintai orang itu, dan tidak perlu menikah dengan orang itu. Bila pasangannya ini kemudian ternyata tidak dapat ia puaskan, maka cepat atau lambat ketidakpuasan si pasangan ini akan menular pada dirinya sendiri. Orang yang terus-menerus merasa kecewa, akan menampilkan berbagai tingkah laku yang pada akhirnya justru mengecewakan orang lain.

  • Menyadari makna cinta

  • Cinta memang sebuah misteri yang sulit dijelaskan. Tapi toh tetap ada beberapa hal yang pasti mengenai cinta. Satu di antaranya adalah kenyataan bahwa cinta bukan sesuatu yang abadi. Saya selalu mengatakan bahwa cinta abadi hanya ada dalam dongeng-dongeng Anderson. Cinta hanyalah semacam energi yang lahir karena adanya kebutuhan tertentu. Bila kebutuhan ini terasa banyak dipuaskan oleh orang tertentu, kita dikatakan jatuh cinta padanya. Bila kemudian dia tidak lagi mampu memuaskan kebutuhan kita, cinta kita pun perlahan jadi pudar. Orang yang matang untuk sebuah pernikahan, menyadari bahwa cinta tidak bisa dijadikan satu-satunya penyangga pernikahan. Bila pernikahan juga ditopang oleh hal-hal lain di luar cinta, maka melemahnya cinta tidak akan merusak keseluruhan pernikahan itu. Karena itu, mereka yang menyadari hakikat cinta, tahu betul bahwa tidak semua orang yang dicintai harus dijadikan istri atau suami.

  • Kehidupan pernikahan adalah sebuah tantangan

  • Dalam kehidupan pernikahan, ada berbagai kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi semua kesempatan itu, bukanlah sesuatu yang secara pasti akan diperoleh. Banyak hambatan yang harus diatasi sebelum kebahagiaan itu dapat dirasakan. Salah satunya adalah kesanggupan mengatasi berbagai konflik dengan pasangan hidup. Karena itu, untuk bisa merasakan kebahagian, cinta saja jelas tidak cukup. Setiap orang yang menikah perlu membekali diri dengan sejumlah keterampilan psikologis yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menikah, perlu matang secara psikologis

Menikah itu tidak sulit, namun juga tak mudah. Karena itu, kita yang siap menikah, harus siap lahir batin juga matang secara psikologis. Lalu sebenarnya apa sih yang disebut matang secara psikologis? Lalu mengapa harus matang?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr