Mempersiapkan Diri untuk Menghadapi Bencana

Seorang ibu membagikan tentang bagaimana upaya kecil untuk kesiapsiagaan dalam keadaan darurat dapat memberikan ketenangan pikiran.

1,301 views   |   2 shares
  • Saya memiliki kenangan yang jelas di masa kanak-kanak ketika orang tua saya mengadakan pertemuan keluarga untuk membahas tentang kesiapsiagaan dalam keadaan darurat. Hampir setiap kali pembahasan dimulai, akhirnya saya menjadi histeris sewaktu potensi keadaan darurat disebutkan.

  • Saya tidak dapat menyebutkan hal-hal yang telah banyak berubah. Saya mengakui bahwa saya menangis saat saya menandatangani formulir asuransi jiwa, atau mematikan siaran berita saat ada laporan mengenai gempa bumi, dan saya merasa sedikit cemas ketika sebuah pertemuan membahas tentang rencana dalam menghadapi keadaan darurat.

  • Percaya atau tidak, ada dua pelajaran berharga yang telah saya pelajari sewaktu saya telah melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan diri saya dan keluarga saya untuk suatu keadaan darurat, yang sewaktu-waktu mungkin terjadi.

  • Persiapan secara umum

  • Enam bulan masa pernikahan, saya berada dalam puncak musim pengalengan. Mengikuti teladan ibu dan nenek saya, saya mendapati diri saya berhenti di deretan buah-buahan. Tidak lama, rak-rak di dapur saya dipenuhi dengan berbagai buah dan sayuran kaleng. Meskipun hanya ada dua macam barang, sekarang saya mengalengkannya sendiri, saya mengenang kembali musim dingin pertama tersebut serta rak-rak di dapur saya sebagai permulaan bagi saya untuk menyimpan cadangan bahan makanan.

  • Dengan lima orang anak kecil yang harus diberi makan, tidak selalu ada uang lebih dalam anggaran belanja bahan makanan kami untuk membeli banyak cadangan. Namun dengan perencanaan yang cermat, berbelanja barang-barang yang sedang didiskon serta pilihan yang bijaksana, pasokan bahan makanan kami bertambah perlahan-lahan.

  • Hampir dua tahun yang lalu, kami menuai manfaat dari persiapan umum tersebut. Selama beberapa bulan kami bergantung pada barang-barang yang ada di dapur dan kulkas kami. Karena selama beberapa waktu kehilangan pekerjaan, dan tidak ada pendapatan, kami jarang pergi ke toko bahan makanan. Namun kami tidak pernah kelaparan. Kami tidak pernah kehabisan makanan.

  • Apa yang dapat dipelajari? Persiapkan diri. Jangan merencanakan suatu kejadian khusus. Saya menyadari bahwa semua tenaga (dan stres) yang sia-sia. Saya menghabiskan waktu untuk memikirkan barang apa yang mesti disimpan untuk jenis bencana yang seperti apa, tidak ada gunanya. Saat-saat kami paling membutuhkan cadangan makanan tersebut, itu bukan karena terjadi bencana sehingga kami tidak dapat memasak atau menyiapkan makanan, juga bukan kurangnya tempat bernaung atau kehangatan. Untuk sementara kami kehilangan kemampuan untuk makanan. Sungguh merupakan berkat bagi kami karena kami memiliki beberapa bahan makanan yang telah disimpan.

  • Advertisement
  • Ketenangan pikiran

  • Pada bulan Januari 2010, gempa bumi melanda Haiti. Meskipun jaraknya ribuan mil dari saya, saya merasa cemas selama berhari-hari seandainya peristiwa semacam itu terjadi lebih dekat. Selama berhari-hari saya mencari pembenaran atas kurangnya persiapan 72 jam saya dengan alasan bahwa itu tidak berguna sewaktu mereka terperangkap dalam reruntuhan rumah. Daripada berbuat sesuatu, saya berhenti menonton siaran berita.

  • Sebulan kemudian, gempa besar melanda Cile. Keesokan harinya saya mengeluarkan perangkat kesiapsiagaan 72 jam untuk 2 orang yang kami terima beberapa tahun sebelumnya, dan membuat daftar barang-barang yang saya butuhkan untuk menambahnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya. Saya menghabiskan waktu dua hari untuk membeli dan mengatur barang-barang yang paling diperlukan agar 7 orang dapat bertahan hidup jika keadaan darurat melanda. Pada malam itu, saya menonton besarnya kehancuran di Cile, dan saya merasakan ketenangan pikiran.

  • Saya harap saya dapat menyebutkan dan menyertakan dalam perangkat tersebut setiap benda yang mungkin diperlukan dalam suatu keadaan darurat, namun saya tidak melakukannya. Biarpun saya menulis tentang hal ini, saya tahu tidak ada sepasang pakaian tambahan bagi siapa pun yang disertakan di dalamnya, dan saya yakin beberapa bahan makanan tertentu sudah kedaluwarsa.

  • Saya berharap dapat mengatakan bahwa saya tidak merasakan kecemasan tentang masalah kesiapsiagaan, namun saya tidak dapat mengatakannya. Saya mengakui bahwa baru-baru ini jantung saya berdebar-debar saat membaca sebuah artikel tentang mempersiapkan keluarga bagi keadaan darurat. Saya menghabiskan sisa hari itu dengan perasaan yang khawatir sewaktu saya memikirkan barang-barang yang siapkan.

  • Namun ada banyak barang yang simpan, siap digunakan sewaktu-waktu ada keperluan untuk itu, dan sewaktu saya memikirkan semua hal ini, saya merasakan ketenangan pikiran.

  • Saya mungkin tidak punya lantai bawah tanah yang penuh dengan gandum, atau pasokan beras untuk beberapa tahun, namun saya sudah tahu dan memahami bahwa memberikan perhatian dan upaya pada sedikit persiapan memberi saya ketenangan pikiran tertentu.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Indah Wajarsari dari artikel asli “Being prepared for disaster” karya Tiffany Sowby.

Bantu kami menyebarkan

Tiffany and her husband Mike are the parents of five children; 5-15. Tiffany loves the laundry five children generate, but could do without the sticky floors and dirty dishes. Tiffany blogs at www.ourmostofthetimehappyfamily.blogspot.com

Mempersiapkan Diri untuk Menghadapi Bencana

Seorang ibu membagikan tentang bagaimana upaya kecil untuk kesiapsiagaan dalam keadaan darurat dapat memberikan ketenangan pikiran.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr