Yuk, belajar memaafkan

Maaf, adalah kata yang mudah terucap. Namun tak selalu keluar dengan tulus dari dalam hati. Padahal maaf yang tidak ikhlas hanya akan menyebabkan kemarahan terpendam, dan ini jelas tidak sehat. Lalu mengapa kita amat sulit melakukannya?

2,116 views   |   131 shares
  • Kita semua pasti paham bahwa bertahan dalam kemarahan dan dendam adalah racun bagi kesehatan mental dan fisik juga hubungan. Karena itu, mari sama-sama belajar memaafkan. Artinya melepaskan segala kemarahan, kebencian, dan keinginan membalas dendam. Karena, hanya dengan memaafkan, kita bisa merasa lebih berdaya, merdeka, dan tidak berada dalam kontrol orang lain. Tidak perlu menilai orang lain dengan buruk, dan terfokus pada introspeksi kepada diri sendiri saja. Lalu, mengapa ya, kadang kita sulit memaafkan?

  • Sebab setiap manusia pasti memiliki ego yang menyebabkan rasa gengsi, dan menyalahartikan harga diri. Wajar dan dapat dimengerti, namun tahukah Anda bahwa memaafkan dapat membuat Anda menjadi lebih sehat? Mari kita telusuri berbagai penelitian, mengenai hal ini. Siapa tahu dapat menjadi alasan bagi Anda agar mudah memaafkan.

  • Menurut penelitian yang tertulis di The Journal of Behavioural Medicine di The Luther College, mereka yang memaafkan dengan tujuan tertentu—hanya sekadar meminta maaf namun tidak berjanji berhenti mengulang kesalahannya—meninggal dunia lebih cepat, ketimbang mereka yang meminta maaf dengan tulus.

  • Memaafkan dan meminta maaf dengan tulus juga membantu kita keluar dari moda kemarahan. Hal ini amat baik, sebab saat kita marah, tekanan darah dan detak jantung pasti meningkat dengan cepat. Hal ini mengakibatkan stres dan bahkan peningkatan kolesterol. Maka, menurut penelitian Rumah Sakit Johns Hopkins, saat kita memaafkan dan meminta maaf dengan ikhlas, akan membantu menghilangkan kedua hal tersebut.

  • Bahkan menurut penelitian dari Hope College, saat seseorang bertahan dalam rasa dendam, aktivitas psikisnya meningkat tajam, hingga mengakibatkan ketegangan pada otot-otot wajah, detak jantung dan tekanan darah meningkat, juga berkeringat lebih banyak. Di penelitian yang tertulis dalam Journal of Behaviour Medicine, mengatakan, sikap mudah memaafkan terkait erat dengan seluruh cakupan kebutuhan tubuh akan kesehatan; penggunaan obat, tidur berkualitas dan mengurangi kelelahan.

  • Mereka yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, juga dapat membantu mengakui kesalahan dan memaafkan dirinya sendiri. Dengan demikian, akan lebih mudah untuk maju dan memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukannya.

  • Memaafkan bahkan dapat meningkatkan kinerja sistem imun. Wah, luar biasa ya. Jadi, dalam penelitian para ahli yang terhabung dalam perkumpulan Behavioral Medicine menyatakan bahwa orang yang hidup dengan HIV, dan mudah memaafkan saat merasa tersakiti, memiliki persentase sel CD4 lebih tinggi ketimbang yang tidak. CD4 adalah sel yang dibutuhkan untuk meningkatkan imun tubuhnya.

  • Advertisement
  • Manusia memang pasti memiliki banyak luka yang tertanam di dalam dirinya, dari masa lalu maupun yang sedang terjadi. Hal ini membuat kita hidup dengan rasa dendam dan kemarahan. Padahal sebetulnya, sakit hati, melakukan dan menerima kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak, pasti pernah dialami oleh setiap orang. Kita tak akan bisa menghindarinya. Satu-satunya jalan hanya memaafkan.

  • Frank Luskin, penulis buku Forgive for Good, mengatakan; jika kita menjalani hidup dengan rasa dendam maka masa kini dan bahkan masa depan kita akan tenggelam dalam kesalahan di masa lalu. Dan hal ini akan terus menyeret-nyeret kita ke dalam kesedihan, kemarahan, bahkan ketidakmampuan menjalani kehidupan, juga berhubungan dengan orang lain.

  • Jika kita pernah mengalami trauma, dan diperlakukan buruk, lalu tak berusaha untuk pulih, kita akan menjadi orang yang defensif, sulit mempercayai orang lain, bahkan sulit membuka hati. Kita akan terpenjara oleh pengalaman buruk, dan kerap dihantui ketakutan. Kedamaian semakin jauh dari jangkauan.

  • Tapi bagaimana caranya memaafkan? Ada empat elemen yang bisa membantu:

    1. Ekspresikan emosi yang harus keluar: biarkan perasaan sakit hati dan marah itu mengalir keluar perlahan. Katakan dengan jelas yang dirasakan, terutama kepada orang yang bersangkutan. Jika sulit, tuliskan atau minta bantuan orang yang terpercaya.

    2. Mengerti benar letak permasalahan. Tanyakan dengan jelas, hingga Anda merasa telah mengerti dan bisa menemukan solusinya.

    3. Bangun kembali rasa aman. Sebelum memaafkan, Anda harus yakin betul bahwa tindakan tersebut tak terulang kembali.

    4. Relakan. Ini, mungkin, adalah bagian terberat. Dengan merelakan, mengikhlaskan, Anda telah melepas peran sebagai korban dan berjalan seiring sejalan kembali. Ini adalah tindakan terpenting agar dapat melangkah maju.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Yuk, belajar memaafkan

Maaf, adalah kata yang mudah terucap. Namun tak selalu keluar dengan tulus dari dalam hati. Padahal maaf yang tidak ikhlas hanya akan menyebabkan kemarahan terpendam, dan ini jelas tidak sehat. Lalu mengapa kita amat sulit melakukannya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr