Mencegah tantrum pada anak

Mencegah tantrum? Memangnya bisa ya, tantrum dicegah? Bukankah tantrum memang pasti terjadi di beberapa tahapan usia? Memang, namun ternyata ada lho beberapa cara agar tantrum tidak sering terjadi. Apa sajakah itu?

551 views   |   3 shares
  • Selama ini, penjelasan mengenai tantrum kebanyakan berupa cara mengatasinya. Jadi artinya, setelah tantrum terjadi. Lalu sebenarnya ada enggak ya, cara mencegahnya?

  • Sebelum memaparkan lebih lanjut, mari kita kenali dulu, apa sih yang disebut tantrum itu? Temper tantrum atau yang kerap disingkat 'tantrum' sebenarnya merupakan cetusan atau letupan emosi yang tampil dalam bentuk perilaku agresif tak terkendali. Tantrum biasanya muncul saat terjadi situasi yang secara emosi mengecewakan, misalnya saat anak gagal mendapat apa yang ia inginkan atau saat permintaan anak ditolak oleh orangtua.

  • Letupan emosi saat berhadapan dengan situasi yang tak sesuai harapan ini dapat ditampilkan secara agresif terhadap orang lain (memaki, memukul, menendang, mengigit, menjerit, dsb.) ataupun kepada diri sendiri (menyakiti diri sendiri). Selain itu, kekecewaan anak juga dapat ditampilkan secara pasif (menarik diri, ngambek, dll.). Biasanya memang terjadi pada anak 0-3 tahun. Namun tidak menutup kemungkinan terjadi juga pada anak di atas usia 3 tahun lho.

  • Nah, menurut Devi Sani M.Psi, Psikolog anak di klinik Rainbow Castle, Mencegah terjadinya tantrum secara jangka panjang, jauh lebih baik dibandingkan mencari cara mengatasi tantrum saat sedang terjadi. Mengapa? Saat anak sedang tantrum, kata-kata apa pun tak akan didengarnya. Malah bisa jadi membuatnya semakin marah. Apalagi jika kita mengeluarkan kata yang terlalu panjang bahkan melarangnya menangis saat tantrum sedang terjadi.

  • Hal tersebut tak bermanfaat dan membuat anak merasa orangtua tidak berempati pada perasaan anak. Akan lebih baik jika kita melakukan langkah preventif untuk mencegah tantrum muncul lebih sering. Tentunya, hal ini akan "menambah pekerjaan" sedikit. Tetapi, mengapa tidak kan? Apalagi jika mengingat dari kebiasaan preventif ini kita bisa menciptakan hubungan yang lebih dekat, anak-anak yang lebih kooperatif dan tentu, rumah yang lebih damai minim teriakan.

  • Cara paling utama yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan waktu spesial. Iya, ini dilakukan berupa kebiasaan setiap hari antara orangtua dan satu anak di satu waktu. Jadi, saat waktu telah dialokasikan, anak yang menentukan hendak melakukan apa dan perhatian orangtua penuh untuk anak tanpa televisi dan gangguan gawai. Anak yang memimpin kegiatan, Anda mengikuti.

  • Berbeda dengan bermain biasa, saat Anda kadang turut campur tentang cara bermain atau apa yang perlu dimainkan anak. Tidak perlu lama, kok. Siapkan saja 10-20 menit, asalkan perhatian Anda penuh dan fokus ada bersama anak. Waktu khusus ini juga biasa disebut Child-Led Play. Jadi tugas Anda di situ hanya menemani dan mengobservasi si anak. Dengan memperhatikan permainannya, Anda juga jadi lebih bisa mengenal anak dengan lebih baik.

  • Advertisement
  • Pesan yang ditangkap anak saat Anda membiarkannya memimpin adalah: Saya tidak perlu menunjukkan atau perform sesuatu untuk mendapatkan perhatian orangtua. Ya, ia bisa menjadi dirinya sendiri, akan membuat perasaannya nyaman, dan merasa dicintai apa adanya. Sebab, kadang kita sebagai orangtua melakukan terlalu banyak intervensi, tekanan dan hal-hal lain yang membuat anak merasa terpaksa, tanpa kita sadari. Ia juga butuh waktu untuk dirinya sendiri lho.

  • Selain itu, Devi juga menekankan agar orangtua lebih banyak mendengarkan, ketimbang bertanya. Tanpa disadari, orangtua bisa mengajukan 25 pertanyaan pada anak, hanya dalam waktu 5 menit bermain. Bayangkan, jika kita diperlakukan demikian. Nyamankah? Maka, untuk menggali lebih dalam ceritanya, orangtua bisa melakukan refleksi (mengulang kembali kata-kata anak).

  • Sebagian besar orangtua yang melakukan ini rutin setiap hari, merasakan perubahan yang besar. Anak-anak mereka jadi lebih kooperatif, jarang bertengkar dengan saudara dan sebagainya. Tentu tidak mudah, apalagi bagi orangtua yang bekerja. Tapi cobalah, setelah tiga bulan melakukan kebiasaan ini, akan ada perubahan besar dalam hidup Anda. Rumah akan terasa lebih damai.

  • Waktu spesial setiap hari dengan waktu yang sedikit, hasilnya akan jauh lebih optimal dibandingkan Anda hanya melakukannya di akhir pekan, walaupun dengan waktu yang lebih lama. Selamat mencoba.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Mencegah tantrum pada anak

Mencegah tantrum? Memangnya bisa ya, tantrum dicegah? Bukankah tantrum memang pasti terjadi di beberapa tahapan usia? Memang, namun ternyata ada lho beberapa cara agar tantrum tidak sering terjadi. Apa sajakah itu?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr